• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Ketika Kenaikan UKT Menggerus Akses Pendidikan Tinggi: Tinjauan Komunikasi Persuasi dan Negosiasi Kebijakan Perguruan Tinggi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 16 Januari 2026 - 12:44
in Nasional
Medila-Sisca-Arimi
Share on FacebookShare on Twitter

oleh Medila Sisca Arimi, Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Pendahuluan : Kebijakan, Risiko, dan Ketegangan Kepentingan

BacaJuga:

Yakin Pengoperasian Kapal JHUB Tak Ganggu Nelayan Lokal? Ini Penjelasan KKP

Mendikdasmen: Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Kutukan, Wajib Dapat Pendidikan

Layanan Kesehatan Dioptimalkan, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan ke Tanah Suci

INDOPOSCO.ID – Uang Kuliah Tunggal (UKT) diperkenalkan sebagai instrumen reformasi pembiayaan pendidikan tinggi untuk mewujudkan sistem yang lebih adil, transparan, dan berkeadilan sosial. Melalui skema UKT. Mahasiswa diharapkan membnayar biaya pendidikan sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga, sementara negara menutup sebagian biaya melalui subsidi. Namun, dalam praktik implementasinya, terutama ketika terjadi penyesuaian atau kenaikan UKT, kebijakan ini justru memunculkan ketegangan kepentingan antara negara, perguruan tinggi, dan mahasiswa.

Kenaikan UKT sering dipersepsikan sebagai beban ekonomi yang mengancam keberlanjutan studi mahasiswa, sementara perguruan tinggi menghadapi tekanan pembiayaan operasional dan tuntutan peningkatan mutu. Ketegangan ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan tinggi bukan sekadar persoalan fiskal, tetapi juga persoalan komunikasi persuasif dan negosiasi kebijakan

UKT dan Realitas Risiko Ekonomi Mahasiswa

Mahasiswa dan keluarga berada dalam posisi ekonomi yang rentan terhadap fluktuasi pendapatan, inflasi, dan krisis ekonomi. Pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang dengan hasil yang tidak dapat dipastikan secara langsung. Dalam konteks ini, kenaikan UKT menggeser risiko pembiayaan dari negara ke individu, terutama bagi mahasiswa dari keluarga kelas menengah bawah yang tidak sepenuhnya terakomodasi oleh skema bantuan.

Dalam perspektif komunikasi kebijakan, pesan simbolik yang muncul adalah bahwa negara memprioritaskan keberlanjutan fiskal institusi dibanding kepastian akses pendidikan. Ketika narasi kebijakan tidak secara eksplisit mengakui kerentanan ekonomi mahasiswa, kebijakan cenderung dipersepsikan sebagai tidak empatik dan kurang adil.

Potensi Kualitas Pendidikan vs Realisasi Akses

Pemerintah dan perguruan tinggi kerap mengaitkan penyesuaian UKT dengan kebutuhan peningkatan mutu pendidikan, fasilitas, dan daya saing global. Secara normatif, peningkatan kualitas pendidikan tinggi merupakan tujuan yang sah dan strategis. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan bahwa peningkatan biaya tidak selalu diiringi peningkatan kualitas layanan yang dirasakan mahasiswa secara langsung.

Kesenjangan antara potensi kualitas yang dijanjikan dan realisasi manfaat yang dirasakan inilah yang memicu resistensi. Mahasiswa mempertanyakan dasar perhitungan UKT, transparansi penggunaan dana, serta relevansi antara biaya yang dibayarkan dan kualitas pendidikan yang diterima.

Implementasi UKT dan Problem Operasional

Secara normatif, UKT dirancang dengan sistem kelompok kemampuan ekonomi, disertai mekanisme banding dan penyesuaian. Namun, dalam praktiknya, proses penetapan UKT sering dinilai tidak transparan, kurang responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi keluarga, serta tidak selalu disertai mekanisme pengaduan yang efektif.

Selain itu, perbedaan kebijakan antar perguruan tinggi, khususnya antara PTN-BH dan PTN non-BH, menimbulkan ketimpangan akses dan beban biaya. Ketidaksinkronan antara desain kebijakan nasional dan praktik institusional ini memperlemah daya persuasi kebijakan secara keseluruhan.

Analisis Komunikasi Persuasif dan Negosiasi Kebijakan

Dari perspektif komunikasi persuasif, kebijakan UKT menghadapi persoalan framing. Pemerintah dan perguruan tinggi membingkai UKT sebagai instrumen keadilan sosial dan keberlanjutan institusi, sementara mahasiswa membingkainya sebagai beban ekonomi dan ancaman terhadap hak atas Pendidikan.

Asimetri framing ini menciptakan jarak persepsi yang menghambat dialog konstruktif. Dalam konteks negosiasi, ruang partisipasi mahasiswa dalam perumusan dan evaluasi kebijakan UKT masih terbatas. Negosiasi cenderung bersifat administratif, bukan deliberatif, sehingga kebijakan dipersepsikan sebagai produk top–down, bukan hasil kesepakatan Bersama.

Rekomendasi Negosiasi Kebijakan

Pertama, pemerintah dan perguruan tinggi perlu memperkuat transparansi dalam penetapan dan penggunaan UKT, termasuk membuka metodologi perhitungan biaya pendidikan kepada publik.

Kedua, mekanisme penyesuaian UKT harus lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi mahasiswa, termasuk akibat krisis ekonomi, bencana, atau faktor sosial lainnya.

Ketiga, forum dialog reguler antara mahasiswa, pimpinan perguruan tinggi, dan pemerintah perlu dilembagakan agar evaluasi kebijakan berbasis pengalaman nyata mahasiswa.

Keempat, skema bantuan keuangan, beasiswa, dan subsidi silang perlu diperluas dan dipastikan tepat sasaran agar kenaikan biaya tidak menghambat akses pendidikan tinggi bagi kelompok rentan.

Penutup

Keberlanjutan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh stabilitas fiskal institusi, tetapi juga oleh kepercayaan mahasiswa dan masyarakat terhadap keadilan kebijakan. Tanpa komunikasi persuasif yang empatik dan negosiasi kebijakan yang setara, kebijakan UKT berisiko kehilangan legitimasi sosial. Harmonisasi kepentingan negara, perguruan tinggi, dan mahasiswa hanya dapat dicapai melalui desain kebijakan yang adil, transparan, dan berbasis realitas ekonomi mahasiswa.*

Tags: Medila Sisca ArimiPersuasi dan Negosiasiuang kuliah tunggalumjUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Berita Terkait.

jhub
Nasional

Yakin Pengoperasian Kapal JHUB Tak Ganggu Nelayan Lokal? Ini Penjelasan KKP

Minggu, 26 April 2026 - 09:07
ABK
Nasional

Mendikdasmen: Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Kutukan, Wajib Dapat Pendidikan

Sabtu, 25 April 2026 - 22:01
Jemaah-Haji
Nasional

Layanan Kesehatan Dioptimalkan, 15.349 Jemaah Telah Diberangkatkan ke Tanah Suci

Sabtu, 25 April 2026 - 21:00
KPK
Nasional

Benahi Parpol, KPK Serahkan Kajian ke Prabowo-DPR

Sabtu, 25 April 2026 - 20:09
Menkop
Nasional

Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih di NTT akan Menjadi Ekosistem Baru Ekonomi

Sabtu, 25 April 2026 - 17:26
Mendikdasmen
Nasional

Berkaitan 7 KAIH, Mendikdasmen Tegaskan Anggaran MBG Tak Bersumber dari Pendidikan

Sabtu, 25 April 2026 - 17:06

BERITA POPULER

  • pemain-Semen-Padang

    Semen Padang vs Persijap: Krisis Pemain, Kedalaman Skuad Kabau Sirah Diuji

    1350 shares
    Share 540 Tweet 338
  • Ragam Busana Adat Daerah Warnai Kemeriahan Peringatan Hari Kartini 2026 di Permatahati

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Isu Lengser hingga Gibran Diseret, Pengamat Buka Peta Ancaman Prabowo

    911 shares
    Share 364 Tweet 228
  • House of Representatives Urges Non-Subsidized Fuel Price Hike Not to Burden Public

    694 shares
    Share 278 Tweet 174
  • Tragedi Kebakaran Tanjung Duren, DPRD Sebut Bukti Kegagalan Pemprov Jakarta

    690 shares
    Share 276 Tweet 173
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.