INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mengapresiasi hadirnya Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) by Paragon sebagai ruang inovasi. GIK UGM juga berhasil menjembatani riset mahasiswa dengan industri melalui program Collab Day dan fasilitas 3D Printing. Wamen Ekraf menyampaikan, ketersediaan ruang kerja gratis bagi mahasiswa dan masyarakat menjadikan GIK sebagai wadah kolaborasi bagi pengembang industri kreatif.
“Saya rasa GIK bisa menjadi center of Indonesia tempat lintas subsektor melebur dalam semangat gotong royong, sehingga CollabHub mampu melahirkan inovator muda yang terbiasa dengan standar profesional sejak kuliah. Kolaborasi ini memperkuat kesiapan kerja serta inkubasi bisnis di kampus, sekaligus memastikan setiap inspirasi di Jogja menjadi solusi nyata bagi industri kreatif,” ujar Wamen Ekraf saat kunjungan kerja ke GIK UGM, Jogjakarta, Kamis, (16/4/2026).
Melanjutkan pembahasan sebelumnya pada 4 Juli 2025, Wamen Ekraf bersama Direksi GIK UGM sepakat memperkuat sinergi untuk mendorong komersialisasi Intellectual Property (IP) lokal melalui inovasi digital. Fokus utama kolaborasi ini diarahkan pada pengoptimalan berbagai agenda tahunan GIK, khususnya Jakal Design Week yang akan diselenggarakan pada 21 Agustus – 5 September sebagai wadah strategis bagi kreator lokal, guna membangun ekosistem kreatif yang berdaya saing global.
“Kita harus mentransformasi seluruh pegiat seni menjadi pusat eksekusi kekayaan intelektual yang berorientasi pada nilai komersial nyata, bukan sekadar pemenuhan administrasi pendaftaran. Melalui penguatan literasi dan komersialisasi IP geografis, kita akan mendorong produk kreatif lokal untuk menembus pasar internasional dengan perlindungan hukum yang kuat serta daya jual yang tinggi,” jelas Wamen Ekraf.
Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, menyambut baik kehadiran pemerintah melalui Kementerian Ekraf. Pertemuan ini diharapkan mampu menyelaraskan setiap langkah operasional GIK agar tetap sejalan dengan arah pengembangan ekonomi kreatif nasional.
“Kami berharap dukungan ini tidak berhenti pada seremonial saja, melainkan memberikan arahan konkret agar kolaborasi kita benar-benar menyentuh aspek lintas sektoral. Mengingat Jogja kaya akan talenta namun terbatas secara finansial lokal, kami fokus pada keberlanjutan inkubasi konten di Jakal sebagai model ekosistem kreatif yang dapat diduplikasi di mana saja,” ujarnya.
Hadirnya GIK diharapkan menjadi oase sekaligus simpul pengikat bagi seluruh pelaku kreatif lintas subsektor untuk bersatu dalam satu wadah yang inklusif. Melalui ruang ini, para pejuang kreatif tidak hanya sekadar melahirkan ide, tetapi juga mewujudkan solusi nyata bagi berbagai tantangan kehidupan di tingkat nasional hingga kancah global. (ney)










