INDOPOSCO.ID – Semangat Sumpah Pemuda tak cukup hanya dikenang lewat seremoni tahunan. Di tengah dunia yang diwarnai ketegangan geopolitik, ketidakpastian ekonomi, hingga ancaman bencana lingkungan, Indonesia justru membutuhkan kembali keberanian dan kebesaran hati generasi muda 1928 untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas segala perbedaan.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam video resmi peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat kembali menggali nilai perjuangan para pemuda yang hampir satu abad lalu berhasil menyatukan tekad di tengah keberagaman.
Dasco mengingatkan, Sumpah Pemuda lahir bukan dari keseragaman pandangan. Para pemuda dan pemudi yang berasal dari beragam suku, agama, serta organisasi justru mampu mengesampingkan sekat-sekat kelompok demi satu tujuan besar: Indonesia yang bersatu.
Mereka tidak harus sepakat dalam seluruh persoalan untuk bisa berjalan bersama. Justru di tengah perbedaan itulah lahir sebuah keputusan bersejarah yang menjadi fondasi persatuan bangsa hingga hari ini.
“Itulah keberanian politik generasi 1928: Menempatkan cita bangsa di atas batas kelompok. Dan keberanian semacam itu kembali dituntut dari kita hari ini,” kata Dasco dalam video tersebut, dikutip pada Minggu (1/11/2026).
Pesan Dasco tersebut mendapat dukungan dari pengamat politik Bawono Kumoro. Menurut dia, semangat persatuan yang diwariskan para pendiri bangsa harus diwujudkan dalam tindakan nyata, terlebih ketika Indonesia menghadapi beragam persoalan yang tidak sederhana.
Bawono menilai, tantangan bangsa saat ini tidak hanya datang dari dinamika politik dan ekonomi internasional, tetapi juga persoalan domestik seperti bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Situasi tersebut membutuhkan solidaritas dan kemampuan seluruh elemen bangsa untuk bergerak bersama.
“Persatuan Indonesia memang tidak boleh berhenti menjadi sekadar slogan saja di tengah ketidakpastian geopolitik hingg bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti saat ini,” ujar Bawono.
Lebih jauh, Bawono mengingatkan bahwa persatuan nasional tidak boleh terjebak menjadi jargon yang hanya ramai diucapkan dalam pidato maupun peringatan hari besar nasional.
Menurutnya, ukuran keberhasilan persatuan justru terlihat dari bagaimana negara mengelola pemerintahan, merumuskan kebijakan, dan memastikan setiap keputusan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Di era modern penuh tantangan saat ini makna persatuan tidak boleh lagi sebatas retorika slogan semata melainkan juga harus didorong agar persatuan nasional bisa diwujudkn dalam efektivitas dari tata kelola negara dan pembuatan kebijakan publik membawa kebermanfaatan luas bagi publik,” tambahnya.(her)


















