INDOPOSCO.ID – Akhir pekan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, biasanya diwarnai lalu lalang anak muda, pemburu kuliner, hingga kolektor barang lawas. Namun pada Minggu (19/4/2026) lalu, ada pemandangan yang sedikit berbeda, seorang pejabat negara tampak larut di antara tumpukan buku bekas, tanpa sekat, tanpa protokoler berlebihan.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya terlihat menikmati waktunya dengan cara yang sederhana: memilah buku-buku lama di lapak kaki lima. Momen itu kemudian dibagikan melalui akun Instagram resmi @teddy_hq, menampilkan sisi lain dari seorang pejabat tinggi, lebih personal, lebih membumi.
Alih-alih pidato atau pernyataan formal, aktivitas tersebut justru memunculkan diskusi baru tentang bagaimana pejabat publik berkomunikasi dengan masyarakat.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio melihat pendekatan semacam ini sebagai langkah yang cukup efektif. Menurutnya, pesan yang disampaikan terasa lebih organik dan tidak dipaksakan.
“Ya oke lah, ini lebih baik dari biasanya. Tidak ada klaim macam-macam, tidak ada kalimat politis yang ditempel-tempel, cuma pergi beli buku di akhir pekan seperti orang kebanyakan. Kalau pola seperti ini yang terus dijalankan, ya saya kira publik juga lama-lama akan merasakan bedanya,” kata Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, dikutip Rabu (22/4/2026).
Bagi Hensa, apa yang kerap disebut sebagai “pencitraan” tidak selalu harus dipandang negatif. Ia menilai, membangun persepsi publik yang baik justru merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas seorang pejabat.
“Saya selalu bilang, pencitraan positif itu bagian dari kerjaan pejabat publik, bukan sesuatu yang perlu ditutup-tutupi. Yang bikin runyam itu kalau pencitraannya untuk kepentingan pribadi, bukan institusi. Dua hal itu kelihatannya mirip, tapi bedanya cukup jelas kalau mau jujur melihatnya,” jelasnya.
Dalam unggahan tersebut, tidak ada narasi besar yang dipaksakan. Tidak ada pesan politis yang disisipkan secara eksplisit. Hanya seorang pejabat yang menjalani hobinya, mencari buku seperti banyak orang lain lakukan di akhir pekan.
Justru kesederhanaan itulah yang dinilai mampu menjembatani jarak antara pemerintah dan masyarakat. Sebuah pendekatan yang tidak bising, namun terasa.
Meski demikian, Hensa mengingatkan bahwa satu momen tidak cukup untuk membentuk persepsi jangka panjang. Konsistensi menjadi faktor penentu apakah pola komunikasi seperti ini benar-benar akan berdampak.
“Saya tidak mau terlalu cepat bilang ini bagus. Tapi kalau pola seperti ini konsisten dijalankan, bukan cuma sekali lalu hilang, ya kepercayaan publik itu akan terbentuk sendiri. Buktikan saja dulu,” tambahnya. (her)










