• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Menakar Pengembangan Sorgum sebagai Alternatif Pangan

Sumber Ginting Editor Sumber Ginting
Senin, 5 September 2022 - 13:15
in Ekonomi
Abidayun-Humas

Abiyadun (Humas Kementerian Pertanian)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Pasca wabah Covid 19, kondisi perekonomian khususnya pangan di semua negara masih dalam pemulihan, tak terkecuali Indonesia.

Kondisi ini pun semakin berat diwujudkan karena kemelut perang Rusia dan Ukraina hingga kini belum menemukan titik damai sehingga berdampak pada penyediaan pangan di berbagai negara, khususnya komoditas gandum.

BacaJuga:

LEPAS L8 Resmi Meluncur di Indonesia, SUV PHEV Premium Dibanderol Rp589 Juta

Kementerian UMKM Optimistis PEWIRA Percepat Terciptanya Wirausaha Berdaya Saing

Ditunjuk jadi Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti Pastikan Decision Making Tetap Berjalan

Ekonomi dan pangan pun mendapat ancaman nyata ke depannya, dunia mengalami cuaca ekstrim. Lagi-lagi, Indonesia pun merupakan salah satu negara yang tak bisa lari dari kondisi buruk ini.

Baca Juga : Mentan SYL Panen Sorgum di Kabupaten Lamongan

Situasi konflik antara Ukraina dan Rusia membuat produksi dan distribusi gandum negara keranjang roti Eropa ini mengalami distorsi.

Mengutip data BPS, Ukraina sempat menutup keran ekspor gandumnya. Lagi-lagi Indonesia pun merasakan dampaknya.

Impor gandum dari Ukraina hanya sebanyak 5.509 ton pada tahun ini. Volume ini turun jauh dari volume 2021 ketika Ukraina menjadi negara asal impor gandum terbesar kedua Indonesia.

Akibatnya, kini Indonesia mengandalkan impor gandum dari Australia dan Argentina. Indonesia mengimpor gandum dari Australia sebanyak 2,06 juta ton pada Januari-Juli 2022.

Sementara, impor gandum dari Argentina mencapai 1,47 juta ton. Kedua negara ini mencakup 64,1% dari total impor gandum Indonesia pada periode tersebut. Indonesia pun mengimpor gandum dari Kanada sebesar 694 ribu ton, Brasil 594 ribu ton dan India sebesar 545 ribu ton.

Parahnya lagi, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa pekan lalu mengatakan sejumlah negara pengekspor gandum masih belum menunjukkan tanda-tanda akan memulai kembali pengiriman produk tersebut.

Terdapat 9 negara yang menghentikan ekspor gandumnya, yakni Kazakhstan hingga 30 September, kemudian Kirgizstan, India, Afghanistan, Algeria, Kosovo, Serbia dan Ukraina sampai 31 Desember mendatang.

Berangkat dari ini, mau tak mau pemerintah, perguruan tinggi dan anak bangsa harus berpikir dan bertindak cerdas, inovatif dan out off the box. Indonesia sebagai negara berkembang, tentunya sebuah keniscayaan untuk melakukan impor pangan.

Tapi, Indonesia harus bisa memenangkan kondisi tersebut bahkan menyediakan pangan bagi dunia.

Perang Rusia-Ukraina dan cuaca ektrim dunia menjadi cambuk dan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan dan menggali potensi pertanian sebagai alternatif pangan dan berdaulat pangan.

Perang Rusia-Ukraina menjadi momentum emas bagi Indonesia untuk mengurangi impor gandum alias mengembangkan budidaya Sorgum sebagai pangan alternatif substitusi gandum.

Peluang Pengembangan Sorgum

Presiden Jokowi pun merespon dengan sangat serius terhadap ancaman pangan dunia yang berdampak pada Indonesia, khususnya soal gandum.

Tak ayal, Presiden Jokowi telah memberikan titah kepada jajarannya untuk mengembangkan budidaya Sorgum sebagai pangan alternatif substitusi gandum. Presiden Jokowi memerintahkan para menteri terkait untuk meningkatkan produksi dan hilirisasi sorgum.

Hal ini diungkapkanya saat melakukan penanaman bibit dan meninjau panen Sorgum di Kabupaten Sumba Timur, NTT pada tanggal 2 Juni 2022.

Pengembangan Sorgum di Indonesia bukanlah hal sulit. Pasalnya, tanaman serealia ini mampu tumbuh secara baik pada lahan-lahan marginal, dimana jenis tanaman pangan lainnya tidak bisa tumbuh secara optimal. Di daerah-daerah yang sering mengalami kekeringan atau mendapat genangan banjir, tanaman sorgum masih dapat diusahakan.

Selain itu, Indonesia sendiri memiliki areal yang berpotensi untuk pengembangan yang sangat luas, meliputi daerah beriklim kering atau musim hujannya pendek serta tanah yang kurang subur. Artinya, ada peluang yang cukup besar untuk meningkatkan produksi sorgum melalui perluasan areal tanam.

Pengembangan sorgum di Indonesia sudah lama dilakukan. Misalnya, Badan Litbang Kementerian Pertanian pada tahun 2012 mengembangkan sorgum di Sidrap seluas 3.200 hektar.

Pada tahun 2013, melakukan pencanangan pengembangan sorgum di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Badan Litbang Kementerian Pertanian mengirimkan benih bantuan sebanyak 1,5 ton untuk ditanam di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Luas pertanaman yang diusahakan mencapai 200 ha yang diutamakan untuk pangan.

Tak ayal, Indonesia menjadi peringkat ke 8 penghasil Sorgum di dunia. Namun sayangnya Indonesia termasuk negara yang masih ketinggalan, baik dalam penelitian, produksi, pengembangan, penggunaan, maupun ekspor sorgum.

Daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional di Indonesia adalah Jawa Tengah (Purwodadi, Pati, Demak, Wonogiri), Daerah Istimewa Yogyakarta (Gunung Kidul, Kulon Progo), Jawa Timur (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo), Sulsel, Sulteng dan sebagian Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Oleh karena itu, penulis menilai program yang digaungkan pemerintah saat ini dalam membangkitkan hulu- hilir sorgum sangatlah tepat.

Setidaknya, untuk menekan ketergantungan impor gandum yang selama kian naik. Sorgum pun untuk memperkuat ketahanan pangan dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrim.

Hingga hingga Juni 2022, pemerintah telah mengembangkan sorgum seluas 4.355 hektar yang tersebar di 6 provinsi. Tak main-main provitasnya mencapai 3,36 ton per ha sehingga produksinya mencapai 15.243 ton.

Pemerintah menargetkan pada tahun ini setidaknya terdapat 15.000 hektare lahan yang sudah ditanami sorgum. Kabupaten Waingapu NTT menjadi salah satu wilayah prioritas pengembanganya. Pemerintah pun menyiapkan pengembangan sorgum di tahun 2023 seluas 115 ribu hektar dan di tahun 2024 sebesar 154 ribu hektar.

Harapan

Sorgum merupakan salah satu komoditas sumber karbohidrat yang kaya akan produk turunannya. Selain dapat dijadikan substitusi gandum dan beras, hasil utama dari sorgum adalah nira dari batangnya yang selanjutnya bisa diolah menjadi bioetanol dan gula kristal.

Gandum sendiri merupakan bahan baku pembuatan tepung terigu. Sementara itu, tepung terigu merupakan bahan baku dalam beberapa produk makanan, seperti mi instan, roti, dan biskuit.

Oleh karena itu, menjadikan sorgum sebagai alternatif pangan sangat tepat untuk penguatan ketahanan pangan dalam menghadapi tantangan pangan dunia dan menjadikan sektor pertanian sebagai bantalan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, dalam pengembangan sorgum ada beberapa hal yang menjadi catatan penting. Pertama, pengembangan sorgum di Indonesia harus diakui masih ketinggalan, baik dalam penelitian, produksi, pengembangan, penggunaan, maupun ekspornya.

Untuk itu, pengembangan hulu-hilir sorgum perlu dilakukan berbasis korporasi dengan pelibatan perguruan tinggi. Tentunya ini untuk menerapkan pola budidaya modern yang menggunakan benih unggul, mekanisasi pertanian, penanganan pasca panen yang maju dengan menghasilkan produk berkelas industri dan hingga penyediaan modal dan pasar melalui off taker.

Kedua, pengembangan sorgum tentu terkendala pada faktor ketersediaan lahan. Pasalnya, lahan-lahan produktif hingga lahan marginal saat ini telah tertanami komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi, salah satu buktinya jagung.

Petani di berbagai daerah hingga saat ini masih memilih menanam jagung karena harganya sangat menguntungkan dan budidaya cukup mudah. Tak heran lahan yang dulunya tidur, kini ditanami jagung sehingga menjadi ladang uang bagi petani. Dengan begitu, ini menjadi tantangan nyata dalam pengembangan sorgum.

Penyediaan lahan harus benar-benar dipetakan. Sebab jangan sampai terjadi paradox, yakni kita mengembangkan sorgum namun justru menurunkan produksi komoditas lainnya.

Ketiga, manfaat sorgum masih minim di kalangan publik, khususnya generasi muda. Untuk itu, peran anak muda dan perguruan tinggi pun sangatlah penting karena sampai saat ini banyak anak muda yang belum mengetahui tentang manfaat dan nilai bisnis sorgum. Tepung sorgum memiliki keunggulan bebas gluten yang mengandung niasin, thiamin, vitamin B6, dan juga zat besi. Kemudian tak hanya sebagai pangan alternatif penganti beras dan gandum, tetapi juga sebagai bahan pakan dan bahkan dapat menghasilkan bio ethanol.

Ketiga, setiap varietas sorgum membutuhkan treatment berbeda. Oleh karena itu, kunci pengembangan sorugm adalah melakukan pendampingan kepada petani agar bisa melakukan produksi pertanian dengan teknik yang tepat.

keempat, pengembangan suatu komoditas sangat ditentukan jika adanya pengembangan hilir. Sebab, ini terkait sekali dengan jaminan pasar dan harga karena hukum yang berlaku di petani sangat sederhana, yakni ketika harganya sangat bagus, maka melakukan tanam tentu tak perlu disuruh apalagi dipaksa. (*)

Tags: Alternatif PanganekonomiKementerian PertanianSorgum

Berita Terkait.

L8
Ekonomi

LEPAS L8 Resmi Meluncur di Indonesia, SUV PHEV Premium Dibanderol Rp589 Juta

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:30
Ikatan Notaris Minta Pemerintah Tunda Pemberlakuan Tarif PNBP Terbaru 
Ekonomi

Kementerian UMKM Optimistis PEWIRA Percepat Terciptanya Wirausaha Berdaya Saing

Senin, 27 Juli 2026 - 23:31
Destry-Damayanti
Ekonomi

Ditunjuk jadi Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti Pastikan Decision Making Tetap Berjalan

Senin, 27 Juli 2026 - 18:28
Prasetyo
Ekonomi

Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Resmi Ambil Kendali Sementara Gubernur BI

Senin, 27 Juli 2026 - 17:27
Maman
Ekonomi

Legalitas Dipermudah, Kementerian UMKM dan BPOM Dorong Produk Pangan Lebih Kompetitif

Senin, 27 Juli 2026 - 16:44
Diskusi
Ekonomi

Tambang Bawah Tanah Anjing Hitam Siap Dikembangkan, DPM Klaim Ramah Lingkungan

Senin, 27 Juli 2026 - 14:32

BERITA POPULER

  • Tokoh Banten Mulyadi Jayabaya Sesalkan Ada Oknum Pejabat Dikaitkan Aksi Penculikan Aktivis

    Tokoh Banten Mulyadi Jayabaya Sesalkan Ada Oknum Pejabat Dikaitkan Aksi Penculikan Aktivis

    1429 shares
    Share 572 Tweet 357
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    1151 shares
    Share 460 Tweet 288
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2983 shares
    Share 1193 Tweet 746
  • Citilink dan Aqua Hadirkan Flomiland, Instalasi Seni Interaktif Baru di Terminal 1C

    727 shares
    Share 291 Tweet 182
  • Persija Revisi Agenda Pramusim, Piala Presiden Jadi Ujian Sebelum TC Thailand

    691 shares
    Share 276 Tweet 173
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.