• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Ketika Kenaikan UKT Menggerus Akses Pendidikan Tinggi: Tinjauan Komunikasi Persuasi dan Negosiasi Kebijakan Perguruan Tinggi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 16 Januari 2026 - 12:44
in Nasional
Medila-Sisca-Arimi
Share on FacebookShare on Twitter

oleh Medila Sisca Arimi, Mahasiswi Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Pendahuluan : Kebijakan, Risiko, dan Ketegangan Kepentingan

BacaJuga:

Mukhtarudin Tegaskan Komitmen Selesaikan Masalah PMI di Hong Kong

Cegah Narkotika Cair, Kapolri Larang Seluruh Anggota Gunakan Vape

Gandeng Perhotelan Turki, KP2MI Gelar Seleksi CPMI

INDOPOSCO.ID – Uang Kuliah Tunggal (UKT) diperkenalkan sebagai instrumen reformasi pembiayaan pendidikan tinggi untuk mewujudkan sistem yang lebih adil, transparan, dan berkeadilan sosial. Melalui skema UKT. Mahasiswa diharapkan membnayar biaya pendidikan sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga, sementara negara menutup sebagian biaya melalui subsidi. Namun, dalam praktik implementasinya, terutama ketika terjadi penyesuaian atau kenaikan UKT, kebijakan ini justru memunculkan ketegangan kepentingan antara negara, perguruan tinggi, dan mahasiswa.

Kenaikan UKT sering dipersepsikan sebagai beban ekonomi yang mengancam keberlanjutan studi mahasiswa, sementara perguruan tinggi menghadapi tekanan pembiayaan operasional dan tuntutan peningkatan mutu. Ketegangan ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan tinggi bukan sekadar persoalan fiskal, tetapi juga persoalan komunikasi persuasif dan negosiasi kebijakan

UKT dan Realitas Risiko Ekonomi Mahasiswa

Mahasiswa dan keluarga berada dalam posisi ekonomi yang rentan terhadap fluktuasi pendapatan, inflasi, dan krisis ekonomi. Pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang dengan hasil yang tidak dapat dipastikan secara langsung. Dalam konteks ini, kenaikan UKT menggeser risiko pembiayaan dari negara ke individu, terutama bagi mahasiswa dari keluarga kelas menengah bawah yang tidak sepenuhnya terakomodasi oleh skema bantuan.

Dalam perspektif komunikasi kebijakan, pesan simbolik yang muncul adalah bahwa negara memprioritaskan keberlanjutan fiskal institusi dibanding kepastian akses pendidikan. Ketika narasi kebijakan tidak secara eksplisit mengakui kerentanan ekonomi mahasiswa, kebijakan cenderung dipersepsikan sebagai tidak empatik dan kurang adil.

Potensi Kualitas Pendidikan vs Realisasi Akses

Pemerintah dan perguruan tinggi kerap mengaitkan penyesuaian UKT dengan kebutuhan peningkatan mutu pendidikan, fasilitas, dan daya saing global. Secara normatif, peningkatan kualitas pendidikan tinggi merupakan tujuan yang sah dan strategis. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan bahwa peningkatan biaya tidak selalu diiringi peningkatan kualitas layanan yang dirasakan mahasiswa secara langsung.

Kesenjangan antara potensi kualitas yang dijanjikan dan realisasi manfaat yang dirasakan inilah yang memicu resistensi. Mahasiswa mempertanyakan dasar perhitungan UKT, transparansi penggunaan dana, serta relevansi antara biaya yang dibayarkan dan kualitas pendidikan yang diterima.

Implementasi UKT dan Problem Operasional

Secara normatif, UKT dirancang dengan sistem kelompok kemampuan ekonomi, disertai mekanisme banding dan penyesuaian. Namun, dalam praktiknya, proses penetapan UKT sering dinilai tidak transparan, kurang responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi keluarga, serta tidak selalu disertai mekanisme pengaduan yang efektif.

Selain itu, perbedaan kebijakan antar perguruan tinggi, khususnya antara PTN-BH dan PTN non-BH, menimbulkan ketimpangan akses dan beban biaya. Ketidaksinkronan antara desain kebijakan nasional dan praktik institusional ini memperlemah daya persuasi kebijakan secara keseluruhan.

Analisis Komunikasi Persuasif dan Negosiasi Kebijakan

Dari perspektif komunikasi persuasif, kebijakan UKT menghadapi persoalan framing. Pemerintah dan perguruan tinggi membingkai UKT sebagai instrumen keadilan sosial dan keberlanjutan institusi, sementara mahasiswa membingkainya sebagai beban ekonomi dan ancaman terhadap hak atas Pendidikan.

Asimetri framing ini menciptakan jarak persepsi yang menghambat dialog konstruktif. Dalam konteks negosiasi, ruang partisipasi mahasiswa dalam perumusan dan evaluasi kebijakan UKT masih terbatas. Negosiasi cenderung bersifat administratif, bukan deliberatif, sehingga kebijakan dipersepsikan sebagai produk top–down, bukan hasil kesepakatan Bersama.

Rekomendasi Negosiasi Kebijakan

Pertama, pemerintah dan perguruan tinggi perlu memperkuat transparansi dalam penetapan dan penggunaan UKT, termasuk membuka metodologi perhitungan biaya pendidikan kepada publik.

Kedua, mekanisme penyesuaian UKT harus lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi mahasiswa, termasuk akibat krisis ekonomi, bencana, atau faktor sosial lainnya.

Ketiga, forum dialog reguler antara mahasiswa, pimpinan perguruan tinggi, dan pemerintah perlu dilembagakan agar evaluasi kebijakan berbasis pengalaman nyata mahasiswa.

Keempat, skema bantuan keuangan, beasiswa, dan subsidi silang perlu diperluas dan dipastikan tepat sasaran agar kenaikan biaya tidak menghambat akses pendidikan tinggi bagi kelompok rentan.

Penutup

Keberlanjutan pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh stabilitas fiskal institusi, tetapi juga oleh kepercayaan mahasiswa dan masyarakat terhadap keadilan kebijakan. Tanpa komunikasi persuasif yang empatik dan negosiasi kebijakan yang setara, kebijakan UKT berisiko kehilangan legitimasi sosial. Harmonisasi kepentingan negara, perguruan tinggi, dan mahasiswa hanya dapat dicapai melalui desain kebijakan yang adil, transparan, dan berbasis realitas ekonomi mahasiswa.*

Tags: Medila Sisca ArimiPersuasi dan Negosiasiuang kuliah tunggalumjUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Berita Terkait.

udin
Nasional

Mukhtarudin Tegaskan Komitmen Selesaikan Masalah PMI di Hong Kong

Senin, 2 November 2026 - 10:20
suyudi
Nasional

Cegah Narkotika Cair, Kapolri Larang Seluruh Anggota Gunakan Vape

Senin, 2 November 2026 - 09:10
sri
Nasional

Gandeng Perhotelan Turki, KP2MI Gelar Seleksi CPMI

Senin, 2 November 2026 - 07:07
soptek
Nasional

Tolak PPN Pembalut, FKBI Dorong Pemerintah Optimalkan Cukai Rokok dan Minuman Manis

Senin, 2 November 2026 - 05:15
santri
Nasional

Penggerebekan Ponpes di Sukoharjo, Kemenag: Pendampingan Para Santriwati Itu Utama

Senin, 2 November 2026 - 00:30
ancol
Nasional

Menuju 5 Abad Jakarta, Warga Jadikan Ancol Gratis sebagai Kado Istimewa

Minggu, 1 November 2026 - 22:02

OLAHRAGA

bca
Olahraga

Runvestasi 2026 Dimulai, BCA Ajak Masyarakat Lari Sehat Sekaligus Belajar Investasi

Editor Ali Rachman
Senin, 2 November 2026 - 04:14

INDOPOSCO.ID - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) resmi membuka kompetisi lari dan investasi bertajuk Runvestasi 2026: Wealth Life Balance...

SelengkapnyaDetails
Arisan Elqueen Berujung Buntung, 24 Warga Lebak-Pandeglang Tertipu Rp1,34 Miliar

Hadapi Duel Papan Atas, Stjepan Loncar Pastikan Persija Siap Tempur

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:13
Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:39
Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:13
Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:57

BERITA POPULER

  • MUI

    Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an Berbuntut Panjang, MUI Layangkan 5 Tuntutan ke Polri

    1784 shares
    Share 714 Tweet 446
  • Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5159 shares
    Share 2064 Tweet 1290
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1155 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

    1009 shares
    Share 404 Tweet 252
  • Resmi Dirilis, Ini Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala Asia 2027

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.