INDOPOSCO.ID – Kementerian Agama (Kemenag) melakukan standarisasi kosa isyarat keislaman. Tujuannya, untuk memudahkan para penyandang disabilitas dalam menerima pesan keislaman.
“Program ini (kosa isyarat keislaman, red) melanjutkan pembuatan Mushaf Al-Qur’an Isyarat pada 2020 hingga 2022,” ujar Direktur Penerangan Agama Islam (Penais), Kemenag Muchlis M kepada indoposco.id, Kamis (11/6/2026).
Ia menyebut, pembuatan standar kosa isyarat keislaman tersebut meliputi 4 bidang prioritas. Di antaranya bidang akidah, bidang ibadah, bidang muamalah dan bidang akhlak.
“Kalau tidak standar akan sulit mereka (para penyandang disabilitas,red) bisa memahami apa itu neraka, surga. Apa itu ruku, sujud. Apa itu zakat dan ijab, qobul, wali hingga ridho,” terangnya.
Langkah selanjutnya, dikatakan dia, Kemenag akan melakukan bimbingan teknis (Bimtek) dan pelatihan kepada juru bahasa isyarat. “Kalau kosa isyarat keislaman sudah kita standarkan, maka kita akan melaksanakan bimtek dan pelatihan,” katanya.
Ia menambahkan, standarisasi isyarat keislaman ini agar para penyandang disabilitas dapat menerima pesan keislaman moderat. “Kalau untuk jumlah kosa isyarat keislaman ini tentu kita akan prioritaskan 4 bidang tadi. Dan tentu sebanyak-banyaknya,” ungkapnya.
Diketahui, program standarisasi kosa isyarat keislaman merupakan satu dari 16 program Peaceful Muharam 1448 H yang diluncurkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam), Kementerian Agama. 16 program Peaceful Muharam 1448 H yang dirancang untuk memperkuat kemaslahatan umat melalui pendekatan spiritual, sosial, kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Peluncuran program dilakukan dalam kegiatan Bimas Islam Talks: Peaceful Muharam 1448 H – Public Expose Kolaborasi Lembaga Filantropi Islam di Aula Utama Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengungkapkan, Peaceful Muharam tidak hanya disiapkan sebagai agenda seremonial, tetapi sebagai gerakan bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Peaceful Muharam harus menjadi ruang untuk menebar maslahat dan menguatkan umat. Karena itu, seluruh program yang disiapkan diarahkan agar memberikan dampak sosial yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Abu.
Menurutnya, tema Menebar Maslahat, Menguatkan Umat dipilih untuk menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan perlu diwujudkan dalam aksi nyata yang menghadirkan kedamaian, kepedulian, dan pemberdayaan. Karena itu, berbagai kegiatan dirancang menyasar beragam kelompok masyarakat, mulai dari generasi muda, keluarga, penyandang disabilitas, hingga komunitas masjid.
Abu menjelaskan, sebanyak 16 program telah disiapkan dalam rangkaian Peaceful Muharam 1448 H. Program tersebut meliputi Bimas Islam Talks, Peringatan Tahun Baru Islam, Muharaman Bersama Gen Z, 100.000 Khataman Al-Qur’an dan Doa Bersama untuk Bangsa, CFD Peaceful Muharam, Lebaran Yatim dan Disabilitas, Nikah Fest dan Islamic Wedding Expo, CFD SIGAP Mas.
Lalu program Festival Muharam Internasional, Indonesia Berkiblat, MILFEST 1448 H, RECONNECT, Gerakan Bersih-Bersih Masjid, dan Gerakan Nasional Hijrah dari Israf dan Tabdzir. Selain itu, Bimas Islam juga menggelar kegiatan Halal Goes to Campus dan kolaborasi dalam penyelenggaraan Halal Brands and Food Expo.
Ia mengatakan, seluruh program tersebut disusun untuk membangun masyarakat yang damai, peduli, dan berdaya, sekaligus memperkuat peran agama dalam menjawab berbagai persoalan sosial.
“Agama harus hadir dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk ritual, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap persoalan kemanusiaan, lingkungan, keluarga, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat,” katanya. (nas)










