Prof Waryono: Masyarakat Harus Teredukasi Memilih Pondok Pesantren, Ini Alasannya

INDOPOSCO.ID – Guru di Pondok Pesantren (Ponpes) harus dibekali dengan ilmu pengasuhan. Agar anak-anak di Ponpes tidak tumbuh stunting.
Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ponpes), Kementerian Agama (Kemenag) Prof Waryono kepada indopos.co.id di sela-sela diskusi religion festival di Jakarta, Senin (7/10/2024).
Ia menjelaskan, hidup sehat bukan saja pada fisik dan cederai batinnya saja. Namun juga pemenuhan gizinya.
“Harus ada keperpihakan pemenuhan gizi pada anak-anak pesantren. Jangan 15 tahun di pesantren anak tumbuh stunting,” ungkapnya.
Ia menegaskan, untuk monitoring pengawasan akan dilakukan oleh kepala seksi dan melibatkan guru pesantren. “Jadi guru-guru pondok pesantren kami bekali dengan ilmu pengasuhan anak,” katanya.
“Kami juga sediakan layanan aduan yang saat ini menjadi layanan pembinaan dalam buku ponpes ramah anak,” imbuhnya.
Dengan demikian, lanjut dia, anak yang menjadi korban kasus kekerasan atau bullying bisa mengadu melalui layanan tersebut. Tentu saja, ada sanksi di dalamnya sesuai dengan tingkatannya.
“Kami tentu melibatkan satuan pendidikan, karena banyak kasus tidak murni terjadi di ponpes. Seperti kasus di Blitar, dengan melibatkan internal pondok dan satuan pendidikan Tsanawiyah,” terangnya.
“Juga kasus di Aceh, ponpes terpadu. Penanganan melibatkan satuan pendidikan SMP,” imbuhnya.
Dari banyaknya temuan kasus yang viral melalui media sosial belakangan menyebabkan masyarakat enggan memasukkan anaknya ke pondok pesantren.
“Kami intens melakukan edukasi kepada masyarakat. Jangan melihat santri selalu pondok, karena ada belajar yang tidak mondok, ada taman pendidikan Al-Qur’an dan lainnya,” terangnya.
“Masyarakat harus teredukasi memiliki pondok pesantren. Sebab syarat pondok pesantren ada 5 rukun, di antaranya pembelajaran kitab kuning, ada kyai, masjid dan santri,” imbuhnya. (nas)