INDOPOSCO.ID – Salah satu jangkauan program terbesar Kementerian Agama (Kemenag) berada di bidang pendidikan. Sepanjang 2025–2026, Program Indonesia Pintar (PIP) menjangkau 5.216.294 siswa madrasah, sekolah pendidikan Kristen, Katolik, dan Hindu dengan anggaran Rp4,07 triliun.
Pernyataan tersebut diungkapkan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar ditemuin indoposco.id saat jumpa wartawan capaian dua tahun Asta Cita di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Nasaruddin mengungkapkan, pada jenjang perguruan tinggi, KIP Kuliah menjangkau 289.255 mahasiswa Pendidikan Tinggi Keagamaan baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha dengan nilai Rp3,032 triliun. Beasiswa Indonesia Bangkit Kemenag – LPDP juga menjangkau 3.659 penerima pada 2024–2025 dengan nilai Rp1,377 triliun.
“Di bidang pendidikan, perhatian utama kami adalah memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus kesempatan anak-anak Indonesia untuk belajar,” tegas Nasaruddin.
Ia menambahkan, peningkatan pendidikan keagamaan juga dilakukan bagi umat Khonghucu dengan membangun Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Negeri (SETIAKIN) di Bangka Belitung.
“Dukungan terhadap kesejahteraan pendidik juga diperkuat. Pada 2025, sebanyak 452.796 guru madrasah dan guru pendidikan agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha) menerima tunjangan profesi senilai Rp19,148 triliun,” ungkapnya.
“Pada 2026, tercatat 671.704 guru madrasah dan dan guru pendidikan agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha) dengan alokasi Rp25,996 triliun,” imbuhnya.
Perhatian terhadap siswa dan santri juga dilakukan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG). MBG tercatat telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri, sementara CKG menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menambahkan, pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas generasi mendatang.
“Anak-anak yang sehat dan tercukupi kebutuhan gizinya tentu memiliki kesempatan yang lebih baik untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya,” kata Romo.
Menurutnya, perluasan MBG di pesantren perlu diikuti dengan pendataan santri yang akurat, distribusi tepat sasaran, dan kualitas makanan yang terjaga. Pesantren juga diharapkan semakin terlibat dalam ekosistem MBG sehingga manfaat program tidak berhenti pada pemenuhan gizi, tetapi turut menggerakkan pemberdayaan ekonomi pesantren.
“Pesantren yang kuat harus ditopang oleh santri yang sehat, berkualitas, dan memiliki kesempatan untuk tumbuh,” tegasnya. (nas)

















