INDOPOSCO.ID – Nama Megawati Soekarnoputri kembali masuk dalam radar spekulasi politik menuju Pilpres 2029. Di tengah sorotan terhadap figur lain seperti Pramono Anung atau Puan Maharani, analis komunikasi politik Hendri Satrio justru melihat peluang mengejutkan jika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kembali mengusung ketua umumnya itu.
Menurut Hensa -sapaan Hendri Satrio-, langkah tersebut bisa menjadi kejutan politik yang signifikan.
“Akan jadi mengejutkan bila nanti tiba-tiba PDI Perjuangan mencalonkan Megawati Soekarnoputri, mungkin saja ia dicalonkan karena faktor perhelatan panggung terakhir Megawati,” kata Hensa melalui gawai, Selasa (17/2/2026).
Ia menilai Megawati bukan sekadar simbol partai, tetapi figur yang masih memiliki magnet politik kuat, terutama di basis akar rumput PDI Perjuangan.
Dosen Universitas Paramadina itu juga menekankan bahwa pencalonan Megawati bisa memberi keuntungan strategis bagi PDIP dalam pemilu legislatif.
“Karena Prabowo akhirnya juga punya lawan, dan selama ini hubungan mereka juga baik walaupun terkesan Megawati oposisi, tapi coattail effect buat PDI Perjuangannya itu besar banget,” ucapnya.
Hensa menjelaskan, loyalitas kader dan simpatisan terhadap Megawati masih sulit ditandingi figur lain.
“Kalau buat simpatisan, kader, pendukung PDI Perjuangan, Megawati ini gede banget dukungannya. Jadi kalau dia maju pasti coattail effect PDI Perjuangannya juga naik,” kata Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Namun, ia realistis soal peluang kemenangan jika Megawati harus berhadapan dengan Presiden Prabowo Subianto sebagai petahana.
“Memang kalau lawan Pak Prabowo ini, memang sulit dikalahkan karena dia petahana dan sejauh ini belum ada petahana yang kalah dalam Pemilu kita sejak 2004,” ungkap Hensa.
Meski begitu, efek elektoral bagi PDIP dinilai tetap krusial. “Tapi untuk coattail effect PDI Perjuangan, harus Megawati Soekarnoputri. Karena kalau enggak Bu Mega, ini bisa jadi kalah sama Gerindra nanti, putus rekor mereka di Pileg yang sudah hattrick,” tegasnya.
Hensa juga memperkirakan persaingan di pemilu legislatif akan semakin ketat, dengan Gerindra berpotensi meningkatkan perolehan suara secara agresif.
“Saya menduga Gerindra akan genjot kencang pileg ini, angka sekitar 35 persen di 2029 itu menurut saya enggak mustahil buat ditembus oleh Gerindra,” tuturnya.
Karena itu, PDIP dinilai perlu mengeluarkan figur paling kuat untuk menjaga posisi dominan. “Maka supaya tetap berada di tataran elit, PDI Perjuangan harus mengeluarkan kartu truf yaitu Megawati Soekarnoputri,” ujarnya.
Dari sisi internal, Hensa melihat pencalonan figur lain bisa membuka potensi intrik suksesi kepemimpinan di tubuh PDIP.
“Kalau misalnya yang lain, misalnya Mas Pram, Mbak Puan, atau Mas Ganjar, itu selain intrik-intrik PDI Perjuangan karena dia berpeluang menggantikan Ibu sebagai Ketua Umum, belum tentu sesolid kalau Megawati yang maju,” terang Hensa.
Menurutnya, justru pencalonan Megawati bisa menjadi jalan transisi kepemimpinan yang lebih mulus setelah 2029.
“Karena mungkin setelah itu dia mau pensiun sebagai Ketua Umum, maka kemudian PDI Perjuangan bisa jadi akan mengajukan Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden di 2029, dan enggak rugi juga buat PDI Perjuangan,” tambahnya. (her)










