INDOPOSCO.ID — Peningkatan kualitas keluarga tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan ayah dalam ketahanan keluarga. Penguatan pengetahuan dan partisipasi ayah menjadi aspek penting dalam membentuk generasi yang berkualitas. Berangkat dari hal tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menyelenggarakan forum berbagi dan diskusi bersama Alumni Pendidikan S2/S3 Luar Negeri Kemendukbangga/BKKBN sebagai ruang pertukaran gagasan berbasis riset dan pengalaman akademik untuk memperkuat perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., dalam forum yang berlangsung di Kantor Kemendukbangga/BKKBN Pusat pada Selasa (12/11/2026). Menteri Wihaji menekankan pentingnya kebijakan yang dibangun melalui proses akademik yang kuat dan aplikatif. “Pekerjaan yang lahir dari ide dan gagasan. Dari dialektika panjang, dari riset yang kemudian kita akan kerjakan, dan tentu lebih pada terapan, tepat sasaran. ” Ungkapnya.
Dalam forum tersebut, Rosliana Karolina Manalu, S.Psi., M.Sc. memaparkan hasil review mengenai Keterlibatan ayah yang berbanding lurus secara positif terhadap sosio emosional perkembangan remaja. Ia menjelaskan bahwa kehadiran ayah dalam pengasuhan dapat menurunkan potensi perilaku problematik pada remaja, meningkatkan self-esteem, serta mendorong munculnya perilaku prososial yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
Temuan lainnya disampaikan oleh Dr. dr. Sheilla Virarisca, MPH. terkait program dukungan suami terhadap keberhasilan enam bulan ASI eksklusif. Dalam penelitiannya, para ayah diberikan intervensi edukasi mengenai dukungan bagi ibu menyusui, yang mencakup _emotional support, informational support, instrumental support, dan appraisal support_. Dukungan emosional diperlukan terutama ketika ibu mengalami kelelahan dalam proses menyusui, sementara dukungan informasi diberikan berbasis fakta dan bukan mitos. Adapun dukungan instrumental diwujudkan melalui bantuan nyata untuk ibu, serta dukungan apresiasi untuk meningkatkan motivasi ibu dalam memberikan ASI. Risetnya menunjukan terdapat peningkatan praktik ASI Eksklusif dari kelompok yang diberikan intervensi, peningkatan pengetahuan suami dan istri, juga dukungan suami terhadap praktik ASI Eksklusif selama enam bulan.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Dr. Dra. Dewi Susanna, M.Kes. menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih adaptif dalam membangun keterlibatan ayah di dalam keluarga. “Bapak terkadang hanya berpikir satu tugas, perlu dicari metode agar bapak bapak bisa lebih peka terhadap kondisi ibu” Ungkap Prof. Dewi. Menurutnya, strategi komunikasi dan edukasi yang tepat menjadi faktor penting agar peran ayah dapat lebih optimal dalam mendukung kesehatan dan kesejahteraan keluarga.
Melalui forum ini, Kemendukbangga/BKKBN berharap hasil riset, pengalaman akademik, dan praktik baik dari para alumni dapat menjadi rujukan dalam memperkuat kebijakan pembangunan keluarga berbasis bukti (evidence based policy) dan melahirkan berbagai inovasi program yang lebih responsif terhadap kebutuhan keluarga Indonesia. (ney)











