• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Diversifikasi Pangan Lokal Jadi Senjata Hadapi Krisis Iklim

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Sabtu, 20 September 2025 - 20:45
in Ekonomi
IMG-20250920-WA0035

Jagung, salah satu pangan lokal yang terbukti lebih adaptif terhadap kondisi iklim ekstrem, kini didorong Bapanas sebagai alternatif penguat ketahanan pangan nasional. Foto: Dok. Bapanas

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Di tengah gempuran perubahan iklim yang kian sulit diprediksi, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menekankan bahwa kunci ketahanan pangan Indonesia ada pada keragaman pangan lokal.

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal, menyebut konsumsi masyarakat Indonesia masih terlalu berat pada beras. Padahal, pola ini membuat sistem pangan rentan goyah ketika produksi terganggu akibat cuaca ekstrem, curah hujan tak menentu, hingga bencana hidrometeorologi.

BacaJuga:

Hak 735 Eks Pekerja Belum Tuntas, Kasus Newcrest Jadi Preseden Buruk Divestasi Asing

Pertalite dan BioSolar Tetap, Pertamina Jelaskan Penyesuaian Harga Pertamax

Bukit Asam Tebar Dividen Rp1,32 Triliun, Perkuat Modal Hadapi Tantangan Industri Energi

“Ketahanan pangan kita tidak bisa hanya bertumpu pada satu sumber pangan saja. Indonesia memiliki keragaman pangan lokal yang luar biasa, yang justru menjadi solusi di tengah krisis iklim dan global,” ujar Rinna dalam keterangannya, Sabtu (20/9/2025).

Menurut Rinna, sejumlah bahan pangan tradisional terbukti lebih tahan terhadap kondisi iklim ekstrem, seperti sorgum, sagu, jagung, sukun, singkong, ubi jalar, hingga talas. Selain lebih adaptif terhadap lingkungan setempat, komoditas ini juga bisa menekan biaya produksi.

Namun, jalan menuju diversifikasi pangan tak semulus yang diharapkan. Rinna menyoroti hambatan yang masih mengakar, mulai dari citra pangan lokal yang dianggap “kelas dua”, keterbatasan produksi, hingga minimnya edukasi gizi.

“Preferensi konsumen yang rendah, citra pangan lokal yang dianggap inferior, keterbatasan produksi, serta kurangnya edukasi gizi menjadi tantangan yang perlu segera diatasi,” jelasnya.

Pemerintah sendiri telah menyiapkan payung hukum berupa Perpres 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Regulasi ini mengatur strategi mulai dari penguatan distribusi, pemberdayaan UMKM, pemanfaatan lahan pekarangan, pengembangan industri pangan lokal, hingga edukasi konsumsi Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA).

Target jangka panjangnya, kata Rinna, adalah mengubah pola konsumsi masyarakat menuju standar B2SA, yang diukur lewat peningkatan skor Pola Pangan Harapan (PPH). “Target jangka panjang kita adalah terwujudnya pola konsumsi B2SA. Indikator keberhasilannya adalah peningkatan skor Pola Pangan Harapan (PPH) masyarakat,” terangnya.

Sejumlah inovasi produk berbasis pangan lokal kini tengah digarap, dari mie sorgum, beras analog, hingga camilan sehat yang lebih ramah lingkungan. Transformasi ini didukung riset, teknologi pascapanen, dan kolaborasi lintas pihak, termasuk pemerintah daerah, akademisi, swasta, dan UMKM.

Rinna menegaskan, isu pangan lokal tak hanya berhenti pada soal ketahanan pangan, tapi juga menyangkut kelestarian lingkungan, budaya, hingga kedaulatan bangsa.

“Pangan lokal B2SA adalah solusi adaptif menghadapi perubahan iklim. Selain menjaga ketahanan pangan, juga melestarikan biodiversitas, memperkuat ekonomi lokal, dan meneguhkan kedaulatan pangan nasional,” tutupnya. (her)

Tags: makananpanganpertanian

Berita Terkait.

big
Ekonomi

Hak 735 Eks Pekerja Belum Tuntas, Kasus Newcrest Jadi Preseden Buruk Divestasi Asing

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:43
pertamax
Ekonomi

Pertalite dan BioSolar Tetap, Pertamina Jelaskan Penyesuaian Harga Pertamax

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:23
asam
Ekonomi

Bukit Asam Tebar Dividen Rp1,32 Triliun, Perkuat Modal Hadapi Tantangan Industri Energi

Kamis, 11 Juni 2026 - 23:03
btn
Ekonomi

BTN Siapkan Generasi Muda Tangguh Finansial, Gandeng Unpad untuk Edukasi dan Pengembangan Karier

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:46
purbaya
Ekonomi

DPR dan Pemerintah Ketok Palu Fiskal 2027, Jalan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Dibuka

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:32
kemendag
Ekonomi

BUMN Pegang Kunci Ekspor Batu Bara hingga Sawit, Pengusaha Cuma Numpang Lewat

Kamis, 11 Juni 2026 - 22:02

BERITA POPULER

  • Beraksi Puluhan Kali, Pelaku Curanmor di Tambora Diringkus Polisi

    Beraksi Puluhan Kali, Pelaku Curanmor di Tambora Diringkus Polisi

    1222 shares
    Share 489 Tweet 306
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    1460 shares
    Share 584 Tweet 365
  • Diduga Rombongan Caketum HIPMI, 10 Penumpang dari Bangkok Positif Narkoba

    891 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Jadi Tulang Punggung Mobilitas Warga, Penyesuaian Tarif TransJakarta Dinilai Rasional

    817 shares
    Share 327 Tweet 204
  • AFF U-19: Indonesia Cukur Timor Leste, Persaingan Puncak Klasemen Makin Panas

    1175 shares
    Share 470 Tweet 294
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.