• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Politik

Pemimpin Pilihan Kita

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Selasa, 9 Januari 2024 - 16:17
in Politik
Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun. Foto: Istimewa

Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun. Foto: Istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

oleh Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun

Tak lama lagi kita akan memilih pemimpin nasional yakni presiden dan wakil presiden. Dua tokoh tersebut adalah hasil kompromi politik yang paling final dari partai politik di Indonesia. Suka atau tidak suka, mereka adalah hasil terbaik dari negosiasi dan pertimbangan dari partai politik kita.

BacaJuga:

Gerindra Puncaki Elektabilitas, PDIP dan Golkar Terus Membuntuti

Ekonomi Syariah Dinilai Masih ‘Main di Lapangan Ping-pong’, PKS Siapkan Terobosan

Mengakhiri “Pecah Kongsi” Pimpinan Daerah, Pakar: Sebaiknya Pilkada Tidak Pilih Wakil

Sebagai warga biasa, apa yang dapat kita lakukan terkait pilpres nanti? Tentu, yang pertama kita harus memilih. Siapapun pilihannya itulah yang menurut kita terbaik. Namun siapapun yang nanti terpilih itulah yang pasti terbaik untuk bangsa kita. Suka atau tidak suka, pemimpin terbaik akan lahir dan harus ada sebagai penerus kepemimpinan nasional sebelumnya.

Salah satu problematika saat ini adalah adanya kampanye negatif terkait calon yang berbeda. Tidak jarang kita lihat orang menjelekkan calon lainnya yang mereka tidak setujui. Ada semacam pikiran bahwa karena dia bukan pilihan saya maka dia harus tampil buruk, dengan begitu maka calon saya akan terlihat baik.

Memburukkan kandidat seakan menjadi salah satu cara untuk menaikkan calon pilihannya sendiri. Menurut saya, ini tidak dewasa dan tidak relevan dengan semangat kebangsaan kita. Memburukkan calon adalah bagian dari sikap tidak pancasilais, sebab pancasila mengajarkan berbagai nilai keadaban, termasuk dalam politik.

Nilai keadaban dalam politik misalnya lebih berfokus pada adu gagasan, yakni bagaimana para calon atau pendukungnya menunjukkan bahwa pemikiran mereka itu terbaik dan relevan untuk bangsa. Itu lebih pas dan progresif dan akan membuat bangsa kita lebih maju.

Sebaliknya, adu kekuatan dalam bentuk caci-maki atau memproduksi berita-berita hoaks adalah bagian dari ketidakberadaban dalam politik. Saat ini cukup mudah orang membuat berita hoaks, bahkan pada level tertentu ada yang memproduksi itu sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan.

Satu hal yang penting dalam menghadapi hoaks adalah bagaimana pandangan kita terhadap hoaks itu. Banyak orang yang tidak sadar bahwa berita atau konten yang mereka konsumsi adalah hoaks.

Pemerintah sebenarnya telah ada kanal untuk itu, dan media tertentu juga ada, akan tetapi tidak begitu banyak penjelasan ketimbang konten-konteks hoaks yang beredar. Maka, kuncinya ada pada diri kita, jangan sampai termakan berita hoaks.

Akhirnya, siapapun yang terpilih ada satu hal yang harus kita perhatikan yakni bagaimana mengantisipasi agar sisi buruk tabiat manusia atau kekuasaan itu tidak berdampak buruk pada bangsa dan negara. Manusia pada dasarnya baik akan tetapi pada posisi tertentu ia bisa saja keluar dari orbit baiknya dan menjadi yang tidak baik.

Selain memilih di pilpres nanti, antisipasi tabiat buruk dari manusia atau kekuasaan perlu kita diskusikan. Pemimpin haruslah taat pada konstitusi, dan ketaatan itu seharusnya ketaatan dalam arti sebenarnya, bukan dari arti artifisial saja.

Kita berharap pemimpin terpilih nanti adalah yang terbaik. Untuk itu, kampanye negatif dalam berbagai bentuknya perlu dihindari. Labelling yang tidak menyehatkan perlu ditinggalkan. Kita adalah bangsa beradab, dan keadaban dalam politik perlu kita tinggikan, yakni berpolitik dengan cara yang terhormat dan tidak menjatuhkan orang lain untuk menaikkan calon yang diusung.*

Tags: pemilupilpresyanuardi syukur

Berita Terkait.

Gerindra
Politik

Gerindra Puncaki Elektabilitas, PDIP dan Golkar Terus Membuntuti

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:05
Ekonomi Syariah Dinilai Masih ‘Main di Lapangan Ping-pong’, PKS Siapkan Terobosan
Politik

Ekonomi Syariah Dinilai Masih ‘Main di Lapangan Ping-pong’, PKS Siapkan Terobosan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 18:16
Mengakhiri “Pecah Kongsi” Pimpinan Daerah, Pakar: Sebaiknya Pilkada Tidak Pilih Wakil
Politik

Mengakhiri “Pecah Kongsi” Pimpinan Daerah, Pakar: Sebaiknya Pilkada Tidak Pilih Wakil

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:31
Usai Dipanggil Ditjen Pajak, Hensa Buka Fakta di Balik Siniar Bareng Ferry Latuhihin
Politik

Usai Dipanggil Ditjen Pajak, Hensa Buka Fakta di Balik Siniar Bareng Ferry Latuhihin

Kamis, 6 Agustus 2026 - 10:15
Aher
Politik

Komisi II Tegaskan Kualitas Demokrasi Ditentukan Pemilih Cerdas

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:08
DKPP
Politik

Gara-gara Ikut Naik Helikopter dalam Kegiatan KPU, DKPP Beri Sanksi Peringatan Keras kepada Anggotanya

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:21

BERITA POPULER

  • Erick-Thohir

    PSSI Ubah Haluan Piala Presiden, Turnamen Kini Diproyeksikan untuk Timnas

    2464 shares
    Share 986 Tweet 616
  • Dugaan Penyalahgunaan Dapodik Ditelusuri, Kemendikdasmen Siap Tindak Tegas

    2199 shares
    Share 880 Tweet 550
  • Erick Thohir Angkat Suara Soal John Herdman Usai Indonesia Dibekuk Vietnam

    1995 shares
    Share 798 Tweet 499
  • Bea Cukai Tanjung Priok Gagalkan Penyelundupan Motor Harley-Davidson Bekas Asal Tiongkok

    1379 shares
    Share 552 Tweet 345
  • Honda Scoopy Modifikasi Jadi Magnet di Jakarta Sneakers Day 2026, Booth Honda Sedot Ratusan Pengunjung

    1279 shares
    Share 512 Tweet 320
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.