INDOPOSCO.ID – Perubahan gaya komunikasi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mulai menarik perhatian. Bukan lagi sekadar tampil formal dan normatif, Gibran kini dinilai lebih cair, terukur, dan menyimpan pesan di balik setiap ucapannya.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio melihat ada pergeseran signifikan dalam cara Gibran merespons dinamika politik, termasuk saat menanggapi pernyataan Jusuf Kalla yang mengklaim peran dalam mengantarkan Joko Widodo menjadi presiden.
Alih-alih terpancing atau defensif, Gibran memilih pendekatan berbeda, ia justru melontarkan pujian.
“Oke lah sekarang mas Gibran ini mulai menemukan ritme komunikasinya sendiri, mulai tidak kaku, tapi enggak asal bicara juga, seperti ada pesan yang tersampaikan secara tersirat di balik setiap pernyataannya,” ujar Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, Jumat (24/4/2026).
Respons tersebut, menurut Hensa, bukan sekadar basa-basi. Ada kalkulasi yang rapi. Di satu sisi, Gibran tetap menjaga hubungan dengan tokoh senior yang punya pengaruh luas. Di sisi lain, ia menghindari jebakan debat yang bisa membuka kembali narasi lama soal sejarah politik keluarganya.
“Yang dilakukan Gibran itu cerdas secara komunikasi. Dia tidak membantah, tidak juga membenarkan sepenuhnya. Justru dengan memuji JK, dia keluar dari jebakan narasi itu dengan elegan,” kata founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Tak hanya itu, pola komunikasi serupa juga terlihat saat Gibran kerap menekankan pentingnya keberhasilan program Presiden Prabowo Subianto agar berdampak nyata bagi masyarakat.
Sekilas, sikap ini tampak sebagai bentuk loyalitas. Namun bagi Hensa, ada lapisan makna lain yang tak kalah penting.
“Ketika seorang wakil presiden terus-menerus memposisikan dirinya sebagai eksekutor setia agenda presiden, itu bisa dibaca sebagai konsolidasi citra. Gibran sedang membangun rekam jejaknya sendiri, pelan tapi konsisten, ini bisa jadi bagus juga tidak untuk Pak Prabowo,” jelasnya.
Transformasi ini juga mencerminkan proses pendewasaan politik. Sosok yang dulu kerap dianggap hanya menikmati “efek ekor jas”, kini mulai aktif membangun narasi sendiri—tanpa harus tampil konfrontatif.
“Gibran sekarang tidak lagi sekadar hadir di panggung politik, dia mulai mengisi panggung itu dengan caranya sendiri. Apakah ini akan terus berkembang atau justru berhenti di titik tertentu, itu yang menarik untuk kita pantau ke depan,” ungkap penulis buku Riah Riuh Komunikasi itu.
Menariknya, Gibran juga terlihat piawai menjaga keseimbangan antara dua kutub kekuatan politik, jaringan lama yang lekat dengan era Jokowi dan poros baru di bawah kepemimpinan Prabowo.
Pujian kepada JK dibaca sebagai upaya merawat relasi lama, sementara konsistensinya menggaungkan agenda presiden menjadi sinyal penguatan posisi di lingkar kekuasaan saat ini.
“Ini bukan komunikasi yang polos. Ada strategi di baliknya. Dan kalau polanya konsisten, kita akan mulai melihat Gibran bukan hanya sebagai wakil presiden, tapi sebagai aktor politik yang mulai berbicara dengan suaranya sendiri,” tambahnya. (her)










