INDOPOSCO.ID – Pemeriksa Fakta Profesional, Bentang Febrylian, mengimbau masyarakat untuk membangun kebiasaan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, di tengah derasnya arus informasi di era digital.
Hal tersebut disampaikannya dalam seminar Jakarta SOLID (Sadar Olah Literasi Digital) bertema “Hoaks, Disinformasi, dan Peran Publik di Era AI” yang digelar secara daring dan luring di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Bentang menekankan pentingnya prinsip “klik, cek, baru share” sebagai langkah sederhana namun efektif dalam mencegah penyebaran hoaks.
“Temanya hari ini adalah klik, cek, baru share, membangun budaya verifikasi informasi. Bagaimana cara kita menyikapi informasi yang ternyata tidak sesuai dengan data dan fakta,” ujar Bentang mengawali paparannya.
Ia menjelaskan, pola penyebaran informasi saat ini telah mengalami perubahan signifikan seiring perkembangan teknologi. Jika sebelumnya masyarakat mengandalkan media konvensional dan mesin pencari, kini informasi bisa diperoleh secara real-time melalui media sosial, bahkan langsung dari lokasi kejadian.
“Sekarang kita bisa mendapatkan informasi langsung dari live di media sosial. Bahkan dari warga yang berada di lokasi kejadian. Ini menunjukkan bahwa fenomena distribusi informasi sudah berubah,” katanya.
Bentang mencontohkan pengalaman pribadinya saat memperoleh informasi kecelakaan kereta di Bekasi Timur belum lama ini melalui siaran langsung di platform digital. Fenomena ini, menurutnya, memperkuat peran citizen journalism yang memungkinkan siapa pun menjadi sumber informasi.
Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga membuka peluang besar bagi penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
“Informasi masuk ke kita setiap hari sangat cepat, tapi belum tentu akurat. Tantangannya adalah banyak orang langsung membagikan tanpa melakukan cross-check,” ungkapnya.
Mengutip pandangan filsuf The Liang Gie, Bentang menjelaskan bahwa informasi seharusnya mengandung pengetahuan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang tepat dan berbasis fakta.
“Di akhir definisi disebutkan bahwa informasi harus berdasarkan fakta. Tapi di era digital sekarang, kecepatan sering kali mengalahkan akurasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bentang mengakui bahwa edukasi literasi digital, terutama di lingkungan terdekat seperti keluarga, bukan hal yang mudah. Ia bahkan kerap menghadapi penolakan saat memberikan pemahaman terkait hoaks.
“Sering dibilang ‘anak baru kemarin sore jangan sok tahu’. Tapi sejak 2017 saya terus melakukan edukasi sampai akhirnya mereka mulai memahami mana konten yang hoaks,” tutur Bentang.
Ia juga menjelaskan bahwa istilah hoaks sendiri berasal dari kata hocus, yang berarti mengelabui, dan memiliki kaitan dengan trik sulap.
“Hoaks itu seperti sulap, ada trik untuk mengelabui. Itulah mengapa kita harus lebih kritis dalam menerima informasi,” tegasnya.
Bentang menegaskan bahwa semakin beragamnya bentuk hoaks di Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan literasi digital dan tidak mudah terjebak pada informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Kita semua punya peran. Jangan sampai kita ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” tambahnya. (her)











