INDOPOSCO.ID – Rupiah akhirnya mendapat ruang bernapas setelah beberapa hari tertekan oleh kuatnya dolar Amerika Serikat (AS). Angin segar itu datang bukan dari dalam negeri semata, melainkan dari pernyataan tak terduga Presiden AS, Donald Trump, yang membuka peluang damai dengan Iran.
Pada penutupan perdagangan Rabu (6/5/2026), mata uang Garuda menguat 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.387 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah masih berada di posisi Rp17.423 per dolar AS, menunjukkan betapa cepatnya perubahan arah pasar dalam merespons sentimen global.
Optimisme pasar dipicu oleh sinyal meredanya konflik di Timur Tengah. Trump menyampaikan adanya kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, bahkan mengindikasikan penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Langkah ini langsung mengubah peta sentimen global. Dolar AS yang sebelumnya menjadi aset lindung nilai mulai ditinggalkan, sementara investor kembali melirik aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan dolar menjadi katalis utama penguatan rupiah kali ini.
“Pasar melihat pernyataan Trump sebagai sinyal meredanya ketegangan geopolitik. Ini langsung menekan indeks dolar AS dan memberi ruang bagi mata uang emerging market untuk menguat,” ujar Ibrahim di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, pasar saat ini sangat sensitif terhadap isu geopolitik, terutama yang berkaitan dengan pasokan energi global.
“Selama risiko gangguan distribusi energi menurun, tekanan terhadap dolar ikut berkurang. Itu yang sekarang dimanfaatkan oleh rupiah,” jelasnya.
Meski demikian, situasi belum sepenuhnya stabil. Trump tetap menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran masih berlangsung, menandakan bahwa ketegangan belum benar-benar usai.
Dari dalam negeri, sentimen positif turut datang dari klaim pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I-2026.
Angka tersebut dinilai menjadi sinyal awal akselerasi ekonomi nasional, apalagi pemerintah disebut tengah menyiapkan stimulus tambahan untuk menjaga momentum pertumbuhan.
Ibrahim melihat kombinasi faktor global dan domestik ini cukup membantu menjaga kepercayaan pasar.
“Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci. Selama itu terjaga, rupiah masih punya peluang untuk stabil bahkan menguat,” tutup Ibrahim.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa euforia pasar bisa bersifat sementara. Sejumlah ekonom masih mempertanyakan validitas angka pertumbuhan yang diumumkan pemerintah.
Dengan kata lain, penguatan rupiah saat ini lebih mencerminkan respons cepat pasar terhadap sentimen global, bukan perubahan fundamental yang sepenuhnya mapan. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik dan konsistensi data ekonomi domestik. (her)











