• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Maknai Perbedaan Merayakan Lebaran sebagai Berkah

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Selasa, 18 April 2023 - 12:15
in Nasional
Tim-rukyatul-hilal

Tim rukyatul hilal dari Nahdlatul Ulama (NU) Kota Surabaya merekam menggunakan ponsel saat mengamati posisi bulan (hilal) di atas Masjid Al-Mabrur, Nambangan, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (1/5/2022). Foto: Antara/Moch Asim/nz

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Rubiyanah Jalil menilai perbedaan waktu merayakan Lebaran 2023 harus dimaknai sebagai keindahan dan keberkahan.

Menurut dia, masyarakat harus memaknai perbedaan sebagai keberkahan seperti hadis Rasulullah saw. yaitu al ikhtilaafu ummati rahmah yang berarti perbedaan di antara umatku adalah rahmat.

BacaJuga:

Pandji Pragiwaksono Soroti Sistem Politik Indonesia: Jangan Berpikir Ganti Presiden Semua Beres

Airlangga Tegaskan Riset Jadi Senjata Utama Sawit Indonesia Tembus Industri Masa Depan

Mendiktisaintek: Kampus Harus Jadi Motor Lahirnya Industri Kreatif Baru

“Perbedaan harus dimaknai sebagai keindahan yang harus dipupuk dan tidak dijadikan sebagai alat politisasi suatu kelompok,” kata Rubi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (17/4).

Menurut dia, apabila perbedaan-perbedaan justru dijadikan sebagai bahan untuk memunculkan perpecahan karena ingin memenangkan satu kelompok, akan menjadi musibah bagi bangsa Indonesia.

Rubi berharap momentum Ramadan dan Idul Fitri 1444 Hijriah, umat Islam kembali pada fitrah manusia yang sesungguhnya, yakni mencintai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kedamaian.

Baca Juga : Peningkatan Pelayanan KA untuk Mudik 2023

“Dengan dilandasi semangat spiritual dan kebangsaan, momentum ini mampu memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang dapat meredam perpecahan bangsa,” ujarnya, dikutip dari Antara, Selasa (18/4).

Selain itu, Rubi menilai Ramadan memiliki banyak kemuliaan, mulai dari bulan suci, penuh rahmat, hingga syahru jihad (bulan jihad).

Ramadan dikatakan sebagai bulan jihad, lanjut dia, karena secara historis pelaksanaannya pada masa Nabi Muhammad saw., bertepatan dengan peristiwa perang dan kemenangan yang diraih umat Islam.

Namun, menurut dia, semangat jihad sering disalahartikan oleh beberapa kelompok dengan konteks yang tidak sesuai, yaitu sebagai perang (qital). Mereka lantas berpendapat bahwa Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membuat teror bagi kelompok radikal terorisme.

“Ketika umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa atau menahan diri, pada dasarnya sedang berjihad. Oleh karena itu, Ramadan disebut juga dengan dengan syahrul jihad,” kata Rubi.

Dosen Program Studi Magister Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah itu mengatakan ada satu peristiwa luar biasa yang dialami Nabi Muhammad saw. bersama sahabatnya saat Ramadan, yaitu peristiwa Perang Badar.

Menurut dia, dalam kondisi berpuasa, Nabi Muhammad beserta 313 pasukannya melawan 1.000 kafir Qurais dalam Perang Badar. Namun, akhirnya umat Islam memenangi perang bersejarah tersebut.

“Namun, euforia kemenangan Perang Badar itu digambarkan oleh Rasulullah sebagai satu perang yang tidak seberapa,” ujarnya.

Seusai memenangi perang, kata dia, Nabi Muhammad mengatakan bahwa roza’kna min jihadil asgar ila jihadil akbar (pulang dari jihad kecil menuju jihad besar).

Para sahabat lantas bertanya, “Lalu seperti apa jihad akbar itu ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “jihadul akbar jihadul nafs, jihad akbar itu adalah perang melawan diri sendiri.”

“Jadi, sebenarnya jihad yang paling besar itu bukan jihad secara fisik berperang dan lain-lain, melainkan melawan diri sendiri dari segala hawa nafsu yang bisa menghancurkan diri sendiri maupun orang lain, dan itu berpuasa,” kata Rubi.

Dalam konteks keindonesiaan, menurut Rubi, makna jihad melawan hawa nafsu itu dapat dipupuk untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut dia, Indonesia sebagai negara yang penuh keberagaman suku, agama, ras, dan budaya perlu menanamkan nilai-nilai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Ia memandang perlu kesadaran bersama untuk memupuk terus keberagaman untuk menghindari perpecahan.(mg2)

Tags: idul fitrilebaranRubiyanah JalilUIN

Berita Terkait.

Panji
Nasional

Pandji Pragiwaksono Soroti Sistem Politik Indonesia: Jangan Berpikir Ganti Presiden Semua Beres

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:24
Airlangga Tegaskan Riset Jadi Senjata Utama Sawit Indonesia Tembus Industri Masa Depan
Nasional

Airlangga Tegaskan Riset Jadi Senjata Utama Sawit Indonesia Tembus Industri Masa Depan

Rabu, 22 Juli 2026 - 21:04
Brian
Nasional

Mendiktisaintek: Kampus Harus Jadi Motor Lahirnya Industri Kreatif Baru

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:43
IPDN
Nasional

Mendagri Apresiasi 10 Calon Wisudawan Terbaik IPDN Angkatan XXXIII

Rabu, 22 Juli 2026 - 20:23
Mendagri
Nasional

Mendagri Tito: Pelibatan Sektor Swasta Akan Optimalkan Realisasi Program Perumahan Rakyat

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:42
ASN dalam Pusaran Korupsi Kepala Daerah, Prof Djoehermaanyah: Tolak Perintah Jabatan Melayang, Turuti Masuk Penjara
Nasional

ASN dalam Pusaran Korupsi Kepala Daerah, Prof Djoehermaanyah: Tolak Perintah Jabatan Melayang, Turuti Masuk Penjara

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:32

BERITA POPULER

  • epi

    Desa Berdaya Energi Berbuah Hasil, Populasi Kambing Perah dan Pendapatan Peternak Meningkat

    3187 shares
    Share 1275 Tweet 797
  • Spanyol vs Argentina: De la Fuente Tuntut Wasit Pimpin Final dengan Sangat Ketat

    1414 shares
    Share 566 Tweet 354
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2782 shares
    Share 1113 Tweet 696
  • Jelang Final Piala Dunia 2026, Scaloni Keluhkan Singkatnya Waktu Pemulihan Argentina

    823 shares
    Share 329 Tweet 206
  • Hasil Piala Dunia: Hat-trick Bukayo Saka Antar Inggris Raih Perunggu

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.