Nasional

Korban Jebakan ‘Batman’ Pinjol Ilegal, Ini Kisahnya

INDOPOSCO.ID – Kecewa, marah dan kesal itu yang dirasakan SI (49) ketika keponakannya memberitahukan sebuah pesan bernada ancaman diterimanya dengan menyebut nama sang paman. Seperti terkena jebatan ‘batman’, uang pinjaman yang tidak seberapa, diancam akan dibikin mampus satu keluarga.

“Sampaikan ke bapak (SI), sampai di jam 12 siang ini ga ada pembayaran sama sekali diaplikasi krdit kilat baik pelunasan maupun perpanjangan tenor gua bikin mampus semua keluarganya, gua pajang foto permohonannya sebagai DPO di lingkungan rumahnya. Jadi jangan maling receh, jangan belajar gila, jangan main2 sama aplikasi!!!,” begitu salah satu short message service (SMS) ancaman yang diterima T (35) keponakan SI.

SI dan T saat ditemui di ruang cafetaria Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (21/10/2021), tengah menunggu pemeriksaan atas penyidikan kasus pinjol ilegal yang dilaporkannya.

Bagi SI tak masalah jika dirinya mendapatkan ancaman, karena yang berhutang adalah dirinya, bukan keluarganya. Pesan sms akan menghabisi seluruh anggota keluarganya membuat ayah dua orang anak tersebut melaporkan peritiwa yang dialaminya pada 22 September 2021.

SI termasuk beruntung tidak sampai bunuh diri seperti yang terjadi kepada ibu rumah tangga berinisial WPS asal Wonogiri. Namun, keduanya sama-sama korban kredit pinjaman “online” (pinjol) ilegal, yang awam tentang finansial teknologi (fintech) dan pinjol atau ‘peer to peer (p2p) lending’.

Kebutuhan ekonomi yang membuat SI mencoba untuk mencari pinjaman lewat pinjol, tanpa mengetahui perbedaan antara pinjol legal dan ilegal. Informasi dari mulut ke mulut yang diterimanya, proses pinjaman secara daring itu mudah dan cepat, uang langsung cair ke rekening.

Di tengah “kegabutan” ditambah desakan ekonomi, SI membuka aplikasi “playstore” dari ponselnya. Lalu memilih salah satu aplikasi pinjol bernama Kredit Kilat. Aplikasi tersebut diunduhnya, lalu mulailah mengisi berbagai persyaratan untuk mendapatkan pinjaman, seperti mengisi data diri, nomor ponsel, nomor induk kependudukan (NIK), nomor darurat yang bisa dihubungi, hingga nomor rekening.

Pada pengisian nomor darurat, SI mengisi nomor milik keponakannya, tanpa sepengetahuan keponakannya. Nomor darurat diperlukan bagi pemberi pinjaman untuk menghubungi peminjam bila nomor ponselnya tidak aktif.

Tak sampai lima menit, dana pinjaman yang diajukannya masuk ke rekeningnya. Namun, kejanggalan mulai dirasakannya, dana pinjaman yang diajukannya senilai Rp1,4 juta hanya ditransfer Rp925.000 saja.

Selain itu, tenor (durasi angsuran) yang diawal melihat aplikasi tertulis 91 hari, seketika berubah menjadi tujuh hari, setelah dana pinjamannya masuk ke rekening.

Penipuan

Merasa seperti dibohongi, SI tidak tau harus bertanya dan menanyakan ke mana, karena aplikasi pinjol Kredit Cepat yang diunduhnya tidak menyediakan layanan pengaduan konsumen, ataupun pembatalan pinjaman.

Karena sudah kadung meminjam dan uang sudah masuk ke rekening, SI tak ambil pusing. “life must go on”, hidup harus terus berlanjut, pikirnya. Ia juga sudah merencanakan mengembalikan uang pinjaman pada saat jatuh tempo, yakni di hari ketujuh.

Namun, hari kelima pinjaman bergulir, SI sudah menerima serangkaian pesan instans ‘whatsapp’ dan telepon dari Kredit Cepat. Isi pesannya meminta dirinya untuk segera mengembalikan uang pinjaman. Teror SMS dan telpon terus diterimanya dari nomor yang berbeda-beda setiap harinya.

Puncaknya, di hari ketujuh, SI dikagetkan dengan pesan yang diteruskan oleh keponakannya, yang menuliskan nama terangnya, dan mengancam akan menghabisi keluarganya bila tidak membayar uang pinjaman.

SI menduga, SMS serupa mungkin tidak hanya diterima oleh keponakannya, bisa jadi 300 kontak telepon yang tersimpan di ponselnya. Hanya keponakannya saja yang memberitahukannya soal sms ancaman tersebut.

Penyesalan datang memang terlambat, SI tidak berfikir, rasa enggan meminjam kepada saudara karena tidak ingin membebankan mereka. Mendorong dirinya mencari alternatif kekinian lewat pinjaman ‘online’ yang ternyata ilegal. SI kecewa karena perasaan keluarga yang dijaganya diancam oleh “desk collection” (divisi penagihan), rekanan pinjol ilegal.

“Kalau bisa masyarakat benar-benar harus waspada, untuk mencari pinjaman, mendingan sama saudara, atau teman, atau siapa bisa kita pinjamin. Kalau sama saudara kelewat janji tidak ada bunga, tidak ada teror, tidak ada kata-kata ancaman intimidasi bust diri kita,” kata SI.

Sementara itu, berbekal dari pengalamannya, SI menyarankan masyarakat agar tidak ragu melapor ke kepolisian setempat bila mendapat ancaman dari pinjol ilegal. Seperti dirinya, laporan penipuan dan ancaman pinjol ilegal ditindaklanjuti oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri.

Sejak 2020 sampai kini Polri melalui Bareskrim telah melakukan penindakan terhadap laporan masyarakat terkait pinjaman ‘online’ ilegal tersebut. Dittipideksis Bareskrim Polri mencatat, ada 371 laporan polisi terkait pinjol ilegal dari seluruh wilayah. Dari jumlah tersebut, baru 91 perkara yang terungkap dan ada yang sudah dalam tahap persidangan sebanyak delapan kasus, selebihnya masih dalam pengembangan penyelidikan.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Brigjen Pol Helmy Santika menyebutkan, penyelidikan kasus pinjol ilegal mempunyai karakter berbeda sehingga pengungkapannya terkesan lambat.

Menurut dia, penyelidikan harus dilakukan secara tepat dan benar. Dittipdeksus Bareskrim Polri ‘mem-framing’ pinjol ilegal secara utuh, mulai dari ‘sms blasting’ sampai dengan penagihan (desk collection) dan pemodal atau pendiri usaha pinjol ilegal itu sendiri.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button