INDOPOSCO.ID – Dinamika politik nasional kembali memanas. Sorotan kini tertuju pada Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) yang disebut merasa tersinggung oleh serangan sejumlah relawan pendukung Joko Widodo (Jokowi) atau yang kerap dijuluki “termul”.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio menilai situasi tersebut sebenarnya masih dalam batas kewajaran, namun berpotensi melebar jika tidak segera diredam.
Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, polemik yang berkembang tidak berdiri sendiri. Ia menyinggung isu yang lebih besar, yakni soal ijazah Jokowi yang hingga kini masih menjadi perbincangan publik.
“Concern Pak JK tentang ijazah Pak Jokowi ini memang concern umum seluruh rakyat Indonesia. Kenapa begitu lama dan bertele-tele? Padahal ada contoh seperti Hakim MK Arsul Sani yang langsung menunjukkan ijazahnya dan selesai,” ujar Hensa melalui gawai, Senin (20/4/2026).
Ia menilai, dalam konteks tokoh besar seperti Jokowi, pendekatan biasa tidak cukup untuk menjawab keraguan publik yang terus berkembang.
“Kalau Pak Jokowi bukan presiden ketujuh dan bukan tokoh bangsa, mungkin argumen itu bisa diterima. Tapi justru karena statusnya, dibutuhkan langkah yang tidak biasa untuk dipertontonkan kepada publik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Hensa menekankan bahwa penyelesaian polemik ini sejatinya bisa dilakukan secara sederhana jika pihak yang berwenang dilibatkan secara langsung. Ia menyebut Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kunci utama.
“Standpoint saya sejak awal adalah UGM. Kalau UGM mengatakan Jokowi kuliah dan lulus, maka selesai buat saya. Maka justru UGM harus dilibatkan dalam proses pembuktian ini,” tegas Hensa.
Di tengah situasi yang mulai memanas, Hensa juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi politik, terutama terhadap figur senior seperti Jusuf Kalla. Ia pun mengajak para relawan untuk menurunkan tensi dan mengedepankan dialog sebagai solusi.
“Termul atau relawan Jokowi yang menyerang Pak JK bisa menggunakan teknologi paling canggih yang diwariskan para pendiri bangsa, namanya musyawarah. Ketemu Pak JK dan kembali menjadi satu kesatuan bangsa yang bersinergi positif,” tambahnya.
Di tengah riuhnya perdebatan di ruang publik, pesan Hensa terasa sederhana namun relevan: konflik boleh terjadi, tetapi persatuan tetap harus dijaga. (her)










