INDOPOSCO.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Guru PAUD dan PNF terus menggiatkan sosialisasi lagu anak sebagai media pembelajaran melalui Karya Cipta Lagu Pembelajaran Anak Usia Dini (KICAU). Langkah ini diambil guna menghidupkan kembali lagu anak yang kian langka di tengah derasnya arus digital dan dominasi lagu dewasa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa lagu merupakan media yang tidak hanya memberikan rasa percaya diri, tetapi juga melatih ekspresi serta memantik imajinasi masa depan anak Indonesia. Menurutnya, lagu anak bukan sekadar pengisi waktu senggang, melainkan medium efektif untuk mengajarkan nilai karakter, moral, hingga konsep sains dan lingkungan melalui bahasa yang mudah dipahami.
“Yang terpenting anak-anak turut diberi kesempatan menyanyi, karena lagu turut menjadi sarana mereka bermain, selain wadah mengembangkan nilai dan karakter. Lewat lagu, anak-anak menjadikannya sebagai pemandu dan imajinasi tentang dirinya sebagai anak Indonesia Hebat,” ujar Abdul Mu’ti.
Direktur Guru PAUD dan PNF, Saiful Bari, menambahkan bahwa pendekatan paling dekat untuk menyampaikan pesan pembelajaran kepada anak usia dini adalah melalui musik. Karena itu, KICAU hadir mengajak para guru berkreasi menciptakan lagu ceria yang mengandung nilai karakter, narasi, maupun numerasi, sekaligus menjadi tantangan bagi guru agar tetap adaptif dengan perkembangan teknologi.
Dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari para musisi Tanah Air, salah satunya vokalis d’Masiv, Rian Ekky Pradipta. Rian mengapresiasi KICAU sebagai program strategis dari Kemendikdasmen yang berhasil mengoptimalkan potensi guru PAUD dalam menciptakan karya musik mendidik, seperti lagu Bebek-Bebekku, Mengenal Warna, dan Hari-Hariku.
“Melalui metode belajar dengan musik, anak-anak bisa belajar kata, gerak, dan pesan yang terkandung di dalamnya. Semoga akan banyak lagu yang menginspirasi serta memiliki pesan positif bagi anak, dan program ini tersiar dengan benar sehingga menjadi gerakan prioritas negara,” tutur Rian.
Sementara itu, pegiat musik anak Ria Enes menekankan pentingnya pemberdayaan guru dalam memanfaatkan lagu untuk mengakomodasi seluruh tema pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Ia mengingatkan pentingnya konsistensi para pendidik dan orang tua untuk membentengi anak-anak dari paparan lagu dewasa yang tidak sesuai dengan usia serta tahap perkembangan jiwa mereka.
Dari sudut pandang praktisi pendidikan musik, pemilik Sekolah Vidi Vici, Elsa Sigar, menilai KICAU memiliki peran strategis sebagai jembatan antara seni, pendidikan, dan dunia anak. Namun, ia juga mengingatkan tantangan teknis yang dihadapi guru, mulai dari pengelolaan kelas, adaptasi materi, hingga pemahaman terkait regulasi hak cipta dalam penggunaan karya musik digital.
Elsa pun berharap KICAU tidak sekadar berhenti sebagai ajang perlombaan tahunan atau pembuatan album semata, melainkan menjadi fondasi berkelanjutan bagi para pendidik. Sebagai informasi, program KICAU yang digelar pada 2024 dan 2025 ini telah melahirkan 40 lagu anak baru yang orisinal, menarik, dan bermakna untuk mendukung pembelajaran usia dini di seluruh Indonesia. (srv)

















