• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Naik Lagi

Redaksi Editor Redaksi
Selasa, 9 Februari 2021 - 06:03
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Ha ha ha… D-dimer saya ternyata naik lagi.
Itulah hasil tes darah saya kemarin. Naik dari 1.300 menjadi 1.400. Dalam waktu satu minggu.

BacaJuga:

Taruna Kelapa

ArtSubs Rambat

Palung Langit

Itu berarti tidak normal: masih terjadi penggumpalan darah di darah saya. Angka itu harusnya maksimum 500.
Berita baiknya: fungsi liver saya sudah kembali normal. Saat terkena Covid-19 bulan lalu fungsi liver saya terganggu: SGOT/SGPT-nya sampai 160/100. Padahal maksimum hanya boleh 33/50.

Gangguan fungsi liver itu sudah hilang. Hasil tes darah kemarin SGOT/SGPT-nya luar biasa bagus: 21/29. Mungkin lebih bagus dari liver Anda.

Tapi D-dimer-nya itu lho. Kok tidak turun-turun. Bahkan naik lagi sedikit. Padahal hasil tes darah lainnya semuanya sudah bagus.

Perlukan saya masuk rumah sakit? Untuk menormalkannya? Misalnya, dengan jalan diinfus?
“Dari pandangan saya tidak perlu,” ujar dokter Jefrey Daniel Adipranoto, anggota tim dokter Covid yang menangani saya itu. “Kalau pun bisa diinfus, kalau infusnya habis akan kembali tinggi lagi,” tambahnya.

“Dosis obatnya saja yang kita naikkan. Dari 15 mg ke 20 mg,” tambahnya. “Kita lihat satu minggu lagi,” katanya.
Itulah obat Xarelto. Pengencer gumpalan darah.

Sejak Covid saya negatif, yakni sejak keluar dari RS, saya memang dibekali pil itu. Satu hari ditelan satu kali. Malam hari. Waktu opname karena Covid, obatnya disuntikkan lewat kulit perut, sehari dua kali. Itulah yang berhasil menurunkan D-dimer saya dari 2.600 ke 1.100. Tiga hari setelah di rumah naik jadi 1.300. Seminggu berikutnya, kemarin, naik jadi 1.400 itu.

Maka akan saya coba lagi satu minggu lagi. Dengan dosis baru. Kalau pun tidak berhasil belum tahu harus bagaimana.

Pernah muncul pertanyaan pribadi seperti ini: jangan-jangan D-dimer saya sudah tinggi sejak sebelum terkena Covid. Itu yang saya tidak punya angka pembanding. Seumur hidup belum pernah tes D-dimer.

“Jangan-jangan semua orang yang dipasangi ring di saluran darahnya, punya kecenderungan D-dimer-nya tinggi,” kata saya dalam hati.

Sayangnya saya tidak punya angka pembanding. Seumur-umur belum pernah tes D-dimer.
Memang test D-dimer ini baru populer setelah ada Covid. Bahkan baru akhir-akhir ini saja. Seperti juga tes vitamin D. Yang sebelum ada Covid selalu kita abaikan.

Saya tidak pernah tahu kalau level vitamin D itu paling rendah harus 40. Atau 35. Padahal, umumnya orang Indonesia, –biar pun di negara tropis– kekurangan vitamin D. Waktu kena Covid bulan lalu, vitamin D saya hanya 23,4. Bahkan anak saya yang tidak tertular Covid, Vitamin D-nya hanya 16.

Vitamin D dan D-dimer adalah dua kosa kata yang baru digalakkan di masa Covid.
“Tiongkok-lah yang pertama menggunakan D-dimer untuk menangani Covid-19,” ujar dokter Benjamin Chua, ahli saluran darah dari Singapura. Dokter Ben-Chua-lah yang memasang 176 ring di saluran darah utama saya sepanjang setengah meter tiga tahun lalu.

D-dimer itu digunakan di Tiongkok setelah melihat banyak orang meninggal bukan karena virus Covid-nya. Melainkan karena serangan jantung, stroke dan gangren di kaki. Yang semua itu terkait dengan banyaknya gumpalan darah di dalam darah. Yang kemudian saya istilahkan dengan ‘cendol darah’ di dalam darah.

Karena itu sewaktu D-dimer saya tidak kunjung turun, dokter Ben-Chua menyarankan kaki saya di-ultrasound. Siapa tahu terjadi penggumpalan darah di kaki. Kenapa di kaki? “Karena banyak terjadi kasus seperti itu,” ujarnya.

Dokter Hanny Handoko, ketua tim dokter saya, lantas bertanya: apakah ada keluhan di kaki? “Tidak ada,” jawab saya. Dokter pun memeriksa kaki saya. Tidak terlihat ada tanda apa-apa.

“Kasus penggumpalan darah di kaki memang banyak. Tapi itu hanya terjadi di ras kulit putih,” ujar dokter Jefrey yang setelah lulus dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur kemudian kuliah lagi di Amsterdam dan Leiden, Belanda. Selama 10 tahun. “Untuk orang Asia jarang sekali,” tambahnya.

Tapi Jefrey setuju saja kaki saya di-ultrasound. Ternyata memang tidak ditemukan penggumpalan di kaki.
Itulah salah satu kemisteriusan Covid-19. Bisa membuat D-dimer naik. Prof Puruhito menjelaskan ke saya sangat rinci dan teknis. Bagus sekali. Tapi saya takut Disway nanti menjadi seperti ruang kuliah di fakultas kedokteran.

Dunia kedokteran ternyata, sebenarnya, sudah agak lama mengenal istilah D-dimer. “D-dimer mulai dikenal di tahun 1990-an,” ujar Prof Dr Med Puruhito “ayatullah-nya” bedah jantung Surabaya.
Mengapa waktu aorta saya dulu pecah tidak dilakukan test D-dimer?

“D-dimer itu terkait dengan sistem vena. Bukan aorta,” ujar Prof Puruhito, guru besar Unair itu.
“Penjelasan itu benar sekali,” ujar dokter Ben-Chua saya saat tanya soal itu. Ternyata ia tidak perlu mengetes D-dimer saya karena yang pecah itu aorta.

Saya juga bersyukur menjadi tahu pentingnya vitamin D.
Pentingnya vitamin D dalam penanganan Covid dimulai di India. Itu karena di sana banyak ditemukan gangguan pernapasan karena kekurangan vitamin D.

Kesimpulan saya: dokter telah belajar banyak dari ‘”Fakultas Kedokteran Covid, di Universitas Pandemi”. Bayangkan betapa sialnya nasib yang terkena Covid di awal-awal dibukanya “universitas pandemi” ini.

Dunia internet juga demikian majunya. Best practices di pojok dunia ujung, bisa segera diikuti di pojok dunia lainnya. Termasuk Indonesia.

Sampai-sampai saya kaget ketika dites unsur D-dimer dalam darah saya. Seumur-umur tidak pernah mendengar itu.

Pun sebelum dokter visite ke kamar pasien, saya sudah menjelajah internet dulu: apa itu D-dimer. Di situ saya baru tahu: mengapa banyak orang yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19 tapi meninggal juga. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

disway
Disway

Taruna Kelapa

Kamis, 24 September 2026 - 08:00
Disway

ArtSubs Rambat

Rabu, 23 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Palung Langit

Selasa, 22 September 2026 - 08:00
disway
Disway

Doa Mahjong

Minggu, 20 September 2026 - 08:00
Anggota Istimewa
Disway

Anggota Istimewa

Sabtu, 19 September 2026 - 08:00
disway
Disway

William Paputungan

Kamis, 17 September 2026 - 08:00

OLAHRAGA

laga
Olahraga

Laga Pembuka FIFA ASEAN Cup 2026, 3.582 Personel Gabungan Dikerahkan

Editor Folber Siallagan
Jumat, 25 September 2026 - 17:36

INDOPOSCO.ID - Ribuan personel aparat gabungan dikerahkan untuk mengamankan pertandingan FIFA ASEAN Cup 2026 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora...

SelengkapnyaDetails
Demi Kemanusiaan, DPR Dorong Basarnas Lanjutkan Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Jelang Indonesia vs Singapura, John Herdman Bicara Soal Risiko Permainan Kaku

Jumat, 25 September 2026 - 11:54
28 Tahun Menanti, Indonesia Kembali Rebut Emas Beregu Putra Bulutangkis di Asian Games

28 Tahun Menanti, Indonesia Kembali Rebut Emas Beregu Putra Bulutangkis di Asian Games

Jumat, 25 September 2026 - 10:09
java

Java United Buka Suara soal Perselisihan dengan Shin Tae-yong, Singgung Pemicu Keributan

Kamis, 24 September 2026 - 11:21
ferdinan

Resmi Berseragam Persija, Marselino Ferdinan Bawa Ambisi Besar

Kamis, 24 September 2026 - 09:19

BERITA POPULER

  • Dirut INDOPOSCO: Pentingnya Kompetensi Wartawan Hadapi Tantangan Era AI

    Kemendiktisaintek Siapkan Rp 2 Triliun Lebih untuk Dana Riset

    1029 shares
    Share 412 Tweet 257
  • Soal Klaster Mewah di Lapas Cibinong, Pakar Hukum Minta Menteri Imipas Terima Sanksi

    982 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pasca-OTT KPK, Pegawai ATR/BPN Syok dan Buka Suara Soal ‘Struktur Bayangan’

    978 shares
    Share 391 Tweet 245
  • Kementerian ATR/BPN Tancap Gas Kejar Target Sertipikasi 3 Juta Bidang Tanah MBR di 2027

    969 shares
    Share 388 Tweet 242
  • Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    887 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.