INDOPOSCO.ID – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjalankan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah sebagai upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Namun, ia mengingatkan agar perhatian terhadap kesehatan siswa tidak hanya berfokus pada aspek fisik, melainkan juga kesehatan mental peserta didik.
Hal itu disampaikan Hetifah menanggapi konferensi pers Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, terkait perkembangan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) bidang pendidikan dan kesehatan.
Menurut Hetifah, program pemeriksaan kesehatan di sekolah merupakan langkah positif karena mampu mendeteksi persoalan kesehatan anak lebih dini dan menjangkau siswa secara lebih merata.
“Program ini sangat baik karena menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kesehatan peserta didik. Anak yang sehat akan lebih siap belajar, berkembang, dan berprestasi,” ujar Hetifah dalam keterangannya, dikutip minggu (10/5/2026).
Berdasarkan data pemerintah hingga awal Mei 2026, Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau sekitar 4,8 juta siswa di lebih dari 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan sekitar 1,1 juta siswa mengalami masalah gigi berlubang dan sekitar 663 ribu siswa terindikasi mengalami tekanan darah tinggi.
Hetifah menilai temuan tersebut menjadi alarm penting bahwa kesehatan anak memiliki pengaruh besar terhadap proses belajar dan perkembangan mereka.
“Kita sering menganggap persoalan kesehatan anak sebagai hal kecil, padahal dampaknya bisa sangat besar terhadap konsentrasi belajar, rasa percaya diri, hingga kualitas perkembangan anak dalam jangka panjang,” katanya.
Meski mendukung penuh program tersebut, Hetifah menegaskan bahwa kesehatan mental siswa juga harus menjadi perhatian utama dalam kebijakan pendidikan nasional. Menurutnya, tekanan akademik, perundungan, persoalan keluarga, hingga tekanan sosial di era digital menjadi tantangan nyata yang dihadapi banyak pelajar saat ini.
“Selain kesehatan fisik, kita juga perlu memberi perhatian besar pada kesehatan mental anak-anak kita. Tekanan akademik, perundungan, kecemasan, masalah keluarga, hingga tekanan sosial di lingkungan digital hari ini menjadi tantangan nyata yang dihadapi banyak siswa,” jelasnya.
Ia mendorong agar sekolah tidak hanya menjadi tempat mengejar capaian akademik, tetapi juga ruang yang aman dan suportif bagi perkembangan emosional peserta didik. Karena itu, Hetifah mengusulkan agar program kesehatan sekolah ke depan turut memasukkan skrining kesehatan mental dan penguatan layanan konseling.
“Sekolah jangan hanya menjadi tempat mengejar capaian akademik, tetapi juga ruang yang mampu menjaga kesehatan emosional dan psikologis anak. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik,” tegasnya.
Selain itu, Hetifah juga meminta adanya penguatan kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, guru bimbingan konseling (BK), dan orang tua agar penanganan kesehatan siswa dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Menurutnya, pendidikan modern harus memandang peserta didik secara utuh, tidak hanya dari nilai akademik ataupun kondisi fisiknya semata.
“Kita ingin membangun generasi Indonesia yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara fisik, kuat secara mental, dan memiliki karakter yang baik,” pungkas Hetifah. (dil)











