Disway

Rumah Merah

INDOPOSCO.ID – Lasem, Jawa Tengah (Jateng) kini lagi ruwet-ruwetnya. Itu berarti, ada harapan. Banyak jalan lagi digali. Di pinggirnya. Bersamaan pula dengan musim hujan. Becek dan lumpur bersatu dengan tanah galian.

Foto
Dahlan Iskan Saat Mengunjungi Lasem, Jawa Tengah. Foto : Disway.id

Padahal, saya ingin berjalan kaki di kota unik itu. Agar bisa menikmati ketuaan bangunan di sana. Gagal. Tidak nyaman. Apa boleh buat.

Tujuan utama saya pasti –Anda pun tahu: ke Jalan Karang Turi. Itulah pusat batik Lasem Tionghoa –di masa nan lalu. Ternyata juga ada galian. Pun di pinggir Jalan Karang Turi. Untung, ada halaman terbuka di Rumah Merah di Karang Turi. Saya bisa parkir di halaman itu. Sambil menyesal: kenapa tidak makan siang di situ saja. Di teras Rumah Merah. Ternyata ada kantinnya. Banyak pula pilihan makanannya.

Berita Terkait

baca juga : LOL mama

Sungguh menyesal. Kenapa tadi mampir sate kambing. Hanya gara-gara ada asap dan aroma kambing bakar di pinggir Jalan Jatirogo. Padahal, sulit sekali mencapainya: ada galian besar yang memisahkan jalan itu dengan sate tersebut.

Padahal, Lasem adalah juga Rumah Merah itu. Belum ke Lasem kalau belum ke Rumah Merah. Kelak, Jalan Karang Turi tidak boleh hanya diberi selokan. Harus lebih istimewa. Lebih khas. Karang Turi adalah jalan yang kelak sangat layak jual: sebagai pusat turis.

Masih banyak yang harus dikerjakan untuk memoles Jalan Karang Turi. Toh, jalan tersebut tidak panjang. Kurang dari 300 meter. Tidak akan mahal membuat Jalan Karang Turi bernuansa istimewa.

baca juga : PPKM tiga

Karang Turi juga tidak lebar. Hanya enam meter. Yang empat meter sudah telanjur diaspal. Mestinya jangan ada aspal di Karang Turi. Jalannya bisa dibuat dari batu-batu model Jalan Braga di Bandung, Jawa Barat.

Karang Turi bukan jalan utama di Lasem. Juga, bukan satu-satunya yang berciri Tionghoa. Tapi, Karang Turi-lah jantungnya.

Tidak sulit menemukan Karang Turi. Waktu itu saya datang dari arah Semarang –tepatnya dari arah Pati-Rembang. Lewat Jalan Daendels –sekarang lebih terkenal sebagai jalan pantura.

baca juga : bahasa teknik

Begitu memasuki Kota Lasem, tengoklah ke kanan. Ada masjid besar di pinggir jalan pantura. Itulah Masjid Jami’ Lasem. Berilah tanda: akan belok kanan. Untuk masuk ke Jalan Jatirogo. Itulah jalan utama di dalam Kota Lasem.

Sekitar 300 meter dari masjid, sudah mulai tercium rasa China Town-nya. Itulah Pecinan Lasem. Rasanya nyaris seluruh Lasem adalah China Town. Konon, itulah pecinan tertua di Jawa. Sudah ada sejak sebelum zaman Majapahit.

Saya pun masuk ke Rumah Merah itu. Yang catnya memang serbamerah. Yang diselingi warna kuning. Khas China Town.

Siapa saja boleh masuk ke rumah besar tersebut. Rumah turis. Yang dulunya pastilah rumah golongan orang terkaya di Lasem. Besar sekali.

Istri saya tertarik ke yang lain: ke pembatikan. Dia memang belum punya koleksi batik Lasem. Juga, baru tahu bahwa batik Lasem itu terkenal. Di kampungnya, Kalimantan Timur (Kaltim), hanya pernah mendengar batik itu harus Solo dan Yogyakarta.

baca juga : menyambung sulit

Beda dengan suaminya. Sejak kecil saya sudah tahu: batik Lasem itu istimewa. Waktu disunat, saya dibelikan sarung baru: sarung batik Lasem. Sarung bekas yang diperbarui. Sarung lama yang dibatik ulang. Ibu sendiri yang membatik ulang. Menjadi seperti baru.

Batik Lasem juga dikenal sebagai batik pesisir utara. Coraknya lebih egaliter, lebih bebas, dan lebih berwarna. Cita rasa warna Tionghoa banyak berpengaruh ke batik Lasem. Beda dengan batik Solo yang klasik, feodal, dan ningrat.

Saya celingukan di dalam rumah besar itu. Tidak tahu harus bertanya apa kepada siapa. Tiba-tiba suara keras memanggil nama saya. Dari arah belakang. Saya amati siapa yang datang tergopoh-gopoh itu. Sepertinya saya kenal: lupa namanya. ”Saya Rudy Hartono. Masak Pak Dahlan lupa,” katanya.

Awalnya saya lupa. Sudah begitu lama tidak bersua. ”Oh, saya ingat. Anda pengurus barongsai kan? Kok ada di sini?” jawab saya.

”Ini rumah saya, Pak. Rumah Merah ini sekarang saya yang punya,” katanya. Wow. ”Anda orang Lasem?” tanya saya.

”Ya. Saya lahir di Lasem. Di rumah itu,” jawabnya sambil menunjuk rumah lain. Yang bagian depannya dijadikan toko mebel dan handphone.

Rumah lain itu menghadap ke Jalan Jatirogo. Di arah seberang sate. Pantat rumah lain itu beradu dengan pantat Rumah Merah. Jadilah rumah itu sambung-menyambung: satu pemilik, Rudy Hartono.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button