INDOPOSCO.ID – Transformasi digital yang berkembang pesat membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi global, publik dituntut tidak hanya mampu mengakses teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Jakarta Timur (Jaktim), Munjirin, dalam seminar Jakarta SOLID (Sadar Olah Literasi Digital) bertema “Hoaks, Disinformasi, dan Peran Publik di Era AI” yang digelar secara daring dan luring di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Dalam sambutannya, Munjirin mengungkapkan bahwa era digital saat ini merupakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, terutama bagi generasi yang tidak tumbuh bersama teknologi.
“Dari dulu belum pernah terbayangkan kami akan masuk di era digitalisasi seperti ini. Termasuk saya sendiri, sudah umur 55 tahun, dulu tidak terbayangkan ikut merasakan era digitalisasi seperti sekarang ini,” ujar Munjirin.
Ia menekankan bahwa digitalisasi membuka akses informasi tanpa batas, baik nasional maupun internasional, yang kini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
“Sekarang terbuka lebar lewat proses digitalisasi itu informasi tidak terbatas. Bahkan bukan hanya nasional, tapi internasional pun bisa kita lihat dengan mudah,” katanya.
Menurutnya, kemajuan teknologi juga membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pelaporan masyarakat. Ia mencontohkan peran ibu-ibu Dasawisma yang kini telah beralih dari pencatatan manual ke penggunaan aplikasi berbasis ponsel.
“Kalau dulu masih menulis satu-satu di kertas, sekarang laporan Dasawisma sudah pakai HP. Ini menunjukkan kita memang harus bisa mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.
Meski demikian, Munjirin mengingatkan bahwa di balik kemudahan tersebut, ancaman hoaks dan disinformasi juga semakin nyata dan berpotensi memengaruhi perilaku masyarakat.
“Perkembangan hoaks sekarang begitu mempengaruhi kehidupan kita. Bahkan orang yang tadinya lurus, bisa berubah karena terpengaruh informasi yang tidak benar,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat digital, terutama saat menyebarkan informasi atau memberikan komentar di media sosial.
“Sebelum kita klik atau sebelum kita kirim, kita harus pikir dulu. Kira-kira ini menanggung risiko atau tidak, baik di dunia maupun di akhirat,” ungkap Munjirin.
Dalam pesannya, Munjirin juga menekankan pentingnya kesadaran moral dan tanggung jawab, khususnya bagi masyarakat yang beragama, agar setiap tindakan di ruang digital tetap mempertimbangkan nilai-nilai etika dan keimanan.
“Apa yang kita lakukan pasti akan ada pertanggungjawabannya. Termasuk saat kita mengoperasikan IT (teknlogi informasi) ini, semua akan dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.
Mengakhiri sambutannya, Munjirin kembali mengingatkan pentingnya berpikir matang sebelum menyebarkan informasi, agar teknologi yang digunakan dapat membawa manfaat, bukan mudarat bagi masyarakat luas.
Dengan meningkatnya literasi digital dan kesadaran kolektif, diharapkan masyarakat mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab di tengah era digital yang terus berkembang. (her)











