• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Ganti Dolar

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Minggu, 28 Juni 2026 - 08:00
in Disway
disway
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Khayalan saya melayang jauh ke Ekuador ketika menonton tim sepak bola negara itu mengalahkan raksasa Eropa 2-1 di stadion New York New Jersey Kamis lalu.

Ekuador berpenduduk sebesar Malaysia. Negara itu terkena krisis moneter yang sama beratnya dengan Indonesia. Di tahun yang sama pula: 1998.

BacaJuga:

Bobotoh Kuning

Tiket Lungsuran

Wani 2727

Yang juga sama: krisis moneternya berkomplikasi dengan krisis politik yang berat. Sampai presidennya dijatuhkan. Di Indonesia Soeharto, di Ekuador Jamil Mahuad.

Dua negara itu berbeda jalan dalam mengatasi krisis ekonomi politiknya. Indonesia pernah dalam keadaan bimbang yang panjang: antara mem-peg-kan rupiah ke dolar, atau membiarkan rupiah pakai kurs mengambang. Pasar uang sampai bingung ambil sikap.

Tanda-tanda rupiah akan di-peg (kurs rupiah dipatok tetap terhadap dolar) begitu kuat. Pak Harto sudah bertemu ahli ekonomi dunia yang menyarankan teori itu: Steve Hanke dari John Hopkin University, Amerika Serikat.

Tapi IMF menentang langkah itu. Pun Amerika. Banyak ahli ekonomi Indonesia sendiri yang tidak setuju. Pak Harto begitu bimbangnya saat itu. Mungkin karena Pak Harto sudah terlalu tua untuk mengambil keputusan tepat.

Anda sudah tahu: Pak Harto akhirnya ikut pendapat IMF. Kurs rupiah pun jatuh ke jurang. Orang panik. Satu dolar menjadi Rp17.000. Terjadi kerusuhan. Pak Harto pun jatuh.

Di lapangan saya lihat seluruh pemain bola Ekuador bekerja keras. Lawan mereka raksasa Jerman di Piala Dunia tahun 2026 ini. Tapi tim Ekuador lebih semangat. Mereka menyadari beda kelas.

Hanya tiga pemain Ekuador yang masuk level Liga Eropa: satu di Chelsea, Inggris, dan satu di PSG, Prancis. Ups…satu lagi di Sunderland, Inggris, yang cetak gol pertama ke gawang Jerman: Nelson Angulo. Sedang yang mencetak gol kemenangan adalah Gonzalo Plata yang bermain di Flamengo.

Perbedaan kelas itu ditutup oleh tim Ekuador dengan semangat. Ekuador dalam krisis: harus menang untuk bisa lolos dari krisis.

Semangat yang sama ditempuh Ekuador dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 1998. Presiden Mahuad mengambil keputusan cepat yang penuh risiko saat itu: ia mengganti mata uang Ekuador, sucre, dengan dolar Amerika.

Pro-kontra luar biasa. Yang pro menganggap itulah jalan rasional untuk menstabilkan ekonomi yang sangat kacau. Yang kontra hanya mengandalkan alasan nasionalisme dan jati diri.

Jamil Mahuad didemo habis-habisan. Mahuad jatuh. Ia harus ditangkap. Ia dianggap melakukan kejahatan penyalahgunaan wewenang. Yang dianggap paling besar adalah: membekukan seluruh tabungan dan deposito masyarakat. Maksud baiknya: agar tidak terjadi rush –semua orang mengambil tabungan di bank. Tidak ada bank yang bisa bertahan kalau sudah di-rush. Apalagi sudah seperti di Indonesia: sudah puluhan bank di Ekuador yang tutup.

Ada krisis tambahan saat itu: Ekuador lagi dilanda El Nino. Panen gagal. Panen apa pun. Pohon-pohon pisang kering. Padahal ekspor pisang adalah andalan Ekuador. Negara itu persis Indonesia: berada di garis katulistiwa. Cuacanya, iklimnya, panasnya, hujannya, sama. Pun warna kulit penduduknya.

Sepak bolanya yang lebih maju.

Presiden Mahuad jatuh karena menggantikan mata uang lokal menjadi dolar. Tapi presiden penggantinya, yang lebih nasionalis, ternyata tetap mempertahankan putusan Mahuad. Pun presiden-presiden setelahnya. Sampai sekarang. Sudah 25 tahun mata uang Ekuador sama dengan mata uang Amerika Serikat.

Maka para pemain sepa kbola Ekuador tidak perlu bingung dengan kurs. Tidak perlu kaget-kaget seperti saya: kok Amerika serbamahal begini ya –karena gaji dan otak saya masih rupiah.

Kini pendapatan perkapita Ekuador USD7.000 –Indonesia USD5.000. Sama-sama meningkat dibanding 25 tahun lalu. Hanya angka inflasi Ekuador tidak sampai satu persen. Harga-harga lebih stabil. Inflasi kita tiga persen.

Di mana presiden ”dola”’ Mahuad sekarang? “Apakah masih di dalam penjara?” tanya saya kepada orang Ekuador yang duduk di sebelah saya di stadion New York New Jersey.

Hari itu, di sekitar saya memang dipenuhi pendukung Ekuador.

Di sela-sela mereka ada pendukung Jerman, sedikit.

Hanya empat orang yang mendukung Persebaya.

“Siapa? Mahuad? Saya tidak tahu,” jawab penonton itu.

Lalu saya perhatikan wajahnya. Oh, terlalu muda untuk tahu peristiwa 25 tahun lalu.

Mahuad, waktu itu memang hanya dua tahun menjadi presiden. Berbeda dengan Pak Harto. Banyak orang Indonesia masih tahu siapa Pak Harto –apalagi sering diingatkan di tulisan di belakang bak truk: masih lebih enak zaman saya tho?

Berarti saya harus bertanya ke penonton yang lebih tua: apa kabar Mahuad sekarang.

Ternyata ia sudah tidak di penjara. Mahuad memang dijatuhi hukuman penjara 12 tahun, tapi saat putusan itu dijatuhkan Mahuad sudah di Amerika. Rupanya penguasa baru Ekuador tidak benar-benar ingin memenjarakan Mahuad. Ia sudah berada di Amerika sebelum ditangkap. Perkaranya pun disidangkan secara in absentia –tanpa kehadiran terdakwa.

Jangan-jangan Mahuad berada di stadion yang sama saat saya menyaksikan Ekuador lawan Jerman itu.

Saya sapukan pandangan saya ke seluruh stadion: saya tidak melihatnya karena saya memang tidak pernah tahu wajahnya. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 27 Juni 2026: Wani El-Tri

Achmad Faisol

yang saya tulis ini kisah nyata, bukan sekadar asumsi…

banyak orang sini kerja di luar negeri termasuk amerika bukan untuk hidup selamanya di sana…

mereka tentu hemat banget di sana, tetapi dari gaji yang minim pun di amerika, kalau dikirim ke sini jadi besar… gaji 2000 dolar, misalnya, dikirim ke sini 1000 dolar…

mereka menabung untuk kembali ke sini… di luar make money, dinikmati di sini kemudian…

Achmad Faisol

“Jam 11.00,” lanjut saya.

#######

sementara itu, di sebuah negara dengan banyak sebutan:

“ambil tikar kapan…?”

“habis isya’…”

betapa sang tuan rumah menunggu… 21.00 juga habis isya’… inilah rumitnya janjian dengan kebanyakan orang sini…

kadang mau minta kepastian pukul berapa ada rasa sungkan… itu juga yang menghinggapi perasaan kebanyakan orang sini…

sering kali juga, sudah ditulis rapat pukul 19.00, eee 19.00 ternyata masih otw…

Leong Putu

Bismillah 2027 iku maknane opo, Cak?

Opo 2027 iku targete Pak Bos rabi maneh?

Jo Neka

Maaf pak Dahlan..Tulisannya lompat².Mirip omon².Yang membuat orang dengan 1Q..sedikit jongkok seperti saya tidak memahami isinya…Sebentar tiket lungsuran.Alinea berikut etiket saat menjadi tamu.Alinea berikut menjadi pembicar di Sabuga..Liuer aing..

wirasathya ngurah ray

Istilah tiket lungsuran disini berbeda dengan istilah lungsuran di kampung saya khususnya orang Hindu/ Bali. Bekas persembahan kepada Tuhan dan bisa dinikmati, itu disebut lungsuran. Tapi kalau belum dipersembahkan itu namanya “sukla” baca sukle. Suksma

Agus Cahyono

Abah DI bertemu dengan suporter Mexico yg sama2 ada unsur kuning dan saya sebagai bonek bangga karena pemain persebaya yaitu Fransisco Rivera juga dr Mexico. Wani

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

ANDREAS RENARD WIDARTO:

GELAR PANJANG,

PROSES LEBIH PANJANG..

Namanya, kalau ditulis lengkap dengan gelarnya:

Dr. Ir. Andreas Renard Widarto, S.T., M.M., IPM.

Menarik untuk dicermati.

Ia memang lulusan SMA Taruna Nusantara. Lalu menempuh pendidikan di ITB dan meraih doktor dari Undip.

Kini ia dikenal sebagai pengusaha di bidang teknologi dan infrastruktur data melalui PT Sentral Data Nusantara/ KBP Group.

Nama Mandarinnya:

唐欣强.

Dibaca Táng Xīnqiáng.

Secara harfiah, karakter-karakter tersebut dapat memiliki arti positif terkait “kemakmuran/kejayaan” (唐), “kegembiraan/kesejahteraan” (欣), dan “kekuatan” (强).

Namun dalam konteks ini, ia berfungsi sebagai nama diri.

Tetapi yang paling menarik justru kalimat di profilnya: “Great men are not born great, they grow great.”

Orang besar tidak selalu lahir dengan kehebatan. Mereka tumbuh melalui proses. Melalui disiplin. Melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sekolah memberi lingkungan. Kampus memberi ilmu. Organisasi memberi pengalaman. Namun mental pribadi yang menentukan apakah semua bekal itu menjadi prestasi atau hanya menjadi daftar riwayat hidup.

Renard seolah menunjukkan bahwa gelar di belakang nama hanyalah tanda. Perjalanan untuk “grow great” adalah pekerjaan seumur hidup.

Karena manusia tidak menjadi besar karena panjangnya gelar. Ia menjadi besar karena panjangnya perjuangan.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Riansyah Harun..

Istilah tiket “lungsuran” itu disematkan oleh:

Ngerso Dalem Sampeyan Dalem Bapak Utup Ngoel..

Baca:

Pak Leong Putu..

riansyah harun

Saya lupa, siapa perusuh yang memberi julukan tiket lungsuran itu untuk tiketnya Pak Dahlan. Apa Mas Agus atau Mas Wilwa…. Yang jelas kalimat ini bakalan booming. Apalagi bagi kami kami yang juga hobi mencari tiket lungsuran.

Kalau sudah gila bola, apapun di terobos. Sampai sampai Kereta Api pun di lempari batu oleh para “perusuh” sepak bola yang tim kebanggaannya kalah. Uppsss.., itu di dunia lain, entah kalau di negara yang lagi melaksanakan Piala Dunia saat ini. Apa ada juga fans yang seperti itu…???

Em Ha

Ada apa dengan 2027?.

Mungkin Eyang Agus bisa kasih kita info bocorannya. Tulisan di kaos Abah mengundang tanya.

Bismillah PKU-JKT tulis saya di group WA keluarga. Itu hari rabu kemaren, jam 8 pagi. Sepanjang jalan lintas timur Sumatera, kami menyaksikan beratnya perjuangan sopir truk. Antrian solar mengular di semua SPBU. Kami pun merasakan macetnya.

Butuh 16 jam untuk sampai ke kampungnya Pak Dahlan Thamrin. Normalnya 10 jam sudah masuk pintul tol Tempino. Subuh kami tiba di Sungai Lilin. Banyak Masjid dengan ukiran mewah. Tempat kami numpang berbaring menghilangkan lelah.

Kenapa saya bisa ‘Pertamax’ di Jumat kemaren?.

Kami di kapal ASDP menyeberangi Selat Sunda. Tepat jam 4 subuh kami antri keluar menginjakkan kaki di Pelabuhan Merak. Buka CHD ketik angka ‘1’.

Di tanah Jawa. Antrian Solar itu sudah tiada…

Sungguh malang nasibmu Sumatera.

siti asiyah

Saya ikut seneng lihat foto pak DI bisa nonton piala dunia di Amerika.

Gak meri ataupun ngiri.

Tapi saya ngiri se-ngiri ngirinya manakala pak presiden dengan mobil maung kebanggaannya melintas Nganjuk meresmikan museum Marsinah.Sunguh saya ngiri sengiri – ngirinya.

Dimasa dunia sudah seterbuka ini , pak presiden kita terus menghidupkan visinya dimasa mantan mertuanya.Memobilisasi anak anak sekolah hanya sekedar melambaikan bendera seolah senang menyapa presidennya, memobilisasi TNI – Polri menuruti program MBG dan KDMP-nya.Semua harus seragam, serempak dan siap menjawabnya.Mengumpulkan kerabat , teman dekat dan mantan timsesnya dalam pekerjaannya.

Padahal dunia sedang bergerak maju, kita kayaknya malah senang hidup di-era orde baru.

Yakin masih ada mimpi timnas masuk piala dunia ???

Herry Isnurdono

Abah DI sudah tua, 74 th…sudah pikun ? Tidak sedikit pelupa aja…Sekolah Taruna Nusantara (TN) di Magelang (Jateng), bukan Prabowo yg mendirikan. Tapi LB Murdani, saat itu Menhankam. Konsepnya bikin Sekolah setingkat SLA/SMA, dgn konsep seperti Taman Siswa dan Akmil (Akabri). Yang mengelola Yayasan dibawah Dep. Hankam. Saat itu Yayasan di bawah Dep. Hankam sudah punya UPN Veteran di Jkt, Yogyakarta dan Surabaya. Pimpinan Yayasan, rata2 pensiunan TNI (Jenderal purn.). Sekarang alumni TN Magelang sudah banyak pegang posisi di pemerintahan PS. Seperti Menlu, Menko AHY, Dirut Pertamina, Seskab Letkol Teddy dll. Rata2 lulusan TN Magelang melanjutkan study di Akmil/AAU/AAL/Akpol. Tapi banyak yg kuliah di UGM, ITB, UI dll. Ada teman Seskab Teddy di TN, yg sekarang dokter spesialis syaraf di RS Siloam, Yogyakarta. Kebetulan saya jadi pasiennya (dr. Lothar Sp. S. Msc. Keponakan saya (anak perempuan adik saya), lulusan TN, kuliah UGM, kerja di BMRI, sekarang pindah di Bank MFUG (dulu Bank Of Tokyo) Jkt. Rata2 lulusan TN memang pintar2, karena diseleksi dari lulusan SMP2 yg terpilih. LB Murdani dulu pengin sekolah yg siswanya tidak tawuran antar sekolah, dan siswanya menyontek jika ujian. Sekarang konsep TN ditiru Presiden PS dgn mendirikan TN di Malang, Bekasi dan IKN.

Liam Then

Saya selama ini mengingat di Pontianak juga ada sekolah Taruna Nusantara. Ternyata keliru. Ada tapi beda sedikit. Yang di Kalbar namanya SMA Taruna Khatulistiwa, sekolah berasrama juga.

Disain seragam murid-muridnya gagah dan cantik ala style taruna. Saya ingat kenalan begitu bangga anak lanangnya berhasil masuk SMA itu, memang gagah ketika ketempelan seragam itu, tegak ,tegap, tampilkan citra generasi muda yang kuat dan cerdas.

Entah apakah sekolah di sini harus bayar atau ada model beasiswa sisea berprestasi. Yang jelas kriteria seleksinya pasti lumayan ketat.

Didirikan di atas area seluas 7 hektar, di jalan Protokol A Ayani 2 oleh Pak Adianto, pemilik Bumi Raya Group. SMA Taruna Khatulistiwa ini dulu diresmikan oleh Pak Harto waktu pembukaannya di tahun 1990-an.

Group usaha ini sangat legendaris di Kalbar, semua orang kenal, karena terbiasa baca papan pelang pengumuman di atas kapling-kapling lahan super luas seantero Kota Pontianak khususnya di jalan Protokol A Yani yang bertuliskan :

“Tanah ini milik Bumi Raya Group”

Er Gham 2

Gerakan tanpa bola. Salah satu kenikmatan nonton langsung di stadion adalah melihat gerakan tanpa bola dari para pemain. Nonton di televisi terbatas pada arah kamera, yang cenderung bergerak mengikuti bola. Namun manuver pemain lain yang jauh dari bola kadang tidak tertangkap kamera.

Misal bola ada si sayap kanan luar. Maka arah kamera tertuju ke sana. Padahal ada seorang pemain yang sedang melakukan lari sprint di sayap kiri, dan dikejar oleh pemain lawan lain.

Selain melihat gerakan tanpa bola, nonton di stadion juga bisa lihat perilaku pelatih. Misalnya seorang pelatih sedang kesal dan maki maki pemain nya. Hehehe. Atau kebetulan bisa lihat penonton lain dengan 7i.

Liam Then

Pesan tempat parkir di muka 4jt. Bayangkan di kita sini, bayar 2 ribu parkiran motor ke tukang parkir saja ada yang misuh-misuh.

Tapi memang, bayar parkir rp.2000 kadang rasanya gimana gitu, karena tidak resmi. Rasanya seperti dipungli. Enak sekali, cuma duduk, dorong sedikit, X 10 motor sudah 20.000, x100 per hari? Tapi jangan misuh, hidup berkomunitas selalu ada harganya.

Belakangan baru tahu, ternyata lapak parkiran, juga ada bisnis dibelakangnya. Bisa diperjual belikan. Abang-abang tukang parkir itu, ternyata kebanyakan cuma bawahan, masih harus setoran ke bosnya per hari sekian. Hidup mereka tidak gampang, setidaknya ada mereka mau kerja jujur, meskipun bagi kita nampak tidak kerja, duduk saja, narik rp.2000.

Dari setiap lembar 2000, yang mereka tarik, harus bagi lagi ke bos pemilik lapak parkiran.

Pernah ada cerita dari teman, temannya beli lapak parkiran puluhan juta, ndak lama toko didepannya tutup. Langsung hangus.

Tak perlu kita misuhkan kerja abang tukang parkir. Sebaliknya justru harus kita empatikan nasibnya, semuda itu, menghabiskan waktu muda yang berharga, menarik pungutan, duduk menunggu nasib, menghabiskan umur, mengais recehan rp.2000, yang bukan sepenuhnya milik mereka. Masa depan mereka tergadaikan.

Memang itu pilihan mereka. Tapi pilihan itu ada, karena opsi lain yang sempit pintunya.

Hidup di Indonesia, penuh cerita. Tapi jangan menyesal hidup di Indonesia.

Sungguh kalau dipikirkan, Indonesia ini tanah surga. Kultur masyarakatnya istimewa.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Er Ghan..

RAMBUT GONDRONG ALUMNI TARUNA NUSANTARA .

Siapa ya?

Saya tidak kenal.

Tidak ingat.

Tidak tau.

Tapi cerita alumni SMA Taruna Nusantara yang saat kuliah berambut gondrong memang menarik.

Siapa ya.

Jangan-jangan memang bukan tokoh nasional yang terkenal, tetapi hanya cerita personal dari seseorang yang kebetulan pernah melihatnya.

Namun kisah ini menarik untuk direnungkan.

Pendidikan Taruna Nusantara membentuk disiplin, kepemimpinan, dan karakter.

Tetapi setelah lulus, alumninya tetap manusia biasa.

Ada yang menjadi tentara, pejabat, pengusaha, ilmuwan, bahkan ada yang memilih gaya rambut seperti anak band.

Rambut gondrong tidak otomatis berarti kehilangan disiplin.

Yang penting bukan panjang rambutnya, tetapi panjang tanggung jawabnya.

Er Gham 2

Masih ingat dulu ada mahasiswa lulusan TN. Namun potongan rambutnya tidak seperti umumnya seorang yang pernah dididik semi militer. Rambutnya dibiarkan gondrong, seperti melihat anak band saja. Yang tersisa cuma tubuhnya yang masih tegap dan berisi. Mungkin rambutnya sengaja dipanjangkan gondrong sebagai bentuk protes ke orang tuanya yang sudah memaksa ybs sekolah di TN. Entahlah apa motivasinya.

mario handoko

selamat siang bp thamrin, bp agus, bp jo, bp sumartan, bp udin, bp em ha, bp haji jokosp dan teman2 rusuhwan.

“terungkap. dentuman kembang api di prambanan berasal dari pre wedding sespri presiden prabowo. digelar 3 hari.”

demikian berita di kompas.com.

sespri presiden. rizky irmansyah. menyewa kawasan candi prambanan dan candi plaosan untuk mengadakan pesta pre wedding.

tentu kita rusuhwan rusuhwaty memuji kemampuan sang sespri. dalam mencari sponsor untuk mengadakan acara pre wedding.

terlalu banyak makan babat/

memicu penyakit asam urat/

pesta2 adalah hak pejabat/

bayar pajak adalah kewajiban rakyat/

Irary Sadar

Om Liam…,

Dulu ditempat kami juga ada PT. yang juga terkenal. Perusahaan buesarr -menurut saya waktu itu. Pabriknya selalu dikunjungi masyarakat setiap Sabtu atau Mingu sore. (saya lupa pastinya). Bukan untuk bersilaturahmi, tapi untuk berebut barang reject.

Ya,barang reject yang tidak bisa diolah lagi nanti dibuang oleh mereka dan jadi rebutan warga. Rejcet menurut mereka, adalah berkah bagi warga.

Setiap Sabtu sore mereka akan membuang limbah kayu hasil industri mereka. Sisa balok, kayu , papan dan segala macam jadi rebutan.

Semua diambil warga, rebutan. Siapa cepat dia dapat. Ada beberapa trip gerobak dengan rel seperti kereta api meluncur dari dalam pabrik. Belum sampai ujung sudah ditarik-tarik warga.

Jika kosong, gerobak kembali lagi kedalam…

Kalau saya dan abang saya tidak mengincar semua. Kami hanya mengincar kayu bulat panjang, mirip tangkai sapu saat ini, hanya diameter sedikit lebih besar. Lumayan buat untuk disusun jejer jadi pagar kandang Angsa…

Seru memang. Kenangan zaman SD.

Sayang PT. Uniseraya kini sudah bangkrut. Krisis bahan baku dan regulasi membuat Uniseraya gulung tikar.

Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺

@pak Bahtiar..

1) Dibiayai kas Disway.

2) Ini kan tugas penulisan.

Halan-halan dibiayai perusahaan.

Dalam rangja tugaa.

Yaitu nulis artikel “Catatan Harian Dahlan”.

3) Ada SPPD – nya.

Surat perintah perjalanan dinas.

4) Yang memerintahkan dan menandatangani surat perintah:

Diri sendir..

Bahtiar HS

Dalam Novel Sepatu Dahlan, sepanjang pengetahuan saya, Dahlan Iskan punya mimpi utk punya Sepatu dan Sepeda hanya utk bisa pergi ke sekolah. Biar nggak nyeker lagi yg menyebabkan kakinya kepanasan, melepuh, lecet, luka. Sesederhana itu. Tdk ada kaitannya dg sepakbola.

Abah pun tdk punya jejak portofolio sbg pesepakbola profesional misalnya Persetan (Persatuan Sepakbola Magetan). Eh, Persemag Magetan. Paling2 main bola biasa bagian dari kegiatan bal-balan persahabatan korporat atau lembaga. Jawa Pos misalnya. Duluuu. Atau sepakbola kampung masa kecil –yg hampir kita semua mengalaminya. Jadi praktis tidak ada darah sepak bola mengalir di tubuhnya.

Tp kok begitu maniaknya sama sepak bola ya? Sampai2 ke Amrik buat nonton Piala Dunia –lepas dari tiketnya dari mana, mungkin juga ke sana dibiayai sponsor (lihat saja logo2 di kostumnya itu). Org nggak akan repot2 dan capek2 perjalanan ke dunia yg berbeda zona 12 jam kalau tdk krn seneng atau seneng banget. Apalagi jk harus bondo dewe, ya sdh pasti maniak itu.

Mkn krn Abah pernah membawa JP yg stagnan, dg ngasih porsi berita sepakbola, khususnya Persebaya, di JP? Yang lalu JP meledak oplahnya. Dan Persebaya makin terkenal. Juga Boneknya. Hingga Abah ditunjuk memimpin Persebaya, yg totalitas ngurus klub bola itu hingga membuahkan hasil: Persebaya jd Juara Kompetisi Divisi Utama PSSI 1988. Sekaligus momen lahirnya gerakan Tret-tet-tet di mana ribuan suporter Bonek Persebaya menghijaukan Senayan.

Juve Zhang

Usia rata rata manusia Jepang unggul rata rata 80tahun….apakah mereka kaya raya jelas ya ….tabungan mereka termasuk ranking top dunia ….saya masih ingat baru lulus kuliah kerja sama kontraktor jepang duit nya sangat banyak….gaji kita sudah top di pasaran Dunia per sarjana teknik tapi melihat dan mendengar gaji mereka WOW …serasa mendengar cerita fiksi….itulah jepang di era Kejayaan nya dan begitu sampai sekarang masih kaya raya….apakah Penduduk Tiongkok mulai menyusul betul …. sekarang tabungan Rakyat Tiongkok sudah mencapai 166. Milyar USD….diluar tabungan perusahaan atau negara….jelas mereka makmur kaya raya dan usia hidupnya juga panjang 80an rata rata…. Ternyata banyak uang di tabungan ikut mempengaruhi usia panjang penduduk suatu negara ….jadi dimana pun anda hidup jika tabungan anda jumbo dibanding rata rata penduduk lainnya anda akan hidup lebih rileks dan gak perlu minum Amlodiplin atau obat penurun stress….kalau survei sekarang mayoritas yg minum Amlodiplin karena beban hidup yg berat….

yea aina

Mungkin para elit negara sekarang ini, sudah “ketularan” suporter militan bola. Hanya bisa menyerukan yel-yel penyemangat, tapi belum tentu bisa melakukannya. Ngomong wona-wani tapi asline wedi.

Di atas podium mirip dengan di pinggir lapangan bola.Bisa. omon-omon dan teriak menyemangati Tim kesayangan, tapi tidak terlibat main di lapangan sama sekali.

Omon-omon pentingnya kedisiplinan ala militer untuk mewujudkan “janji kosong” kampanye. Tapi toh 2 orang pensiunan tentara dan polisi, dicokok, jadi pesakitan skandal korupsi di badan gizi. Rasanya seperti membenarkan sinyalemen, bahwa MBG itu maling berkedok gizi.

Atau mau dirubah namanya, karena malu. KBKG koruptor bertopeng kecukupan gizi.

Leong Putu

Udah lama ndak denger kabar Hati lungsurannya Pak Bos. Gimana keadaanya, sehatkah? Kapan hari waktu jadwal kontrol, Pak Bos ndak pernah cerita hasil cek_upnya.

Layak jadi satu judul artikel:

Hati Lungsuran.

:):)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Bobotoh Kuning

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Tiket Lungsuran

Kamis, 25 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Wani 2727

Rabu, 24 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Manajemen Kancilen

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Batu Mala

Senin, 22 Juni 2026 - 08:00
disway
Disway

Undangan Sirry

Minggu, 21 Juni 2026 - 08:00

BERITA POPULER

  • Ronaldo

    Hasil Piala Dunia: Ronaldo Pimpin Portugal Berpesta, Inggris Kehilangan Taji di Hadapan Ghana

    1722 shares
    Share 689 Tweet 431
  • Hasil Piala Dunia: Portugal Libas Uzbekistan 5-0, Martinez Sanjung Habis Cristiano Ronaldo

    1689 shares
    Share 676 Tweet 422
  • Hasil Piala Dunia 2026: Kalah Telak dari Prancis, Pelatih Norwegia Sengaja Simpan 10 Pemain Andalan

    1559 shares
    Share 624 Tweet 390
  • Hasil Piala Dunia Grup F: Jepang-Swedia Dampingi Belanda ke Fase Gugur

    1084 shares
    Share 434 Tweet 271
  • Piala Dunia 2026: Nagelsmann Ungkap Penyebab Kekalahan Jerman dari Ekuador

    1006 shares
    Share 402 Tweet 252
Pemain-Kolombia
Olahraga

Hasil Piala Dunia Grup K: Portugal Gagal Gusur Kolombia, Kongo Lolos Dramatis

Editor Ali Rachman
Minggu, 28 Juni 2026 - 09:49

INDOPOSCO.ID - Persaingan di Grup K Piala Dunia 2026 resmi berakhir dengan dua cerita berbeda. Kolombia sukses mempertahankan posisi teratas...

SelengkapnyaDetails
Pemain-Kroasia

Hasil Piala Dunia Grup L: Kroasia-Ghana Temani Inggris ke 32 Besar

Minggu, 28 Juni 2026 - 08:18
Tak Gentar Lawan Argentina, Tanjung Verde Optimistis Tatap Babak 32 Besar Piala Dunia

Tak Gentar Lawan Argentina, Tanjung Verde Optimistis Tatap Babak 32 Besar Piala Dunia

Sabtu, 27 Juni 2026 - 14:18
Hasil Piala Dunia : Tanjung Verde Lolos 32 Besar, Deroy Duarte: Rasanya Seperti Bermimpi

Hasil Piala Dunia : Tanjung Verde Lolos 32 Besar, Deroy Duarte: Rasanya Seperti Bermimpi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:16
Hasil Piala Dunia : Uruguay Angkat Koper dari Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa Kecewa Berat

Hasil Piala Dunia : Uruguay Angkat Koper dari Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa Kecewa Berat

Sabtu, 27 Juni 2026 - 11:43
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.