INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pendidikan merupakan kekuatan utama dalam membangun bangsa dan menyiapkan generasi masa depan. Pendidikan yang berkualitas menjadi fondasi untuk mewujudkan bangsa yang maju sekaligus melahirkan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman.
“Untuk membangun bangsa yang baik, kita harus memiliki pendidikan yang baik. Jika ingin melahirkan generasi yang baik, kita juga harus memiliki pendidikan yang baik. Saya percaya bahwa pendidikan adalah sebuah kekuatan,” ujar Mu’ti dalam keterangan, Rabu (14/10/2026).
Ia menyampaikan bahwa pendidikan menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto, sebagaimana tercermin dalam Asta Cita keempat yang menekankan pembangunan sumber daya manusia serta penguatan generasi muda menuju Generasi Emas Indonesia.
Menurut Mu’ti, pendidikan di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan yang membutuhkan kerja bersama dari pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Untuk itu, Kemendikdasmen menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menekankan keterlibatan aktif murid dalam proses belajar.
“Pendekatan ini menempatkan murid sebagai manusia seutuhnya yang perlu dihargai, sekaligus mengakui pentingnya penghormatan terhadap guru dan masyarakat dalam ekosistem pendidikan,” ujarnya.
Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, Kemendikdasmen memperkuat pendidikan karakter melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, makan sehat dan bergizi, bermasyarakat, serta tidur cepat.
“Pendidikan perlu dibangun melalui pendekatan humanis dengan melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media sebagai catur pusat pendidikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Mu’ti menegaskan, bahwa keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari peran guru. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membimbing murid menjadi pembelajar yang baik dan warga negara yang bertanggung jawab.
“Kami menekankan peran guru bukan hanya sebagai agen pembelajaran, melainkan juga sebagai agen peradaban,” ungkapnya. (nas)

















