INDOPOSCO.ID – Persentase orang asli Papua (OAP) yang menempati posisi strategis di PT Freeport Indonesia dinilai masih relatif kecil. Sebagian besar mereka berada di posisi operasional dan teknis, bukan di posisi manajerial atau kepemimpinan.
Ada sejumlah faktor mempengaruhi hal itu. Seperti kurangnya kualifikasi pendidikan dan keterampilan teknis di kalangan masyarakat Papua dan ketimpangan sosial yang masih tinggi di “Negeri Cendrawasih” itu.
Akademisi Universitas 17 Agustus Fernando Emas mengatakan, faktor lainnya yang menyebabkan hal tersebut ialah redistribusi hasil ekstraksi Freeport belum merata dan tidak cukup efektif mengurangi ketimpangan sosial di Papua. Karenanya, dana bagi hasil keuntungan harus dikelola dengan baik.
“Dana hasil pembagian keuntungan harus dikelola secara baik oleh pemerintah pusat dan daerah, agar SDM semakin maju. Sehingga akan mampu mengisi posisi-posisi penting di PT Freeport Indonesia atau di luar daerah,” kata Fernando kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Pemerintah harus meningkatkan kemampuan SDM masyarakat Papua, sehingga mampu bersaing dengan masyarakat di luar Papua. Jangan terkesan ada upaya membiarkan, sehingga secara terus-menerus dikuasai pihak lain karena tidak mampu bersaing.
Menurutnya, sampai saat ini sangat terlihat sekali kesenjangan kesejahteraan di Papua sehingga sangat wajar membuat kecemburuan dan kekecewaan terhadap pemerintah.
“Saya berharap sekali, pemerintahan (Presiden) Prabowo Subianto melakukan prioritas dalam membangun SDM masyarakat Papua, sehingga mampu bersaing dengan masyarakat di luar Papua,” ujar Fernando Emas.
Misalnya membangun beberapa sekolah unggulan, yang dikhususkan untuk masyarakat Papua. Harapannya ada percepatan yang dilakukan mengejar keterlambatan selama ini.
“Pemanfaatan bagi keuntungan untuk menjalankan kebijakan yang produktif agar SDM, lapangan pekerjaan dan infrastruktur semakin baik dan membuka akses bagi masyarakat,” imbuh Direktur Rumah Politik Indonesia itu.
Berdasar sejumlah sumber menunjukkan bahwa sekitar 60 persen pekerja di Freeport masih berasal dari luar Papua, dan persentase itu mencerminkan ketidakseimbangan dalam distribusi posisi strategis. (dan)











