INDOPOSCO.ID – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) RI Ahmad Haikal Hasan, melontarkan kecaman keras terhadap aksi pembakaran warung mi nonhalal di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 12 September 2026. Ia menilai tindakan tersebut bukan sekadar aksi perusakan, melainkan tamparan bagi nilai toleransi dan keberagaman yang menjadi fondasi kehidupan bangsa Indonesia.
Pria yang akrab disapa Babe Haikal itu menegaskan, perbedaan pilihan konsumsi, termasuk soal halal dan nonhalal, tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan intimidasi, ancaman, apalagi kekerasan terhadap pelaku usaha maupun karyawannya.
“Teman-teman sekalian, saya mendengar dan melihat di media sosial adanya sebuah warung dibakar karena menjual daging tertentu yang dikategorikan tidak halal bagi umat Islam di Indonesia,” ujar Babe Haikal dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (1/11/2026).
“Bersama ini kami tekankan bahwa hal ini adalah kejadian yang sangat memalukan, tidak boleh terjadi lagi, dan harap menjadi kejadian yang pertama dan terakhir,” sambungnya.
Menurutnya, Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, ras, agama, kelompok, dan kepercayaan. Karena itu, setiap warga negara memiliki tanggung jawab menjaga ruang hidup bersama agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber permusuhan.
Babe Haikal juga mengingatkan bahwa halal dan nonhalal merupakan pilihan yang harus dihormati dalam kehidupan masyarakat majemuk. Tidak boleh ada pemaksaan kehendak terhadap orang lain hanya karena perbedaan keyakinan atau kebiasaan.
“Halal dan nonhalal adalah sebuah pilihan. Indonesia adalah negara majemuk dengan berbagai macam suku, ras, kelompok, agama, dan kepercayaan yang seharusnya menjadi contoh bagi seluruh negara di dunia bahwa kita tetap bisa menjaga kerukunan,” tegasnya.
Ia berharap insiden di Sukoharjo menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah tersulut provokasi. Penyelesaian persoalan, apa pun latar belakangnya, harus mengedepankan penghormatan terhadap hukum dan nilai kemanusiaan.
“Seluruh elemen masyarakat harus saling menghormati dan saling menjaga. Mari kita jadikan Indonesia sebagai contoh bagi dunia dalam menerapkan keberagaman yang indah, keteraturan, dan kerukunan antarsuku, ras, agama, serta golongan,” tambahnya.
Babe Haikal menekankan, menjaga kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama. Perbedaan semestinya menjadi kekuatan bangsa, bukan alasan untuk merusak, mengancam, ataupun menyakiti sesama warga negara. (her)


















