INDOPOSCO.ID – Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Boy Rafli Amar, mengingatkan bahwa ancaman intervensi asing terhadap Indonesia bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang nyata dan perlu diwaspadai secara serius.
Dalam perbincangannya di sebuah podcast, Boy Rafli menekankan bahwa tidak semua bentuk campur tangan asing bersifat buruk. Ia menyebut investasi sebagai contoh intervensi yang masih berada dalam koridor positif, selama tidak mengganggu kepentingan nasional.
Namun, situasi berubah ketika pihak luar mulai mencoba memengaruhi arah kebijakan dalam negeri.
“Kalau dia mendikte kita, agar kita nurut kepada hal-hal yang dia inginkan, tapi mengganggu kedaulatan negara kita, kepentingan negara kita, maka ini harus dijaga dengan baik,” ujar Boy Rafli dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official, dikutip pada Kamis (23/4/2026).
Ia menggambarkan Indonesia sebagai sosok yang begitu menarik di mata dunia, ibarat “gadis cantik” yang diperebutkan banyak pihak. Kekayaan budaya, ratusan bahasa, dan ribuan kelompok etnis menjadi kekuatan, tetapi di saat yang sama juga bisa menjadi celah jika tidak dikelola dengan baik.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh pihak asing untuk menciptakan instabilitas melalui berbagai operasi, termasuk yang bersifat intelijen.
“Kalau orang-orang yang inginkan Indonesia menjadi negara yang instabilitas, mereka bisa melakukan tindakan-tindakan itu,” jelasnya.
Boy Rafli juga mengingatkan agar Indonesia tidak mudah terbuai oleh sikap baik negara lain. Ia menilai, setiap kerja sama internasional harus dilihat secara kritis dan tidak boleh lepas dari perhitungan strategis.
“Ada apa di balik kebaikannya dia? Kalau kita tidak waspada, akhirnya dia akan ngatur kita nanti,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif, sebuah sikap yang juga kerap disuarakan Presiden Prabowo Subianto. Prinsip ini dinilai sebagai fondasi untuk tetap menjalin hubungan luas tanpa kehilangan kendali atas arah bangsa.
“Satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Tapi ketergantungan kita dengan negara asing itu, jangan sampai menisbikan kedaulatan negara kita,” tambahnya.
Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, pesan Boy Rafli menjadi pengingat bahwa keterbukaan harus selalu berjalan seiring dengan kewaspadaan agar Indonesia tetap berdiri tegak tanpa kehilangan jati dirinya.(her)










