Camat Tambora, Disorot Pramono, Tambora Kumuh, 11 Kelurahan
INDOPOSCO.ID – Camat Tambora Pangestu Aji mengakui mayoritas wilayahnya masih masuk kategori permukiman kumuh. Tercatat, delapan dari 11 kelurahan di Tambora hingga kini masih tidak terawat.
“Adapun sebarannya meliputi Kelurahan Kalianyar, Duri Selatan, Tanah Sereal, Krendang, Jembatan Besi, Angke, Jembatan Lima, dan Pekojan. Jadi dari 11 kelurahan, ada 8 kelurahan se-Kecamatan Tambora yang masih kategori kumuh,” kata Pangestu kepada wartawan Kamis (7/5/2026).
Ia memaparkan bahwa kepadatan penduduk yang ekstrem serta minimnya infrastruktur dasar seperti sanitasi menjadi parameter utama sebuah wilayah di Tambora dikategorikan kumuh.
Ia juga menyoroti banyaknya warga yang belum memiliki septic tank sehingga masih membuang limbah rumah tangga langsung ke saluran penghubung (PHB).
Selain itu, terdapat kebiasaan warga di kawasan kumuh yang terpaksa berbagi ruang sempit secara bergantian untuk beristirahat karena kondisi satu bangunan rumah harus menampung banyak orang.
“Kita lihat dari habit-nya kan, dengan kondisi bangunan seadanya, satu rumah lah itu terdiri dari beberapa KK, dan tidurnya mungkin bisa sampai tiga shift, gantian-gantian, masih ada yang seperti itu,” tutur Pangestu.
Ia menambahkan bahwa beban ekonomi yang berat membuat warga di permukiman tersebut sulit memikirkan rencana jangka panjang, karena perhatian mereka sepenuhnya tersita hanya untuk bertahan hidup sehari-hari.
“Jadi mau mikirin untuk yang baik udah susah deh, yang penting untuk mikirin gimana hari ini, besok dan depannya tuh agak susah, hari ini gimana dulu nih, buat makan dan hidup aja susah, apalagi mikirin yang lain kan,” imbuh Pangestu.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sempat menyinggung penanganan RW kumuh di Jakarta akan diprioritaskan pada wilayah dengan kepadatan tinggi, terutama Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kawasan seperti Tambora menjadi salah satu perhatian karena memiliki kompleksitas permukiman tinggi dan membutuhkan intervensi yang terukur. (dan)











