INDOPOSCO.ID – Ketahanan pangan terutama pada komoditas kedelai masih mengalami ketergantungan pasokan dari luar negeri. Tantangan ini membutuhkan pendekatan kolaboratif berbasis riset dan inovasi, untuk meningkatkan produksi.
Per April 2026, program budidaya kedelai di Nganjuk telah dikembangkan hingga mencakup ribuan hektare lahan yang didampingi, melibatkan 70 kelompok tani di 18 desa binaan, serta dukungan benih mencapai lebih dari 100 ton.
Berdasarkan data lapangan, produktivitas varietas kedelai Grobogan diproyeksikan mencapai 1,5–2 ton per hektare, dengan estimasi total hasil panen mencapai lebih dari 3.000 ton dari keseluruhan lahan yang telah ditanami. Masa tanam yang relatif singkat, yaitu sekitar 75–80 hari, memungkinkan optimalisasi pola tanam berkelanjutan di wilayah tersebut.
“Pendekatan kolaboratif menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem ketahanan pangan nasional,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan dalam keterangan, Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan, bahwa keterlibatan perguruan tinggi tidak hanya sebatas akademik, tetapi juga memastikan proses produksi berbasis riset dan teknologi yang presisi.
“Kita punya tanggung jawab moral tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan kesejahteraan petani meningkat,” tegas Fauzan.
Dalam implementasinya, menurut Fauzan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berperan sebagai penghubung antara kapasitas riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata di lapangan. Termasuk dalam pengembangan varietas, pendampingan budidaya, hingga penguatan sistem hilirisasi.
“Kolaborasi ini tentu harus diperkuat dengan keterlibatan industri sebagai offtaker untuk menjamin kepastian pasar, serta dukungan alat pertanian untuk meningkatkan efisiensi produksi,” katanya.(nas)










