INDOPOSCO.ID – Kerukunan antarumat beragama menjadi salah satu modal penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggaungkan semangat toleransi melalui tema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri”.
Pesan tersebut ditegaskan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag sebagai upaya memperkuat harmoni sosial, perdamaian, dan persatuan di tengah masyarakat.
Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kemenag Abu Rokhmad menyebut November dan Desember menjadi momentum penting untuk memperkuat kerukunan. Selain peringatan Hari Toleransi Internasional setiap 16 November, masyarakat juga bersiap menyambut Natal bagi umat Kristiani dan pergantian tahun.
“Merupakan tugas Kementerian Agama untuk terus merawat, menjaga, dan mewujudkan kerukunan, toleransi, harmoni, serta persatuan di antara umat beragama,” ujar Abu ditemui indoposco.id di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, kepedulian, dan kerja sama antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Tema “Merawat Toleransi, Menguatkan Negeri” juga sejalan dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, terutama dalam memperkuat kehidupan yang harmonis serta meningkatkan toleransi antarumat beragama demi mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Ia menyebut, untuk memperkuat harmoni sosial, perdamaian, dan persatuan di tengah masyarakat, Kemenag menyiapkan sejumlah program strategis untuk memperkuat kerukunan melalui semangat The Wonderful of Harmony. Program tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan, pemuda, dan mahasiswa.
“Salah satu agenda yang disiapkan adalah dialog kerukunan antarumat beragama di kediaman Menteri Agama,” katanya.
Kegiatan ini, lanjut dia, direncanakan menghadirkan pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan untuk memperkuat sinergi dalam pembinaan umat.
“Melalui dialog ini kami berharap komunikasi lintas agama semakin terbuka sehingga berbagai persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan dapat disikapi secara bijaksana dan mengedepankan kepentingan bersama,” terangnya.
Selain itu, Kemenag juga mendorong program Bimbingan Remaja Usia Nikah melalui kerja sama dengan organisasi pemuda dan mahasiswa. Program ini bertujuan memberikan pemahaman sejak dini mengenai kesiapan membangun rumah tangga sekaligus menekan angka perceraian dan berbagai persoalan keluarga.
Ia menyebut, upaya menjaga harmoni juga diperluas melalui program RECONECT (Religious Counselor, Prison Rehabilitation and Community Reintegration). Program ini merupakan kolaborasi Kemenag dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Densus 88 Antiteror Polri, dan Kementerian Sosial.
“RECONECT berfokus pada pendampingan, rehabilitasi, serta reintegrasi sosial bagi mantan narapidana terorisme agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan diterima di tengah masyarakat,” terangnya.
Melalui rangkaian program tersebut, ia berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga toleransi, memperkuat ketahanan keluarga, dan membangun kehidupan yang harmonis semakin meningkat. Semangat merawat kerukunan diharapkan tidak hanya terasa menjelang Nataru, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari demi memperkokoh persatuan bangsa. (nas)

















