• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Tahun Komitmen

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Jumat, 31 Desember 2021 - 08:00
in Disway
disway

disway

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Ini seperti terperosok ke lubang –yang saya sendiri penggalinya.
Saya bisa memaklumi keluhan pembaca: bagaimana bisa membaca ulang lebih 350 Disway untuk bisa memilih yang terbaik selama 2021. Apalagi waktu yang disediakan hanya setengah hari.

BacaJuga:

Serba Mirip

Hoax Bijaksana

Dokter Icha

Karena itu, saya begitu terharu melihat banyak juga yang telah mengerjakannya: N. Ikawijaya, Bitrik Sulaiman, Robba Batang, Budi, Masruroh Ruroh, Disway Reader, Aryo Mbediun, Parikesit, Dinan Terang, Leong Putu, Syaiful M, Yea Aina, Iqbal Safiul Barqi, Thamrin Dahlan Ibnuaffan, Ma’roef M, Supri Ajee, Emji, ChAn Reader, Johan, Mirza Mirwan, Hendri 18081545Maruf, Heiruddin Arafah, Mbah Mars, Disway1808672, RAMPunjabs, BunBayu, mama e bocah Reader, Disway 18081057, Aji Muhammad Yusuf, rid kc, Amat…

Total hampir 40 orang. Saya sampai kelelahan membaca semuanya. Apalagi waktu yang tersedia hanya dua jam. Maka hari ini tidak cukup waktu untuk memilih komentar pilihan.

Dari 35 pemilih itu ternyata hanya tiga orang yang pilihannya sama: soal Disway Pilihan. Dua orang memilih soal 2T. Selebihnya, memilih topik yang berbeda-beda. Betapa beragam minat, misi, keinginan orang.

Saya bersyukur bisa menutup Disway pada 2021 dengan tanpa bolong-bolong. Pun di saat saya harus masuk rumah sakit –terkena Covid-19 di awal tahun: saya masih bisa terus menulis.

Apakah itu berarti hobi saya adalah menulis –seperti yang disangkakan Prof Pry di komentar Disway dua hari lalu? Hobi sebagai wartawan purnatugas?

Kalau saja menulis itu sekadar hobi, alangkah celakanya saya:  punya hobi saja yang menyiksa diri. Sampai dimarahi  istri karena hanya bisa menjawab hmm hmm saat dia curhat. Dan tetap hmm hmm sambil mendengarkan dia marah.

Juga, untuk apa punya hobi harus membaca komentar Anda yang sering sampai 400 lebih itu?

Hobi tentu suatu kegiatan yang kalau dikerjakan menimbulkan kesenangan. Dari sudut ini benar: saya memang senang membaca komentar-komentar itu. Sering terhibur. Tersenyum-senyum. Kadang sampai tertawa. “Tuh, kai mu sudah gila,” celetuk istri saya pada cucunya.

Tapi yang namanya hobi tentu baru dikerjakan kalau lagi mau mengerjakan. Dari kriteria yang satu ini menulis Disway sama sekali tidak bisa disebut hobi.

Bayangkan: saya harus tetap menulis di saat paling suntuk sekalipun. Kalau suntuknya masih pagi saya masih bisa bilang ke diri sendiri: nanti saja. Kalau sampai siang masih suntuk saya masih bisa bilang: nanti sore saja. Pun ketika sudah sore: nanti saja menjelang magrib.

Kalau menjelang magrib itu tiba tidak ada lagi ruang untuk berkelit. Harus menulis. Pun ketika belum punya ide. Pun ketika suntuknya meningkat. Pun ketika mendadak ada urusan –sampai harus menulis sambil di perjalanan.

Coba, hobi macam mana itu.
Itu sama sekali bukan hobi.
Itu siksa.
Siksa dunia.

Semoga mengurangi siksa kubur.
Tapi mengapa saya melakukan itu –memaksakan diri menulis setiap hari?
Saya teringat ayah. Almarhum.

Hari itu keluarga kami seperti mau kiamat. Kakak sulung saya –satu-satunya yang punya penghasilan tetap sebagai guru madrasah– harus pergi ke Kalimamtan: Samarinda.

Ibu sudah lama meninggal. Sawah sejengkal sudah terjual. Meja, kursi, dipan, lemari sudah jadi nasi. Tikar mendong sudah bolong-bolong.

Kakak harus pergi. Tak terkirakan jauhnya –untuk ukuran saat itu. Ayah tahu: anak wanitanya itu harus pergi.

Saya tidak tahu –kecuali setelah dewasa: saat itu kakak lagi patah hati yang sangat berat. Calon suami pilihannya dilarang menikahinya: masih sepupu. Dia memilih pergi –dengan tekad tidak akan pernah kembali. Dia tinggalkan gajinya untuk kami –lewat surat kuasa untuk mengambil gaji.

Dia sudah siap menderita di rantau –daripada hancur di kampungnya.
Pada jam keberangkatannya seluruh keluarga, tetangga, kerabat berkumpul di halaman. Mereka menangis-nangis.

Terutama ketika sado yang menjemputnya tiba. Untuk membawanya ke kota –dari Kota Madiun akan naik kereta api ke Surabaya, lalu naik kapal laut ke Samarinda. Pak kusir membantu kakak saya menaiki sadonya.
Berangkat.

Tidak ada lagi bunyi sepatu kuda. Tidak ada suara apa-apa. Sedu dan sedan sudah lama mengeringkan air mata.

Sado pergi.
Kakak pergi.
Tetangga pergi.
Kerabat pergi.
Yang tinggal hanya sepi.

Ayah mengajak saya duduk di emper. Di atas balai-balai bambu –amben. Lantai tanah masih basah, bekas kebanyakan disiram air agar tidak berdebu.

“Dakelan… ,” kata ayah saya membuka pembicaraan. Ia tidak bisa mengucapkan ”h” yang berat di nama Dahlan. “Tahukah kamu kenapa ketika semua orang tadi menangis ayah tidak menangis?”
Saya diam.

“Sebetulnya ayah tadi juga ingin menangis. Tapi ayah ingat pesan guru. Harus bisa  mengikhlaskan apa saja,” katanya.
Saya masih diam.

“Ayah tadi tidak menangis karena sedang berlatih ikhlas. Ikhlas itu harus dilatih,” tuturnya. “Agar kelak, ketika kita menghadapi sakaratul maut, meregang nyawa, kita sudah terlatih untuk ikhlas.”

Ayah begitu fasih menirukan kata-kata gurunya. Guru yang dimaksud ayah adalah dalam pengertian guru spiritual: guru tarekat Syatariyah.

“Ayah khawatir, kalau kehilangan mbakyumu saja tidak ikhlas bagaimana kehilangan nyawa kelak,” ujar ayah.

Ikhlas harus dilatih. Latihan ikhlas harus dilakukan. Kata-kata ayah itu terus terngiang sampai saya besar. Sampai sekarang.

Berarti bersabar juga harus dilatih. Tersenyum juga harus dilatih. Mengucapkan terima kasih harus dilatih.
Latihan seumur hidup. Untuk menghadapi sakaratul maut kelak.

Komitmen juga harus dilatih.
Menulis di Disway setiap hari adalah latihan bagi saya untuk terus bisa memegang komitmen.

Banyak yang suka mengingkari komitmen dengan berbagai alasan –yang kadang memang masuk akal. Saya mencoba berlatih dengan cara yang keras: mengikatkan diri pada beberapa komitmen. Ada yang besar, ada yang kecil.

Menulis di Disway setiap hari adalah komitmen kecil. Karena itu, harus saya jaga. Apa pun halangannya.

Kadang muncul di perasaan untuk menyerah, tidak menulis –terutama ketika sangat suntuk. Lalu muncul perasaan tandingan: kalau untuk komitmen ringan ini saja mudah ingkar bagaimana dengan komitmen yang berat.

Perasaan tandingan itu yang selalu menang. Saya pun mulai memegang HP: menulis.

Komitmen seperti itu tentu berbeda dengan sekadar hobi wartawan purnabakti. Anda tahu itu. Bukan saja dalam menulis tapi juga dalam menjaga mutu.

Saya bersyukur bisa mengikatkan diri pada komitmen. Bahkan tidak hanya satu komitmen.

Saya tahu: Anda juga sudah mengikatkan diri pada komitmen pilihan Anda –saya tidak akan menghitung berapa komitmen yang Anda buat dan seberapa kuat talinya.
Selamat tahun baru.
Dengan komitmen lama. (*)

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Serba Mirip

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:00
Kanan Dalam
Disway

Hoax Bijaksana

Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00
disway
Disway

Dokter Icha

Selasa, 30 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bawah Tanah

Senin, 29 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Ganti Dolar

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Bobotoh Kuning

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2198 shares
    Share 879 Tweet 550
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    852 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    779 shares
    Share 312 Tweet 195
  • Hasil Piala Dunia: Cukur Swedia 3-0, Prancis Tantang Paraguay di 16 Besar

    722 shares
    Share 289 Tweet 181
  • Hasil Piala Dunia: Brace Harry Kane Antar Inggris Comeback Spektakuler

    717 shares
    Share 287 Tweet 179
Pemain-Argentina
Olahraga

Messi Ungkap Kunci Sukses Argentina Singkirkan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026

Editor Juni Armanto
Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:27

INDOPOSCO.ID - Timnas Argentina sukses menumbangkan perlawanan sengit Tanjung Verde dengan skor 3-2 untuk mengamankan tiket babak 16 besar di...

SelengkapnyaDetails
Messi

Atasi Perlawanan Sengit Tanjung Verde 3-2, Argentina Melaju ke Babak 16 Besar

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:31
Salah

Bawa Mesir Lolos ke 16 Besar, Salah Ungkap Alasan Pakai Trik Panenka di Babak Tos-tosan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 08:30
Ramos

Kroasia Gugur di 32 Besar, Zlatko Dalic Ngamuk Sebut Wasit Sangat Buruk

Jumat, 3 Juli 2026 - 19:08
Pemain-Swiss

Hasil Piala Dunia: Swiss Hentikan Langkah Aljazair dengan Kemenangan Meyakinkan

Jumat, 3 Juli 2026 - 16:05
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.