INDOPOSCO.ID – Hasil riset mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan riset menjadi inovasi berdampak bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut diungkapkan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron dalam keterangan, Minggu (1/11/2026). Ia mengatakan, tanggung jawab perguruan tinggi melalui pendampingan dan pengujian riset mahasiswa.
“Medali merupakan pengakuan atas capaian mahasiswa. Tugas perguruan tinggi berikutnya adalah melihat karya mana yang layak dikembangkan, pengujian apa yang masih diperlukan, dan dukungan apa yang dibutuhkan agar riset itu terus bergerak,” ujar Sahiron.
Diketahui, Kementerian Agama (Kemenag) akan menyelenggarakan Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III PTKIN 2026. Ajang tersebut bakal mempertemukan 497 finalis dari 54 PTKIN.
OASE III juga menghadirkan sejumlah cabang riset di antaranya nanoteknologi dan kesehatan, teknologi produk halal dan ketahanan pangan, pengelolaan limbah dan lingkungan hidup, serta konservasi energi untuk kampus hijau.
Ia menuturkan, penguatan riset di lingkungan PTKIN harus sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Sejumlah sektor seperti kesehatan, pangan, energi, dan lingkungan dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi ruang kontribusi mahasiswa.
Menjawab itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Noorhaidi Hasan mengatakan, OASE III dapat menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk memetakan hasil penelitian mahasiswa yang berpeluang dikembangkan melalui kolaborasi dan pendampingan.
“Hasil riset yang lolos pada OASE III belum tentu langsung siap diterapkan di tengah masyarakat,” katanya.
“Penelitian di bidang kesehatan dan pangan yang membutuhkan pengujian terkait manfaat, keamanan, serta kesesuaian penggunaannya,” sambung Noorhaidi.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga, Abdur Rozaki menambahkan, OASE III bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah untuk mendorong inovasi mahasiswa agar memberikan kontribusi lebih luas bagi Indonesia.
Dengan demikian, lanjut dia, keberhasilan OASE tidak hanya diukur dari jumlah medali, tetapi juga dari sejauh mana hasil riset mahasiswa dapat berkembang menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berguna bagi masyarakat.(nas)


















