INDOPOSCO.ID – Anda masih ingat siapa ”perusuh” Disway yang menulis komentar seperti ini: jangan bandingkan kereta bawah tanah New York dengan Tiongkok: itu tidak apple to apple.
Hmmm. Saya tertegun. Saya tidak mau langsung membaca komentar berikutnya. Saya berhenti agak lama memikirkan komentar itu. Ia benar. Saya terlalu memuja kemajuan Tiongkok.
Pembangunan jaringan kereta bawah tanah di Tiongkok dilakukan ketika teknologi apa pun sudah sangat maju. teknologi baru apa pun sudah mudah didapat.
Kereta bawah tanah New York dibangun tahun 1904. Seharusnya saya lebih kagum itu: di zaman sekuno itu New York sudah membangun kereta bawah tanah.
Maka kalau di New York keretanya terasa sangat berisik dan kuno seharusnya memang begitu. Mungkin orang New York sendiri, di tahun-tahun itu, juga mengejek London: kereta bawah tanah kok pakai lokomotif uap yang pembakaran ketelnya pakai batu bara.
Padahal itu karena London membangun kereta bawah tanah di zaman lebih kuno lagi: 1860. Seharusnya orang New York justru mengagumi London yang sudah punya kereta bawah tanah sekuno itu. London adalah perintis kereta bawah tanah pertama di dunia.
Kalau nun di tahun 1860 orang Inggris sudah memikirkan kereta bawah tanah; seharusnya apa ya yang kita pikirkan di tahun 2026 ini untuk Indonesia tahun 2222?
Baiklah kita tanya: untuk apa di tahun 1860 orang London memikirkan membangun kereta bawah tanah? Bukankah belum ada mobil sehingga tidak terjadi kemacetan? Hanya untuk gagah-gagahan teknologi?
Ternyata bukan gagah-gagahan. “Di tahun itu London sudah macet,” begitulah literatur mengatakan.
Di zaman itu London macet oleh banyaknya dokar/bendi. Kereta berkuda. London saat itu kota terbesar di dunia. Penduduknya sudah lebih 3 juta orang. Kian tahun kian padat. Revolusi industri membuat London menjadi pusat ekonomi.
Problem London bukan hanya macet. Juga sangat pesing dan berbau. Kotoran kuda tidak tertahankan lagi banyaknya. Maka untuk menghubungkan antar stasiun kereta api di sana dibangunlah jaringan kereta bawah tanah.
Kelak, setelah New York punya kereta api bawah tanah yang pakai listrik London juga berubah. Tidak ada lagi asap batu bara di terowongan kereta bawah tanahnya.
Kasus seperti itu tidak hanya dialami di sektor kereta bawah tanah. Cobalah Anda berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Tatapkan mata ke sepanjang jalan itu. Lalau pindahkan mata ke sepanjang jalan Casablanca. Di sepotong bagian itu terlihat Jakarta lebih indah daripada New York. Itu karena gedung-gedung tinggi di Jakarta dibangun di saat ilmu arsitektur dan ilmu material sudah berkembang sangat maju.
Di zaman pembangunan New York dulu ahli arsitektur kalah oleh ahli teknik sipil. Keindahan kalah oleh kekuatan dan keamanan gedung.
Zaman itu ”indah” dipertentangkan dengan ”kokoh”.
Setelah itu ilmu material sangat maju didukung ilmu kimia. Dulu yang terkait dengan material selalu bermuara di ilmu metalurgi. Kini, bahkan, sudah ada universitas yang menghapus jurusan metalurgi digabung ke ilmu material.
Anda sudah tahu: para arsitek lama sulit mencari bahan yang tipis tapi kuat. Bentuk indah yang mereka inginkan sulit terwujud. Pun bahan yang lentur; selalu punya kelemahan mudah patah.
Kini, dengan kemajuan ilmu bahan, sudah tersedia material ”yang tipis tapi kuat”. Atau ”yang lentur tapi tidak mudah patah”. Saya sering mengatakan kepada para arsitek: “Arsitek di zaman ini sangat dimanjakan oleh ketersediaan material yang sangat beraneka ragam”.
Maka saya membayangkan alangkah mahalnya bila New York harus mengganti jaringan kereta bawah tanahnya yang kuno dengan yang serba-digital seperti di Tiongkok.
Jaringan kereta bawah tanah New York sudah sekitar 400 km. Berarti panjang relnya sudah sekitar 1000 km. Merombak barang sebanyak itu alangkah beratnya.
Memikirkan teknologi kereta bawah tanah itu saya ingat masa lalu: Jawa Pos adalah koran pertama di Indonesia yang fotonya berwarna. Kompas ngotot terbit hitam putih. Koran berwarna dianggap terlalu pop. Murahan. Koran hitam putih lebih elegan. Bermutu.
Saya ingat salah satu alasan bertahan yang dipakai Kompas: “New York Times saja tetap hitam putih”. NYT adalah koran paling bergengsi di dunia.
Dianggap murahan, saya pun ”tersinggung”. Saya terbang ke Amerika. Ke New York. Saya ingin tahu: apa alasan New York Times tetap terbit hitam putih. Sedangkan harian USA Today sudah berwarna.
Saya pun dapat jawabnya: percetakan NYT itu sangat besar. Tidak mudah mengubahnya jadi berwarna. Begitu banyak mesin yang harus ”dibuang”. Begitu mahal kalau harus membeli mesin berwarna dalam jumlah besar sekaligus. Bahkan harus membeli tanah baru. Membangun gedung baru. Gedung lama sudah penuh dengan mesin hitam putih. Kalau pun punya uangnya, tidak bisa cepat merealisasikannya.
Lima tahun kemudian NYT terbit berwarna.
Pun Kompas. Saya tersenyum dengan penuh kemenangan yang ternyata, kemenangan itu, kelak, juga tidak ada gunanya.
Saya membayangkan betapa berat mengubah kereta bawah tanah New York untuk jadi serba-digital. Lebih berat lagi mengubah kereta Indonesia. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 28 Juni 2026: Ganti Dolar
Udin Salemo
Inilah contoh orang orang yang jadi komisaris di negara kulon Vanuatu. Relawan usia 27 tahun tak punya pengalaman urus usaha retail jadi komisaris perusahaan retail minyak. Pemusik jadi komisaris perusahaan pupuk. Aspri artis jadi komisaris perusahaan baja. Pemuja wakil lurah dan mantan lurah jadi komisaris anak usaha perusahaan setrum negara. Pemilik lembaga survey (pemilu) jadi komut pertomono hulu energi. Dan banyak lagi yang aneh-aneh yang bisa jadi komisaris asal pernah jadi tim pemenangan pemilu. Rupanya di negara itu tak perlu punya pengalaman dan pendidikan yang related untuk jadi komisaris. Tak berlaku meritokrasi. Bermimpilah sampai kiamat akan bisa meniru Temasek. Amsiong.
yea aina
Ekuador yang pendapatan perkapitanya USD 7.000, tapi angka inflasi rendah. Tidak sampai satu persen. Sama-sama negeri khatulistiwa, di sini pendapatan perkapitanya seperti mentok di angka USD 5.000, yang ajeg meroket malah angka inflasinya: tiga persenan lebih. Ekuador itu negara pengekspor terbesar udang dunia: 1,2 juta ton per tahun, senilai USD 8,4 miliar. Ojo dibandingke dengan negeri terbesar di Asia Tenggara, yang mengekspor 200 ribu ton per tahun, senilai USD 1,8 miliar. Mungkin karena Ekuador menggati mata uang lokalnya dengan dolar, pendapatan petambak di sana tidak pernah mengalami paradoks yang terjadi di sini: kurs dolar menguat, tapi harga jual udangnya melorot. Mongomong, kapan Dis way mengadakan bisnis trip ke Ekuador? Sekedar bertanya saja, lha mau ndaftar, buka dompet isinya 5 lembar sepuluh ribuan kwkwkw.
Liam Then
Tentang biaya ekonomi. Disela kebiasaan scrolling medsos, saya nemu sebuah video yang isinya begitu bikin gatal pemikiran. Judul videonya sangat menarik, “Motor matik merk XXX harga 9jt !!!” Lalu didalam video, diperagakan kekuatan bodi spatbor plastik motor tersebut, diduduki, diinjak-injak, menolak pecah. Hebat. Tapi bukan itu yang bikin gatal pikiran. Yang bikin gatal pikiran, ternyata itu harga 9jt-an, serius benar adanya, itu harga OTR (Off The Road) , ketika selesai melalui serangkaian proses pungutan pajak, ppn, biaya penerbitan BPKB dan STNK, biayanya langsung melesat naik jadi rp.15+jt. Itu cash, kalau kredit 3 tahun, ada lungsuran biaya cicilan, yang total dibayarkan bisa hampir setara harga motor itu. Sehingga dari asalnya harga 9+jt, jadi potensi lipat tiga+ ke 27-30jt. Ini bukankah biaya ekonomi? Mayoritas konsumen motor, adalah golongan ekonomi kelas menengah sampai menengah ke bawah. Penjualan motor di RI, setahun 6-6,5 jt unit. Sekarang mari berandai-andai, jika misalnya masyarakat menengah, para buruh, pekerja, karyawan, tidak perlu bayar biaya On The Road begitu mahal, di bebaskan. Apakah imbasnya? Pemerintah kehilangan sekian juta x 6jt. Tapi masyarakat, dapat keringanan biaya untuk kegiatan ekonomi 50% lebih murah, apakah imbasnya bagi pemerataan kesejahteraan bakalan besar? MBG sepiring 15rb. Masyarakat ekonomi menengah -menengah bawah per motor kena 5-6jt plus biaya On The Road.
mario handoko
selamat siang bp denny. ada lagi kisah inspiratif ginka febriyanti ginting. dara berusia 27 th ini diangkat jadi komisaris pt pertamina retail. hanya dengan pengalaman kerja menjadi koordinator nasional bison. tidak ada rekam jejak industri energi. tidak ada pengalaman korporasi. andai abah tahu. kriteria apa yg dibutuhkan untuk jadi komisaris pertamina retail. tolong di spill infonya. karna kita ya ingin daftar jadi komisaris. berkemeja lengkap dengan dasi/ untuk mengikuti koor nasrani/ yang namanya meritokrasi/ tidak dikenal di negeri ini/
Denny Herbert
Di tengah riuhnya sepak bola—yang entah kapan kita bisa ikut bermain di sana—tiba-tiba ada kejutan menyegarkan dari India. Bukan dari lapangan hijau, tapi dari lapangan voli. Timnas Voli Putra kita bikin sejarah: lolos ke Final AVC 2026! Hebatnya, yang dihajar di semifinal adalah tuan rumah India. Lewat drama lima set: 3-2. Mengalahkan tuan rumah di kandangnya itu susahnya setengah mati. Butuh mental baja. Ini oase di tengah paceklik prestasi olahraga kita. Kita sering lelah berharap pada sepak bola. Dana melimpah, sorotan tak pernah padam, tapi prestasinya begitu-begitu saja. Voli berbeda. Mereka sunyi dari riuh media, tapi berisik dengan prestasi. Malam ini di final, lawannya Korea Selatan. Di penyisihan kita memang kalah 0-3. Tapi final adalah cerita lain. Kekalahan awal justru bisa jadi bahan bakar dendam yang positif. Anak-anak muda kita terbukti punya gen juara. Mereka tidak lagi minder di tingkat Asia. Malam2 ini, mari geser sejenak pandangan kita dari Piala Dunia ke final voli Asia. Satu langkah lagi menuju podium tertinggi. Ayo, tuntaskan!
Juve Zhang
Otak dan gaji masih Rupiah manakala belanja Dolar…..tentu ini sebenarnya ngejek perusuh yg komentar mahalnya Amerika…toh Don Dahlan ekspor udang ke Amerika juga mungkin ada ekspor lain yg kita tidak tahu….ini hanya mengejek Perusuh yg semua kaget dengan angka fantastis….bagi Bu Lia yg beli tiket 3 biji parkir 4 juta rasanya enteng karena beliau nyari duit disana buang disana jadi enteng saja….
Er Gham 2
Lihat foto. Kayaknya Abah duduk di tribun belakang gawang. Dulu sekali, saat masih zaman galatama perserikatan, kalo nonton di stadion pasti pilih tiket belakang gawang. Karena itu tiket yang paling murah. Sesuai kantong. Tidak lupa harus angkat baju ke atas saat pemeriksaan masuk ke stadion. Yang periksa tentara, bukan petugas keamanan biasa. Tas juga digeledah. Ternyata, ada saja penonton yang berniat selundupkan batu atau pecahan bata merah. Ini terlihat dari tumpukan batu atau bata di dekat pintu masuk. Zaman dulu, kalo tim tuan rumah sudah kemungkinan kalah, lebih baik keluar duluan sebelum peluit wasit ditiup. Karena peluang rusuhnya besar. Segala benda bisa dilempar ke tengah stadion.
Tivibox
Saya, tentu saja masih ingat sama Pak Harto Apalagi, ketika tiap sabtu malam saat menunggu Film Cerita Akhir Pekan di TVRI Tiba-tiba.. Setelah Dunia Dalam Berita, ada laporan khusus Yang menayangkan hasil Sidang Kabinet terbatas bidang Ekuin Dipaparkan oleh Menteri Penerangan, dan kalimat yang selalu saya ingat : “atas petunjuk bapak presiden……”
Kalender Bagus
Dibanding dulu, rasanya sepeda motor saat ini tambah banyak, mobil saat ini tambah banyak, perumahan tambah banyak, mall tambah banyak. Sebenarnya berubah, tapi kita sering ga menyadarinya.
Juve Zhang
Semua negara ekonomi kelas bawah seperti Equador Indonesia mengalami tekanan. Kurs terhadap Dolar salah satunya karena tidak punya minyak dan gas sumber energi….bagi ekonomi kluster bawah minyak dan gas sangat vital….Kuba contoh nyata kolaps di boikot minyak oleh Amerika….semua negara kluster bawah yg tidak punya minyak dan gas hampir merata menderita karena kebutuhan minyak gas sangat menyedot cadangan devisa negara tsb….beda Iran Rusia yg di boikot habis habisan pun tidak akan kolaps karena mereka penghasil minyak dan gas ranking dunia….tanpa dolar pun mereka tambah makmur kaya raya beda sama negara tanpa Minyak Bumi Gas mereka akan menjadi makin miskin karena tak mampu beli minyak gas….banyak contoh Pakistan Srilanka Afghanistan mereka makin miskin karena tak ada minyak gas sehingga ekonominya lumpuh total….
Leong Putu
“Lima peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan Koperasi Desa/Nelayan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di bawah naungan Kementerian Pertahanan. Seluruh korban telah mendapat penanganan medis sesuai prosedur sebelum meninggal” Begitu tertulis di berbagai berita online. Pertanyaannya : -Mengapa serasa baik² saja, 5 orang meninggal dalam satu kegiatan? -Apakah tidak ada penyidikan yang mengarah pada satu pelanggaran pidana? -kasus hilangnya nyawa seseorang, bukankah merupakan delik umum? Buka delik aduan. Dimana APH wajib menyelidiki tanpa nunggu aduan masyarakat. -Apakah karena No Viral No justis?
Thamrin Dahlan YPTD
Ganti Dolar. “Ueenak zaman ku toh” pengakuan jujur rakyat kecil. Sederhana saja sembako terpenuhi, pendidikan murah negara aman. Inti nya ketika SPP (Sandang Pangan Papan) terjamin tersedia banyak murah maka rakyat pun mahasiswa tidak turun ke jalan. Jadi bukan maksud membanding bandingkan ‘ke antar presiden presiden namun ukurannya hanya kesejahteraan rakyat lahir bathin. Dolar memang terlalu perkasa di masanya. Eropa tidak mau begitu sehingga mereka membuat mata uang eùro. China demikian pula transaksi perdagangan wajib pakai yuan. Nah Qris itu bagaimana. Danantara bagimana dan Purbaya kelihatan sudah terbiasa. Ueenak zaman ku toh nan dirindukan. Oh ya ketika itu Partai Politik cuma 3. Golkar PDI dan PPP. Eksekutif aman, bekerja tanpa gangguan pun legislatif aman memutuskan perkara tanpa intervensi (@nda sudah tahu). Untungnya masih ada hiburan murah untuk rakyat. Menonton sejak bola sehingga sejenak terlupakan urusan dan program pemerintahan apapun namanya. Salamsalaman
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
PSIKOLOGI UANG.. Secara formal, definisi kata psikologi adalah ilmu tentang pikiran dan perilaku. Tapi ada buku berjudul The Psychology of Money. Di buku Morgan Housel ini, yang dibahas adalah psikologi uang. Sudah pasti ini bukan soal gangguan jiwa. Melainkan bagaimana ego, rasa takut, dan gengsi menyetir cara kita memperlakukan uang. Singkatnya, ssbenarnya ini bicara, mengapa orang pintar (“pemilik uang”) bisa mendadak linglung saat memegang dompet. Inti buku ini sederhana namun menohok. Sukses finansial itu bukan soal seberapa jenius Anda matematika. Ini soal “behavior” perilaku. Housel merangkum bahwa emosi sering kali mengalahkan logika investasi. Kita sering terjebak ingin terlihat kaya (wealthy vs rich), hingga lupa esensi sejati uang: Membeli kebebasan waktu, bukan membeli decak kagum tetangga. Dia juga mengingatkan peran besar keberuntungan dan risiko yang tipis bedanya. Maka, kunci utamanya adalah tahu diri dan tahu kata “cukup”. Serakah hanya akan membawa petaka. ### Buku ini mengajarkan kita untuk tidak melulu menghitung angka, tapi menghitung kewarasan. Sebab, musuh terbesar dalam mengelola uang bukanlah pasar saham yang fluktuatif, melainkan cermin di kamar mandi kita sendiri. Menabunglah bukan hanya untuk beli barang, tapi untuk membeli kedamaian pikiran.
Er Gham 2
Saya baca berita, ada sekitar 750 bumn yang mau ditutup. Rugi terus. Cuma jadi beban. Bakal ada 750 dirut, dan ribuan direksi komisaris yang terdampak. Ini berita bagus sepertinya jika benar direalisasikan. Banyak bumn merugi namun gaji, tunjangan, dan fasilitas direksi dan karyawannya gila gilaan. Mungkin keuntungan perusahaan sengaja ‘dihabisi’ dari dalam. Cuma buat ‘kaya’ orang bumn, bukan buat ‘kaya’ negara. Danantara cek juga bumn yang untungnya kecil, deviden kecil, tapi sebenarnya ‘dihabisi’ dulu oleh para direksi dan pegawainya. Komisaris ‘abal abal’ —eks tim sukses— cuma bisa diam saja. Mereka hanya datang, duduk, diam.
Liam Then
Kekacauan di dalam garis pertahanan sendiri adalah sekutu terbaik bagi musuh.” (Chaos within is the enemy’s best ally) – Sun Tzu “Fog of War” (Kabut Perang) Ini adalah istilah untuk menggambarkan kondisi di mana rantai komando tertinggi kehilangan arah, akurasi data, dan kejelasan situasi di medan tempur. Ketika Menkeu bingung kenapa Rupiah melemah padahal fundamental katanya bagus, sementara pejabat lain sibuk teriak ada “serangan antek asing,” di situlah Fog of War terjadi. “Friendly Fire” (Tembakan Teman Sendiri) Ketika tim ekonomi pemerintah sedang setengah mati melakukan “intervensi pasar” untuk menahan darah Rupiah agar tidak makin jebol, anggota Komisi III di parlemen dengan santainya malah menyarankan anggaran KPK dinaikkan dari 600 miliar menjadi 5 triliun. Ini adalah “Friendly Fire” yang nyata. Di saat pasar (investor asing dan domestik) sedang memelototi risiko fiskal Indonesia karena belanja negara yang dianggap terlalu boros, kelakuan pejabat yang hobi obral anggaran ini justru mengirimkan sinyal buruk ke pasar. Pasar membaca ini sebagai itikad /pemikiran ketidakdisiplinan fiskal, Walhasil, modal asing makin kabur (capital outflow), dan Rupiah makin tertekan. “Bentuklah strategiemu seperti air; tak berbentuk, tak terlihat. Biarkan rencanamu menjadi gelap dan tak dapat ditembus seperti malam, dan ketika kamu bergerak, jatuhlah seperti sambaran petir.” – Sun Tzu
Agus Suryonegoro III – 阿古斯·苏约诺
DOLAR, NASIONALISME, DAN KEBERANIAN.. CHDI hari ini menarik karena mengajak melihat krisis bukan hanya dari angka, tetapi dari keberanian mengambil keputusan. Ekuador memilih mengganti sucre dengan dolar. Keputusan pahit yang awalnya membuat presiden jatuh, tetapi kemudian diteruskan oleh presiden berikutnya. Politik sering begitu. Orang yang menanam pohon kadang tidak sempat menikmati buahnya. Bahkan bisa ikut dilempari buah sebelum pohonnya besar. Pelajaran Ekuador bukan berarti semua negara harus memakai dolar. Setiap negeri punya dapur ekonomi sendiri. Tidak semua resep bisa dipindahkan dari satu meja makan ke meja makan lain. Namun ada satu hal yang universal: krisis membutuhkan keputusan. Terlalu lama ragu juga sebuah keputusan. Bedanya, yang dipilih pasar biasanya bukan yang paling indah pidatonya, tetapi yang paling dipercaya. Mata uang bukan sekadar kertas. Ia adalah janji. Kalau janji itu dipercaya, uang kecil pun terasa bernilai. Kalau tidak dipercaya, uang banyak pun hanya cukup untuk menghitung kerugian. Mungkin itu sebabnya ekonomi kadang mirip sepak bola. Nama besar penting, tetapi mental bertanding sering menentukan skor akhir.
Ahmad Zuhri
Bismillah 2027 itu persiapan 1 Abad Persebaya dan rencana IPO.. Jadi kl mengaku sebagai Bonek tapi blm memiliki langsung saham nya nanti, blm Bonek sejati.. Masalah nanti nilai saham nya turun/naik setelah IPO, ya ndak tau.. kok tanya saya. Jadi Abah ke NYSE kmrn itu tanya syarat-syarat IPO di situ apa aja, sebagai persiapan IPO tahun depan.. Ulik sangat paham dan mempelajari sports entertainment dari sana, dan itu yg sedang dicoba diterapkan di Persebaya.. Jadi klub olahraga itu harus mandiri dengan dibayari oleh prestasi nya, tidak ‘menetek’ subsidi terus dari Pemda setempat.. Sudah ada sih klub yg seperti itu, tapi blm mandiri sepenuhnya.. karena pemiliknya kaya, dia subsidi dari pemasukan yg lain. Btw.. Kl disuruh pilih Rupiah atau Dolar sebagai mata uang, saya tetap pilih Rupiah.. apapun kondisinya. Kita sudah pernah dijajah fisik begitu lama, masak masih mau dijajah lagi secara ekonomi.. TANAHKU YG KU CINTAI, ENGKAU KU HARGAI..
MULIYANTO KRISTA
Emangnya kalau Mr Mahuad ada di stadion tersebut,mau njenengan ekstradisi ke Indonesia bah? Agar nilai tukar dolar terhadap rupiah tetep stabil. Saya jelas SANGAT SETUJU SEKALI bah. Meskipun saya orang desa yang tidak pakai dolar, tapi barang-barang kebutuhan sehari-hari harganya sangat terpengaruh oleh nilai tukar dolar.
Achmad Faisol
ini yang harus dilakukan: 1. mau mendengar masukan dan kritik… jangan merasa paling ngerti dan paham, menganggap semua yang di luar pemerintah hanya omon-omon, apalagi membuat pernyataan antek asing, antek aseng, entèk-entèkan, dll… 2. kalau salah segera perbaiki, jangan ngeles… rakyat tidak menuntut pemimpin yang sempurna, mereka hanya ingin pemerintah yang apa adanya, bicara tidak melangit hanya untuk menghibur sesaat… isu saat ini adalah kepercayaan… investor luar ga percaya, eee ternyata rakyat juga ga percaya… sensus yang secara teori harusnya baik malah dipersepsi masyarakat memata-matai yang ujung-ujungnya ditagih pajak, dll… kepercayaan itu diraih… semoga pemerintah kembali terpercaya…
















