• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Lumbung Pangan dan Kemandirian Pangan Masyarakat

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Rabu, 30 Juni 2021 - 09:41
in Nasional
Foto: Agung S S Raharjo, MPA.

Foto: Agung S S Raharjo, MPA.

Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Agung S S Raharjo, MPA

INDOPOSCO.ID – Lumbung pangan merupakan lembaga penyedia cadangan pangan yang telah lama berkembang dan merupakan sebentuk kearifan lokal diperdesaan. Dalam konteks sosial budaya pertanian, keberadaan lumbung pangan awalnya murni sebagai lembaga yang difungsikan untuk menyimpan kelebihan panen dalam mengatasi masa paceklik. Masyarakat saat itu paham dan menandai secara berkala bahwa ada masa di mana lahan-lahan pertanian tidak akan memberikan kinerja produksi yang baik dan maksimal.

BacaJuga:

Kemenag Siapkan Tiga Pilar Utama Lindungi Anak dari Ancaman di Ruang Digital

Fiskal Jakarta Tertekan, DPRD Pastikan KJP hingga Subsidi Pangan Masuk Zona Aman

Silmy Karim Bertanya Nasib Hukum Sebelum ke KPK, Ini Jawaban Menteri Imipas

Rendahnya produksi pada musim kemarau, memaksa para petani untuk bisa menyisihkan sebagian panennya, sebagai stok cadangan, agar dapat dikonsumsi pada masa paceklik tiba. Dan pada kondisi tersebut keberadaan lumbung pangan menjadi sebuah mekanisme yang cukup efektif dalam menguatkan ketahanan pangan ditingkat rumah tangga maupun individu bahkan komunitas.

Melalui sistem pengelolaan yang lebih maju dan berdasar pada pola pengorganisasian yang modern, lumbung pangan dapat diandalkan sebagai subsistem dalam membangun ketahanan pangan masyarakat. Keberadaannya dalam menangani persoalan rawan pangan sangat strategis dan menyentuh pada tingkatan level sosial bawah.

Peranan Lumbung Pangan

Kelembagaan lumbung pangan masyarakat yang berada ditengah-tengah masyarakat, yang sebagian masih pada tingkatan sederhana dan berorientasi sosial, mempunyai potensi untuk dikembangkan dan direvitalisasi melalui proses pemberdayaan secara sistematis, utuh, terpadu dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh unsur terkait.

Upaya ini diharapkan akan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perwujudan ketahanan pangan, dan pada waktu yang bersamaan menjadi lembaga sosial ekonomi masyarakat yang mendorong peningkatan kesejahteraan bagi anggota maupun masyarakat.

Pada tahap lanjut peranan lumbung pangan tidak hanya dalam menangani masalah kerawanan pangan semata. Namun kemudian lumbung pangan masyarakat dapat dikembangkan sebagai unit lembaga ekonomi perdesaan yaitu: (a) Lumbung pangan dapat menjadi lembaga yang memfasilitasi berkembangnya usaha budidaya dan agribisnis pangan seperti penyediaan sarana pertanian, modal, informasi teknologi pengolahan hasil, penampungan dan distribusi serta pemasaran hasil produksi pertanian pangan yang dikelola secara terorganisir, (b) Sebagai lembaga ekonomi masyarakat, lumbung pangan dapat mendukung pengembangan usaha di bidang budidaya tanaman pertanian dan non pertanian, (c) berperan dalam membantu anggotanya dalam membangun relasi kemitraan dengan lembaga ekstra desa, sektor swasta dan BUMN, dan (d) memberikan fasilitasi peningkatan kapasitas dan kemampuan anggotanya sesuai dengan kebutuhan pengembangan usaha mandiri atau kelompok sehingga akan mampu mendongkrak akumulasi modal (Jayawinata, 2003).

Revitalisasi dan Pemberdayaan

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam proses pembangunan nasional, terlebih bagi negara seperti Indonesia yang berpenduduk besar dan dengan wilayah kepulauan. Jaminan ketersediaan dan aksesibilitas pangan bagi tiap individu tidak bisa dinafikan dan diabaikan begitu saja.

Sehubungan dengan hal tersebut, perhatian terhadap ketahanan pangan (food security) mutlak diperlukan karena terkait erat dengan ketahanan sosial (social security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik dan keamanan (national security). Fisher (2009) mengemukakan padangannya bahwa dunia saat ini telah dihadapkan kepada kejadian perubahan iklim global dan berdampak pada penurunan produksi pangan dunia.

Sampai dengan 2050 produksi sereal dunia diperkirakan menurun satu persen, sementara pada periode yang sama penduduk dunia meningkat satu persen. Potensi terjadinya kerawanan pangan sangat terbuka dalam beberapa dekade mendatang. Belum ditambah dengan kondisi pandemik saat ini yang berpotensi pada pengketatan distribusi pangan oleh sebab kebijakan pangan masing-masing wilayah.

Memahami potensi masalah pangan global dimasa mendatang maka penguatan ketahanan pangan menjadi sebuah keniscayaan. Namun demikian upaya penguatan sistem ketahanan pangan bukan tanpa permasalahan salah satunya pada tingkatan masyarakat perdesaan. Lumbung pangan masyarakat sebagai sebentuk kearifan lokal kelembagaan penyediaan pangan telah mengalami pelemahan-pelemahan baik disebabkan faktor internal maupun eksternal.

Menurut Rachmat dkk (2011) keberadaan lumbung pangan cenderung menurun karena beberapa sebab, yaitu: (a) penerapan revolusi hijau yang mengintroduksikan teknologi padi unggul dan modernisasi pertanian dinilai tidak sesuai dengan lumbung tradisional masyarakat, (b) keberadaan Bulog yang berperan dalam stabilisasi pasokan dan harga pangan (gabah) di setiap wilayah pada setiap waktu menyebabkantidak ada insentif untuk menyimpan gabah, (c) globalisasi yang menyebabkan terbangunnya beragam pangan,termasuk pangan olahan sampai ke perdesaan, telah merubah pola konsumsi, dan (d) kegiatan pembinaan yang tidak konsisten dan cenderung orientasi proyek menyebabkan pembinaan yang dilakukan tidak efektif.

Melihat kenyataan serta bukti-bukti pada masa lalu, lumbung pangan telah berperan dalam membantu kelompok/masyarakat perdesaan dalam mengatasi masalah kekurangan pangan baik pada masa paceklik atau kondisi-kondisi lain yang berdampak pada kesulitan penyediaan pangan yang bersifat transien.

Pengembangan lumbung pangan di tingkat masyarakat pun dinilai strategis bagi daerah dengan potensi rentan rawan pangan yang menghadapi kendala akses pangan baik disebabkan oleh faktor fisik (keterjangkauan jarak) maupun dari sisi kemampuan daya beli (purchacing power).

Merevitalisasi kembali lumbung pangan merupakan satu langkah strategis dalam menguatkan ketahanan pangan masyarakat. Namun demikian, dalam konteks perkembangan jaman yang telah bertransformasi sedemikian rupa diperlukan satu sistem pengelolaan lumbung pangan yang lebih baik dan modern. Cara-cara pengelolaan tidak bisa lagi dengan model konvensional yang hanya berorientasi sosial dan terkesan berjalan seadanya.
Lumbung pangan sebagai sebuah kelembagaan harus mampu dikembangkan sebagai satu unit ekonomi yang menghadirkan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat. Di sinilah kemudian mindset pengelolaan lumbung yang bernilai ekonomi perlahan terus dikuatkan dan didukung. Petani kita yang rata-rata berpendidikan rendah dan berusia relatif tua membutuhkan pembinaan dan pendampingan yang intens.

Pemberdayaan yang dilakukan adalah pemberdayaan yang menghadirkan pembelajaran dan mengkapitalisasi pengalaman serta pengetahuan. Dalam hal ini modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat akan sangat membantu dalam mengakslerasi keberhasilan.

Tidak semata penguatan pada sisi pemahaman, satu hal yang sangat dibutuhkan oleh mereka adalah kemudahan akses permodalan dan jejaring kerja sama. Pada tahap ini kehadiran pemerintah akan sangat membantu upaya pengembangan lumbung pangan dalam mencapai skala pengeloaan yang lebih luas dan menguntungkan. Misal tawaran permodalan (kredit) yang tidak semata pada usaha tani namun juga yang mendukung usaha ekonomi produktif kelompok.

Tentunya model yang ditawarkan tidak kemudian menutup potensi swadaya ditingkat masyarakat. Masyarakat tidak boleh dilihat sebagai objek ‘bantuan” yang lemah tanpa memiliki kekuatan modal apapun. Cara pandang ini tentu adalah salah. Lumbung pangan sekiranya perlu dikembangkan serta direvitalisasi melalui proses pemberdayaan secara sistematis, terpadu dan berkesinambungan.

Perubahan pola pengelolaan yang awalnya murni bersifat subsisten dan sosial kemudian beralih pada hal bersifat ekonomi (profit oriented) bukanlah persoalan yang mudah. Namun di sinilah peluang perubahan itu dapat dicapai dengan kesadaran partisipatif penuh baik dari petani maupun stakeholder yang terkait, baik itu pemerintah maupun swasta. Dan dengan kondisi tersebut kelembagaan lumbung pangan akan menuai kebermanfaan yang nyata bagi masyarakat perdesaan. Masyarakat memiliki kemandirian dalam penyediaan pangan tanpa bergantung sepenuhnya pada pemerintah.*

Penulis merupakan Analis Ketahanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian RI

Tags: Kementanlumbung panganpanganpertanian

Berita Terkait.

umar
Nasional

Kemenag Siapkan Tiga Pilar Utama Lindungi Anak dari Ancaman di Ruang Digital

Selasa, 9 Juni 2026 - 06:06
suhud
Nasional

Fiskal Jakarta Tertekan, DPRD Pastikan KJP hingga Subsidi Pangan Masuk Zona Aman

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:05
silny
Nasional

Silmy Karim Bertanya Nasib Hukum Sebelum ke KPK, Ini Jawaban Menteri Imipas

Senin, 8 Juni 2026 - 23:03
muda
Nasional

1.476 Patriot Muda Siap Diterjunkan ke Kawasan Transmigrasi, dari London hingga Papua Ikut Bangun Indonesia

Senin, 8 Juni 2026 - 22:12
ui
Nasional

Alumni UI Minta MA Utamakan Substansi Etika Akademik dalam Proses Kasasi

Senin, 8 Juni 2026 - 21:41
said
Nasional

Pemerintah Fokuskan 3 Isu Utama Perbaikan Kesejahteraan Buruh

Senin, 8 Juni 2026 - 21:31

BERITA POPULER

  • Timnas-U19

    Piala AFF U-19: Pastikan Rotasi Kontra Timor Leste, Nova Minta Garuda Muda Nikmati Laga

    2226 shares
    Share 890 Tweet 557
  • AFF U-19: Indonesia Cukur Timor Leste, Persaingan Puncak Klasemen Makin Panas

    1174 shares
    Share 470 Tweet 294
  • Beraksi Puluhan Kali, Pelaku Curanmor di Tambora Diringkus Polisi

    1029 shares
    Share 412 Tweet 257
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    1334 shares
    Share 534 Tweet 334
  • Prakiraan Cuaca Jakarta Didominasi Berawan, Potensi Hujan di Jakbar dan Kepulauan Seribu

    852 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.