INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mendesak, pemerintah untuk segera memperkuat sistem deteksi dini menyusul temuan kasus Hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, tercatat sedikitnya 23 kasus Hantavirus dengan tiga kematian dalam tiga tahun terakhir yang tersebar di sembilan provinsi.
“Walaupun jumlah kasusnya belum besar, tingkat fatalitas yang mencapai 13 persen tidak boleh dianggap ringan. Pemerintah harus bergerak cepat memperkuat deteksi dini, surveillance, dan edukasi kesehatan masyarakat,” ujar Netty dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan Hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus melalui urine, kotoran, air liur, atau debu yang terkontaminasi dan terhirup manusia.
Oleh karena itu, masyarakat diminta mengenali gejala awal penyakit tersebut. Menurutnya, gejala Hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, dan sesak napas.
“Karena gejalanya mirip penyakit umum lainnya, masyarakat sering terlambat menyadari. Padahal jika kondisi memburuk, Hantavirus dapat menyerang paru-paru maupun organ tubuh lainnya dan berisiko fatal,” ucap Netty.
Ia menegaskan Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang penularannya berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan dan paparan tikus yang terinfeksi.
Menurutnya, kondisi lingkungan padat penduduk, pengelolaan sampah yang buruk, serta sanitasi yang belum optimal dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit.
“Ini menjadi alarm penting bahwa kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kualitas lingkungan. Pencegahan harus dimulai dari pengendalian faktor risiko di masyarakat,” imbuhnya.
Adapun sembilan provinsi di Indonesia yang telah mendeteksi kasus Hantavirus dengan konsentrasi tertinggi di Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Rinciannya adalah: Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing enam kasus; Jawa Barat lima kasus; serta Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur masing-masing satu kasus.(dan)











