INDOPOSCO.ID – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, menegaskan pentingnya perluasan agenda swasembada pangan nasional. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya fokus pada beras dan jagung, tetapi juga harus serius mengejar kemandirian komoditas strategis lain seperti gula, kedelai, bawang putih, hingga garam.
“Saya mendorong swasembada gula, bawang putih, sampai kedelai,” ujar politisi yang akrab disapa Titiek Soeharto, Senin (9/2/2026).
Titiek menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan masih terlalu tinggi. Karena itu, penguatan produksi dalam negeri harus menjadi prioritas agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan dari hasil pertanian nasional.
Ia mencontohkan komoditas kedelai yang selama ini menjadi bahan baku utama pangan rakyat seperti tempe dan tahu, namun sebagian besar masih bergantung pada impor. Menurutnya, pengurangan impor harus dimulai dari peningkatan penanaman kedelai di dalam negeri.
Indonesia sendiri telah mencatat capaian penting dengan meraih swasembada beras pada 2025, yang diumumkan langsung Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, pada 7 Januari lalu. Keberhasilan tersebut, kata Titiek, harus menjadi modal untuk mendorong swasembada komoditas pangan lainnya.
Ia juga menegaskan kegagalan dalam budi daya kedelai di masa lalu tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Justru, pengalaman tersebut harus dijadikan pelajaran untuk terus memperbaiki pola tanam dan pendampingan petani.
“Kalau pernah gagal, jangan berhenti. Harus diulang lagi. Kita punya banyak akademisi dari universitas yang bisa menemukan solusi. Enggak perlu bibit impor, pakai bibit lokal saja karena sudah sesuai iklim Indonesia,” tegasnya.
Titiek menyebut sejumlah perguruan tinggi telah menghasilkan bibit kedelai unggul lokal yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di berbagai daerah. Ia menilai riset dan inovasi menjadi kunci untuk menjawab tantangan produksi pangan nasional secara bertahap dan berkelanjutan.
Terkait target waktu, Titiek berharap swasembada komoditas selain beras dapat diwujudkan secepat mungkin, terutama untuk bawang putih dan kedelai yang tingkat impornya masih sangat tinggi.
“Impornya kebanyakan, yang menikmati impor juga sudah kebanyakan. Sekarang saatnya kita benar-benar kerja untuk rakyat,” pungkasnya. (dil)










