• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Internasional

Pengadilan Banding AS Nyatakan Tarif Trump Ilegal, Tapi Masih Berlaku

Redaksi Editor Redaksi
Sabtu, 30 Agustus 2025 - 21:04
in Internasional
donal-trum1

Presiden AS, Donald Trump. (Instagram/@realdonaldtrump)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Sebuah pengadilan banding Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa kebijakan tarif menyeluruh Presiden Donald Trump adalah ilegal, tetapi tidak sampai menghentikan penerapan pajak impor yang luas tersebut.

Pada Jumat (29//8/2025), Pengadilan Banding untuk Sirkuit Federal di Washington, DC, sebagian besar menguatkan putusan pada bulan Mei yang menyatakan Trump telah melampaui kewenangannya dengan memberlakukan tarif universal terhadap semua mitra dagang AS.

BacaJuga:

Tinjau Shelter Hong Kong, Menteri P2MI Janjikan Penampungan Pekerja Migran dari Negara

Pemerintah Dorong Perluasan Lapangan Kerja Sektor Formal bagi PMI di Hong Kong

Tabrakan Maut Kereta Cepat di Spanyol, Kemlu: Belum Ada Laporan Korban WNI

Trump menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) untuk membenarkan langkah itu, dengan alasan bahwa defisit perdagangan dengan negara lain merupakan “darurat nasional”.

Namun, pengadilan banding mempertanyakan logika tersebut dalam putusan hari Jumat, dengan suara tujuh banding empat menolak tarif menyeluruh itu.

“Undang-undang memberikan kewenangan signifikan kepada Presiden (Trump) untuk melakukan sejumlah tindakan dalam menanggapi keadaan darurat nasional yang dinyatakan,” tulis pengadilan tersebut, dikutip dari Aljazeera, Sabtu (30/8/2025).

“Tetapi tidak ada dari tindakan tersebut yang secara eksplisit mencakup wewenang untuk memberlakukan tarif, bea, atau sejenisnya, maupun wewenang untuk memungut pajak,” sambungnya.

Pemerintahan Trump diperkirakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung, sehingga pengadilan banding menyatakan kebijakan tarifnya dapat tetap berlaku hingga 14 Oktober. Itu berbeda dengan putusan Mei, yang sebelumnya memerintahkan penghentian segera penerapan tarif tersebut.

Putusan awal bulan Mei dikeluarkan oleh US Court of International Trade yang berbasis di New York, sebuah pengadilan khusus yang menangani perkara perdata terkait perdagangan lintas batas. Kasus itu merupakan salah satu dari setidaknya delapan gugatan terhadap kebijakan tarif Trump yang luas.

“Trump sejak lama berpendapat bahwa mitra dagang AS telah mengambil keuntungan dari ekonomi terbesar dunia, dan ia menggambarkan defisit perdagangan, ketika AS mengimpor lebih banyak daripada mengekspor, sebagai ancaman eksistensial terhadap ekonomi,” jelasnya.

Namun para ahli memperingatkan bahwa defisit perdagangan tidak selalu merupakan hal buruk: bisa saja menandakan basis konsumen yang kuat, atau akibat perbedaan nilai mata uang.

Meski begitu, pada 2 April Trump menggunakan IEEPA untuk memberlakukan tarif 10 persen terhadap semua negara, ditambah tarif “resiprokal” individual untuk mitra dagang tertentu.

Ia menyebut momen itu sebagai “Hari Pembebasan”, namun para pengkritik mencatat bahwa pasar global justru goyah akibat pengumuman tarif tersebut.

Beberapa hari kemudian, ketika tarif “resiprokal” itu dijadwalkan berlaku, pemerintahan Trump mengumumkan penangguhan bagi hampir semua negara, kecuali Tiongkok. Sementara itu, Trump dan pejabatnya menyatakan akan berupaya menegosiasikan perjanjian dagang dengan mitra global.

“Serangkaian tarif baru yang lebih spesifik per negara diumumkan pada Juli melalui surat-surat yang diposting Trump di media sosialnya. Banyak di antaranya mulai berlaku pada 1 Agustus, termasuk tarif 50 persen terhadap Brasil sebagai balasan atas penuntutan terhadap sekutu Trump, mantan Presiden Jair Bolsonaro.

Dan pada 27 Agustus 2025 lalu, India juga dikenai tarif 50 persen akibat pembelian minyak dari Rusia.

“Sementara itu, Meksiko, Kanada, dan Tiongkok telah menghadapi ancaman tarif Trump sejak Februari, dengan Trump menggunakan pajak impor tersebut sebagai alat tekan terkait kebijakan keamanan perbatasan dan narkoba fentanyl,” tambah pernyataan tersebut.

INDOPOSCO.ID – Sebuah pengadilan banding Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa kebijakan tarif menyeluruh Presiden Donald Trump adalah ilegal, tetapi tidak sampai menghentikan penerapan pajak impor yang luas tersebut.

Pada Jumat (29//8/2025), Pengadilan Banding untuk Sirkuit Federal di Washington, DC, sebagian besar menguatkan putusan pada bulan Mei yang menyatakan Trump telah melampaui kewenangannya dengan memberlakukan tarif universal terhadap semua mitra dagang AS.

Trump menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) untuk membenarkan langkah itu, dengan alasan bahwa defisit perdagangan dengan negara lain merupakan “darurat nasional”.

Namun, pengadilan banding mempertanyakan logika tersebut dalam putusan hari Jumat, dengan suara tujuh banding empat menolak tarif menyeluruh itu.

“Undang-undang memberikan kewenangan signifikan kepada Presiden (Trump) untuk melakukan sejumlah tindakan dalam menanggapi keadaan darurat nasional yang dinyatakan,” tulis pengadilan tersebut, dikutip dari Aljazeera, Sabtu (30/8/2025).

“Tetapi tidak ada dari tindakan tersebut yang secara eksplisit mencakup wewenang untuk memberlakukan tarif, bea, atau sejenisnya, maupun wewenang untuk memungut pajak,” sambungnya.

Pemerintahan Trump diperkirakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung, sehingga pengadilan banding menyatakan kebijakan tarifnya dapat tetap berlaku hingga 14 Oktober. Itu berbeda dengan putusan Mei, yang sebelumnya memerintahkan penghentian segera penerapan tarif tersebut.

Putusan awal bulan Mei dikeluarkan oleh US Court of International Trade yang berbasis di New York, sebuah pengadilan khusus yang menangani perkara perdata terkait perdagangan lintas batas. Kasus itu merupakan salah satu dari setidaknya delapan gugatan terhadap kebijakan tarif Trump yang luas.

“Trump sejak lama berpendapat bahwa mitra dagang AS telah mengambil keuntungan dari ekonomi terbesar dunia, dan ia menggambarkan defisit perdagangan, ketika AS mengimpor lebih banyak daripada mengekspor, sebagai ancaman eksistensial terhadap ekonomi,” jelasnya.

Namun para ahli memperingatkan bahwa defisit perdagangan tidak selalu merupakan hal buruk: bisa saja menandakan basis konsumen yang kuat, atau akibat perbedaan nilai mata uang.

Meski begitu, pada 2 April Trump menggunakan IEEPA untuk memberlakukan tarif 10 persen terhadap semua negara, ditambah tarif “resiprokal” individual untuk mitra dagang tertentu.

Ia menyebut momen itu sebagai “Hari Pembebasan”, namun para pengkritik mencatat bahwa pasar global justru goyah akibat pengumuman tarif tersebut.

Beberapa hari kemudian, ketika tarif “resiprokal” itu dijadwalkan berlaku, pemerintahan Trump mengumumkan penangguhan bagi hampir semua negara, kecuali Tiongkok. Sementara itu, Trump dan pejabatnya menyatakan akan berupaya menegosiasikan perjanjian dagang dengan mitra global.

“Serangkaian tarif baru yang lebih spesifik per negara diumumkan pada Juli melalui surat-surat yang diposting Trump di media sosialnya. Banyak di antaranya mulai berlaku pada 1 Agustus, termasuk tarif 50 persen terhadap Brasil sebagai balasan atas penuntutan terhadap sekutu Trump, mantan Presiden Jair Bolsonaro.

Dan pada 27 Agustus 2025 lalu, India juga dikenai tarif 50 persen akibat pembelian minyak dari Rusia.

“Sementara itu, Meksiko, Kanada, dan Tiongkok telah menghadapi ancaman tarif Trump sejak Februari, dengan Trump menggunakan pajak impor tersebut sebagai alat tekan terkait kebijakan keamanan perbatasan dan narkoba fentanyl,” tambah pernyataan tersebut. (her)

Tags: Amerika SerikatPengadilan BandingTarif Trump Ilegal

Berita Terkait.

Tinjau Shelter Hong Kong, Menteri P2MI Janjikan Penampungan Pekerja Migran dari Negara
Internasional

Tinjau Shelter Hong Kong, Menteri P2MI Janjikan Penampungan Pekerja Migran dari Negara

Selasa, 3 November 2026 - 09:25
Pramono Kukuhkan Duta Antihoaks 2026, Penggerak Perubahan Perilaku Digital
Internasional

Pemerintah Dorong Perluasan Lapangan Kerja Sektor Formal bagi PMI di Hong Kong

Senin, 2 November 2026 - 19:04
pancasila
Internasional

Tabrakan Maut Kereta Cepat di Spanyol, Kemlu: Belum Ada Laporan Korban WNI

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 05:05
Bahas Konflik Rusia-Ukraina dengan Parlemen Eropa, BKSAP DPR Dorong Solusi Damai
Internasional

Bahas Konflik Rusia-Ukraina dengan Parlemen Eropa, BKSAP DPR Dorong Solusi Damai

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:17
Dari Shanghai, SVOC ke-4 Soroti Inovasi dan Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati
Internasional

Dari Shanghai, SVOC ke-4 Soroti Inovasi dan Ketahanan Rantai Pasok Minyak Nabati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:31
1
Internasional

Gemilang! Indonesia Sabet Juara Pertama di MAMF 2026 Korea Selatan, Pertahankan Gelar Dua Tahun Beruntun

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:46

OLAHRAGA

Comeback Dramatis, Persib Bungkam Victory Melbourne untuk Kunci Tiket 16 Besar
Olahraga

Comeback Dramatis, Persib Bungkam Victory Melbourne untuk Kunci Tiket 16 Besar

Editor Nelly Marinda Situmorang
Rabu, 4 November 2026 - 18:41

INDOPOSCO.ID - Persib Bandung menunjukkan mentalitas pantang menyerah saat bertandang ke markas Melbourne Victory. Sempat tertinggal lebih dulu, Maung Bandung...

SelengkapnyaDetails
Cabor Bulutangkis dan Panjat Tebing Dicoret, NOC Indonesia Soroti SEA Games 2027

Cabor Bulutangkis dan Panjat Tebing Dicoret, NOC Indonesia Soroti SEA Games 2027

Rabu, 4 November 2026 - 17:31
noc

Diplomasi Olahraga Okto, Indonesia Incar World Skate Championships di Bali

Rabu, 4 November 2026 - 13:13
piala

Ketegangan Timur Tengah Belum Reda, AFC Undur Jadwal Piala Asia 2027

Selasa, 3 November 2026 - 23:23
noc

2 Atlet Muda Wafat di Porprov Jateng, NOC Indonesia: Tak Ada Medali Seharga Nyawa

Selasa, 3 November 2026 - 21:21

BERITA POPULER

  • Kalahkan Juara Olimpiade, Ceyco Georgia Raih Emas dan Zaskia Sabet Perak

    Kalahkan Juara Olimpiade, Ceyco Georgia Raih Emas dan Zaskia Sabet Perak

    3253 shares
    Share 1301 Tweet 813
  • Heboh Isu Jenderal Polisi Ditangkap terkait Penyadapan Prabowo, Polri Bilang Begini

    2293 shares
    Share 917 Tweet 573
  • Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an Berbuntut Panjang, MUI Layangkan 5 Tuntutan ke Polri

    1872 shares
    Share 749 Tweet 468
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1157 shares
    Share 463 Tweet 289
  • Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

    1011 shares
    Share 404 Tweet 253
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.