INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menegaskan, transformasi perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur dari capaian akademik, jumlah lulusan, maupun reputasi kampus. Lebih dari itu, kampus harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, mulai dari meningkatkan produktivitas ekonomi hingga menjawab persoalan pengangguran.
Fauzan menyebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan pembangunan, termasuk kesenjangan keterampilan dan ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Ini jadi perhatian serius di tengah masih tingginya angka pengangguran dari kalangan terdidik,” ungkap Fauzan dalam keterangan, Senin (19/10/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Mei 2026, sekitar 1,03 juta penganggur merupakan lulusan pendidikan tinggi jenjang D4, S1, S2, dan S3. Jumlah tersebut mencapai 14,31 persen dari total penganggur, meningkat dibandingkan November 2025 sebesar 12,37 persen.
“Perguruan tinggi perlu mengevaluasi sejauh mana kepakaran dosen, hasil penelitian, dan sumber daya kampus telah menjawab kebutuhan masyarakat di sekitarnya,” ujar Fauzan.
Menurut dia, kampus harus mengubah cara pandang dalam menjalankan mandat pendidikan tinggi. Penguatan tata kelola dan prestasi akademik mesti berjalan beriringan dengan integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Fauzan mengingatkan, keberadaan kampus dengan gedung megah, banyak guru besar, serta reputasi akademik yang baik harus diikuti kontribusi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Terutama bagi kelompok yang masih menghadapi kemiskinan dan keterbatasan akses pendidikan.
“Keberhasilan kampus tidak hanya dilihat dari jumlah lulusan dan publikasi, tetapi juga dari relevansi kompetensi lulusan, pemanfaatan hasil riset, dan nilai sosial maupun ekonomi yang dihasilkan,” tegasnya.
Dia menilai, masih terdapat kesenjangan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan ekonomi, kompetensi lulusan dan tuntutan dunia kerja, serta hasil penelitian dan pemanfaatannya oleh industri.
Karena itu, Fauzan mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan dunia industri. Proses pembelajaran juga harus semakin adaptif, agar mahasiswa tidak sekadar menguasai teori, tetapi mampu menerapkan ilmu untuk menyelesaikan persoalan nyata. (nas)

















