• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Hoax Bijaksana

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Jumat, 3 Juli 2026 - 08:00
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Dahlan Iskan

Hujan lebat menyambut kedatangan saya di Ottawa. Cerita perjalanan lima jam Toronto-Baturaja-Ottawa ini saya simpan dulu. Tidak seseru perjalanan darat Lampung-Kingstone-Palembang.

BacaJuga:

Dominasi Suasana

Datuk Merdeka

Tepat Waktu

Saya juga kangen mereka yang ikut tur bisnis Disway ke Semarang bulan lalu (Disway Explore Business with Dahlan Iskan – Jateng Series).

Ada peserta, wanita, yang sudah mapan berkarir di bank Amerika berhenti bekerja untuk mulai jadi pengusaha. Ada yang bisnis-sosial beromzet ratusan miliar.

Menulis tentang tur bisnis itu bisa untuk selingan dari kebosanan menulis cerita tentang jalan-jalan melulu.

Saya masih ingat: rombongan tur bisnis Disway itu berakhir di pabrik jamu farmasi Sido Muncul. Di Ungaran, selatan Semarang. Pimpinan tertinggi Sido Muncul sendiri yang menyambut kami: Irwan Hidayat.

Di akhir acara, rombongan dijamu makan siang istimewa di pendapanya yang gaya Jawa, di tengah hutan kecil, terpisah dari pabrik.

“Pohon yang bapak tanam dulu sekarang sudah besar. Tuh di sana. Yang batangnya lurus itu,” ujar salah seorang manajer Sidomuncul yang ingat peristiwa lebih 12 tahun lalu.

Kala itu saya sedang menggalakkan tanaman empon-empon rakyat di sekitar hutan jati Perhutani. Perlu pasar yang bisa menampung jahe, kunyit, dan sebangsanya. Di acara itu saya diminta tanam pohon kayu manis.

Hutan di sekitar pendapa sekarang sudah rimbun. Sudah seperti hutan beneran. “Di dalam sana ada 14 harimau,” kata Irwan Hidayat. Lebih banyak lagi binatang lain yang juga dikembangkan di dalam hutan.

Semua binatang dirawat baik. “Kalau binatang saja disayang apalagi orang yang minum Tolak Angin dan Kuku Bima Ener-G,” ujar Irwan berfilsafat.

Ungkapan itu sekaligus terasa seperti curhat mengenai buasnya ”harimau” di medsos zaman sekarang. “Ada saja hoax yang menjelekkan Sido Muncul,” katanya.

Irwan tidak pernah mau menanggapi hoax. Ia punya prinsip sendiri untuk menghadapinya: terus memperbaiki diri dengan cara menutup celah kesalahan sekecil apa pun. Baik dalam produksi maupun dalam menjaga lingkungan,” katanya.

Salah satunya: harus membangun lab yang modern dan mahal. “Agar kalau ada hoax soal mutu Sido Muncul langsung diadakan uji lab yang sangat ilmiah,” katanya. Maka inilah satu-satunya industri jamu yang punya lab setingkat farmasi. Bahkan lebih tinggi dari sebagian perusahaan farmasi.

Pernah, suatu hari, Irwan cari tahu siapa pembuat hoax itu. Apa latar belakangnya. Ia kerahkan kekuatan untuk mencari orangnya. Ketemu. Tidak untuk diadukan ke polisi tapi agar tahu apa motif di balik hoax yang dibuatnyi.

“Jauh sebelum itu saya sudah punya keyakinan hoax tidak mungkin dilakukan oleh perusahaan pesaing. Pengusaha tidak mau melakukan itu,” ujar Irwan.

Ternyata benar. Yang melakukan hoax bukan pesaing. Bahkan bukan pedagang. Dia seorang ibu rumah tangga biasa.

Sang ibu diundang Irwan ke pabrik Sido Muncul. Ditunjukkan padanyi modernitas pabriknya. Juga modernitas peralatan lab-nya. Akhirnya sang ibu mencabut postingannyi.

Bukan itu yang terpenting. Tapi mengapa sang ibu melakukan itu. Ternyata dia sendiri peminum Tolak Angin. Pun suaminyi. Dia memposting hoax semata hanya untuk meraih popularitas.

“Menjelekkan perusahaan terkenal akan ikut terkenal”, itu prinsip orang seperti ibu itu. Sangat spontan. Lalu menyesal. Tapi sudah membuat kerusakan.

Bahwa Irwan tidak melaporkan ibu itu ke polisi, itulah kepribadian asli Irwan. Ia tipe orang yang tidak ingin cari musuh. Promosi Sido Muncul pun dilewatkan jalan kebaikan. Misalnya sambil melaksanakan operasi katarak. Atau bibir sumbing. Mudik Lebaran bareng.

“Kalau toh promosinya tidak berhasil sudah meninggalkan kebaikan. Dari pada promosi yang gagal dan tidak meninggalkan apa-apa,” katanya.

Tidak mau mengadukan orang yang mencelakakannya juga didasari prinsip dalam hidup: harus ada orang yang mau mengalah.

Karena itu di dinding lobi hotel miliknya, Tentrem Semarang, ia pasang lukisan besar seorang ibu Tionghoa yang menasilhati anaknyi tentang pentingnya kebijaksanaan dalam hidup.

Diceritakan, di suatu zaman seseorang datang ke pasar membeli kain. Empat meter. Harga per meter 50. Si pembeli hanya membayar 150. Menurut si penjual 4×50 = 200. Menurut si pembeli 4 x 50 = 150. Keduanya saling ngotot, merasa paling benar.

Mereka pun mendatangkan kepala desa: agar jadi penengah. Kepala desa berpendapat sama dengan penjual: 4 x 50 adalah 200. Tapi si pembeli tetap ngotot 4 x 50 adalah 150. Di dunia nyata memang ada orang seperti itu. Bahkan tokoh. Ia tetap merasa benar meski semua orang mengatakan salah.

Akhirnya kepala desa dan pembeli sepakat datang ke orang yang paling bijaksana di zaman itu: Konghuchu. Mereka sepakat apa pun kata Konghuchu harus dipatuhi. Mereka bertaruh: kalau pembeli yang salah siap dipotong lehernya. Kalau kepala desa yang salah siap kehilangan jabatan.

Keduanya pun datang ke Konghuchu disertai si pedagang. Di depan Konghuchu Kepala desa ngotot yang benar adalah 200. Si pembeli ngotot yang benar adalah 150. Masing-masing juga menceritakan taruhan mereka.

“Nabi Konghuchu, 4 x 50 itu berapa?” tanya kepala desa.

“150,” jawab Konghuchu.

Kepala desa tentu protes keras. Kenapa Konghuchu bisa menjawab begitu.

“Sebetulnya yang benar adalah 200,” ujar Konghuchu. “Tapi kalau saya jawab begitu akan ada satu orang yang mati.”

Rakyat baiknya ikut bijaksana seperti Konghuchu saat melihat ada langkah yang dianggap salah. (Dahlan Iskan)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Dominasi Suasana

Selasa, 18 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Datuk Merdeka

Senin, 17 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Tepat Waktu

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Zhu Rongji

Jumat, 14 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Sutrimo Winda

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00
disway
Disway

Deleg Deleg

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • antam

    Harga Emas Pekan Depan Bakal Berayun, Selisih Proyeksi Capai Rp300 Ribu

    3262 shares
    Share 1305 Tweet 816
  • Bea Cukai Yogyakarta Awasi Pemusnahan Rokok HM Sampoerna, Pastikan Sesuai Ketentuan

    2077 shares
    Share 831 Tweet 519
  • METOO Dorong Kesadaran Kesehatan Mulut Lewat Inovasi Perfume Toothpaste

    928 shares
    Share 371 Tweet 232
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3879 shares
    Share 1552 Tweet 970
  • Polisi Blokade Mahasiswa di Thamrin, Ini Lokasi Demo yang Diperbolehkan

    838 shares
    Share 335 Tweet 210
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.