INDOPOSCO.ID – Dinamika politik di sekitar pemerintahan Prabowo Subianto dinilai tidak sesederhana yang tampak di permukaan. Di balik stabilitas yang terlihat, tersimpan potensi tekanan yang justru datang dari lingkaran terdekat.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio melihat Presiden menyadari adanya kelompok yang menginginkan dirinya tidak menyelesaikan masa jabatan. Sinyal itu, menurutnya, bukan tanpa jejak.
Pernyataan-pernyataan publik Prabowo yang berulang kali menyinggung kontestasi 2029 dinilai sebagai bentuk respons halus terhadap tekanan tersebut.
“Dia memahami bahwa ada keinginan sebagian kecil masyarakat yang ingin dia turun. Makanya dia beberapa kali bilang, ‘kalau enggak suka sama saya, nanti 2029 kita tarung’,” ujar Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, Kamis (16/4/2026).
Namun menariknya, ancaman yang dianggap paling nyata justru bukan berasal dari oposisi di luar pemerintahan. Hensa menilai potensi itu justru tersembunyi di dalam barisan koalisi sendiri, yang saat ini tampak solid.
Dengan analogi yang sederhana namun tajam, ia menggambarkan situasi tersebut seperti air yang tenang, tetapi menyimpan arus di bawahnya.
“Koalisinya terlalu tenang. Kelihatannya selalu ‘hidup Prabowo, hidup Prabowo’, tapi hati-hati, sekali ada hal yang tidak berjalan baik, mungkin mereka akan menyalip di tikungan,” katanya.
Di tengah spekulasi yang beredar, nama Gibran Rakabuming Raka ikut terseret sebagai pihak yang disebut-sebut berada di balik tekanan. Namun, Hensa menilai narasi tersebut tidak hanya lemah, tetapi juga berpotensi menyesatkan.
“Kasihan Gibrannya juga. Akhirnya semua orang mikir, ini pasti yang mau Prabowo jatuh itu Gibran. Padahal Gibrannya juga masih santai-santai saja,” ungkap Hensa.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa ujian sebenarnya bagi Prabowo tidak hanya datang dari politik elite, tetapi juga dari implementasi program prioritas pemerintah. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih dinilai menjadi titik krusial.
Jika pelaksanaannya menemui hambatan atau menimbulkan ketidakpuasan publik, dampaknya bisa perlahan menggerus legitimasi politik Presiden.
“Hal-hal yang terkait program flagship Prabowo, kalau akhirnya bermasalah di masyarakat, itu perlahan-lahan akan menyelesaikan Prabowo juga,” tambah founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Di tengah situasi ini, stabilitas yang tampak solid bisa saja berubah cepat. Dalam politik, yang terlihat tenang belum tentu benar-benar aman. (her)










