INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya penguatan sistem pendidikan inklusif melalui empat pilar utama.
Hal tersebut disampaikan Mu’ti dalam peluncuran Program Pelatihan Pendidikan Inklusif Tahun 2026 di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Jakarta, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, pendidikan inklusif tidak hanya menyasar anak berkebutuhan khusus secara fisik maupun mental, tetapi juga mencakup aspek ekonomi dan sosial-keagamaan.
“Sekolah harus menjadi meeting point dan melting point, tempat anak-anak Indonesia bertemu, berinteraksi, dan tumbuh bersama,” ujar Mu’ti.
Ia memaparkan, pilar pertama adalah inklusi intelektual, yang menekankan pentingnya pendampingan bagi anak-anak dengan kemampuan belajar berbeda, termasuk slow learners.
“Pilar kedua adalah inklusi fisik, yakni penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang ramah bagi peserta didik dengan keterbatasan fisik,” jelas Mu’ti.
“Selanjutnya, inklusi ekonomi menjadi pilar ketiga, yang bertujuan membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak dari keluarga kurang mampu melalui jalur afirmasi dalam sistem penerimaan murid baru,” lanjutnya.
Adapun pilar keempat adalah inklusi sosial-keagamaan, yang menempatkan sekolah sebagai ruang untuk mengelola keberagaman secara positif.
“Keragaman adalah kekayaan. Kita ingin anak-anak tidak hanya menghormati perbedaan, tetapi juga menerima dan memfasilitasi satu sama lain untuk berkembang,” ungkapnya.
Mu’ti menilai, implementasi keempat pilar tersebut membutuhkan komitmen lintas sektor, termasuk penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berjenjang.
Program pelatihan pendidikan inklusif 2026 yang diluncurkan ini, kata dia, menjadi langkah strategis untuk menjawab kekurangan tenaga pendidik pendamping bagi anak berkebutuhan khusus.
“Program ini bisa menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan guru pendamping, sehingga semua anak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu,” tutupnya. (her)










