INDOPOSCO.ID – Tren kenaikan harga pangan mulai mereda seiring dengan stabilnya harga cabai rawit di pasar nasional pada awal Mei 2026. Penguatan jalur distribusi dan melimpahnya stok dari daerah penghasil menjadi faktor utama yang menekan harga komoditas pedas tersebut ke level normal.
Merujuk pada pantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 12 Mei 2026, rerata harga cabai rawit merah nasional berada di kisaran Rp 63.252 per kilogram. Turun hampir setengahnya dari harga saat momen Lebaran Idulfitri yang sempat menembus Rp 120.000 per kilogram.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pergerakan harga cabai rawit mulai lebih terkendali setelah pasokan dari sejumlah sentra produksi kembali mengalir ke pasar. Distribusi yang lancar membuat tekanan harga yang sempat meningkat pada periode lebaran kini berangsur turun.
“Cabai rawit merah memang kalau hari hujan kemudian ada beberapa titik yang mengalami kena hama OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan) dan lain sebagainya itu agak sedikit mengganggu,” kata Ketut Astawa di Jakarta dikutip Kamis (14/5/2026).
Namun demikian, kondisi pasokan cabai rawit secara nasional masih relatif aman dan harga di tingkat konsumen telah mengalami penurunan signifikan dibandingkan masa puncak permintaan sebelumnya.
Perbaikan kondisi tersebut terlihat dari jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit yang kini turun menjadi 91 daerah pada minggu pertama Mei 2026, setelah sempat mencapai 127 daerah pada minggu ketiga April lalu.
“Tapi secara pasokan kami pantau relatif bagus, secara prinsip sudah turun banyak. Pada saat menjelang lebaran itu kan menjelang bulan puasa sampai lebaran itu harga cabai rawit merah itu sudah di posisi Rp 120.000-an di pasar. Sekarang sudah turun jauh,” klaimnya.
Ia menambahkan, penurunan harga cabai rawit tersebut turut memberikan dampak positif terhadap pengendalian inflasi pangan nasional.
“Artinya secara inflasi dia sudah turun banyak. Kemudian di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) memang oke, tapi secara harga relatif sudah sangat banyak turun,” imbuh Ketut. (dan)











