INDOPOSCO.ID – Setelah sukses dengan mobil listrik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Model PGRI 1 Mejayan, Madiun, Jawa Timur melebarkan sayapnya di dunia pangan. Dengan melakukan budidaya umbi Porang.
Kepala SMK Model PGRI 1 Mejayan Sampun Hadam mengatakan, umbi Porang tersedia banyak di Jawa Timur. “Di Jawa Timur ukuran umbinya besar bisa mencapai 12 kilogram per buah,” ujar Sampun Hadam dalam keterangan, Rabu (5/5/2021).
Menurut dia, saat ini SMK Model PGRI 1 Mejayan tidak sekadar berpikir praktik di sekolah, tetapi di masyarakat. Apalagi mayoritas Porang tumbuh liar di hutan-hutan, padahal nilainya sangat luar biasa.
“Setelah kami dapat COD (Cash On Delivery), punya lapak, kita baru produksi. Kami ingin mengembangkan Porang sebagai produk pangan berstandar ekspor,” terangnya.
Ia menyebut, rumah produksi Porang nanti dikembangkan oleh SMK. Sementara untuk bahan bakunya diambil dari petani. Setelah bahan baku dikelola, lalu hasilnya dikembalikan ke petani. “Petani kan saat menanam, saat produk ini diolah akan menjadi UMKM. Kami ingin mereka jadi UMKM milenial,” katanya.
Sampun menjelaskan, Porang bisa diolah menjadi berbagai macam. Sehingga memiliki manfaat yang banyak. Mulai dari bakso, tahu, sampai daging porang macam-macam. “Produk Porang ini, akan kami ekspor ke Jepang dan Tiongkok. Dan sejauh ini Porang diproduksi dalam bentuk chip kering dan makanan,” bebernya.
Ia menuturkan, dalam pengolahan Porang banyak melibatkan siswa SMK. Dari menciptakan mesin untuk membuat chip hingga membelah Porang. “Mesin ini kami berharap bisa dibawa ke desa-desa agar memudahkan petani dalam membuat chip,” katanya.
Sampun bermimpi besar SMK Jatim mampu mengekspor aneka hasil olahan Porang yang saat ini menjadi potensi bisnis di Jepang, Korea, Eropa. Hal ini sebagai bentuk nyata peran SMK dalam pemulihan ekonomi dan kesejahteraan petani.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum (Ketum) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi mengaku mendukung program pangan SMK Model PGRI 1 Mejayan, Madiun, Jawa Timur. Inovasi yang dikembangkan mereka, menurutnya, sangat bernilai ekonomis dan mendidik kemandirian bagi anak-anak serta inovatif.
“Kalau diproduksi dalam negeri berbagai bentuk yang bermanfaat kan bagus banget. Misalnya beras shirataki yang satu kilo Rp209 ribu,” ujarnya. (ibs)











