INDOPOSCO.ID – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan diplomasi sains harus menjadi jembatan kerja sama antarnegara untuk menghasilkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi riset internasional dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, transisi energi, hingga kesehatan dan penguatan industri.
Penegasan itu disampaikan Arif menjelang penyelenggaraan Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 di Jakarta, 19-24 Oktober 2026. Forum internasional yang diselenggarakan Asia-Europe Foundation (ASEF) bekerja sama dengan BRIN dan Kementerian Luar Negeri RI tersebut mempertemukan 59 profesional muda dari 41 negara di Asia dan Eropa.
Menurut Arif, persoalan global yang semakin kompleks tidak dapat diselesaikan oleh satu negara secara mandiri. Dibutuhkan kolaborasi yang melibatkan ilmuwan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat internasional untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, sains dan teknologi harus menjadi jembatan kerja sama antarnegara. Indonesia memiliki potensi riset dan inovasi yang besar, dan melalui BRIN kita ingin memastikan potensi tersebut tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga menjadi bagian dari solusi global,” ujar Arif di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Dia menambahkan, diplomasi sains harus mampu mempertemukan pengetahuan, teknologi, dan kepentingan bersama sehingga menghasilkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Arif menilai, kesempatan menjadi tuan rumah forum internasional tersebut menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam jejaring diplomasi sains global. Indonesia tidak hanya ingin menjadi pengguna perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga berperan aktif sebagai mitra dalam menghasilkan pengetahuan, mengembangkan inovasi, dan merumuskan solusi atas persoalan bersama.
Lebih jauh, Arif menekankan keberhasilan riset tidak cukup diukur dari banyaknya publikasi ilmiah maupun temuan teknologi. Hasil penelitian harus mampu diterjemahkan menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, meningkatkan produktivitas, memperkuat industri, dan menciptakan nilai tambah ekonomi.
“Ketika hasil riset mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan energi, membantu industri berkembang, atau melahirkan usaha berbasis teknologi, di situlah riset memberikan dampak nyata bagi pembangunan,” jelasnya.
Arif mengatakan, kerja sama internasional menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset. Kolaborasi dengan lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri, dan mitra teknologi di berbagai negara dapat mempertemukan kapasitas keilmuan, infrastruktur penelitian, pengalaman, serta sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan inovasi.
Melalui diplomasi sains, menurutnya, BRIN dapat membangun kemitraan yang memberikan manfaat timbal balik bagi Indonesia dan negara mitra. Kerja sama dengan negara-negara Asia dan Eropa diharapkan membuka akses terhadap pengetahuan dan teknologi, mempercepat pengembangan inovasi, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
“Melalui diplomasi sains, kita ingin membangun kerja sama yang memberikan manfaat timbal balik. Kolaborasi Indonesia dengan negara-negara Asia dan Eropa harus dapat membuka akses terhadap pengetahuan dan teknologi, mempercepat pengembangan inovasi, serta menciptakan peluang ekonomi baru,” terangnya.
Bagi BRIN, dikatakan dia, diplomasi sains bukan sekadar memperluas jejaring internasional. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi instrumen untuk memperkuat kapasitas riset nasional dan mempercepat pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi bagi pembangunan.
Dikatakan dia, dengan kolaborasi lintas negara, BRIN mendorong pertukaran pengetahuan, pengembangan inovasi, dan kemitraan riset yang relevan dengan kebutuhan Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan berlanjut menjadi langkah nyata untuk menjawab tantangan di sektor pangan, energi, kesehatan, lingkungan, serta penguatan industri.
“Forum Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 merupakan bagian dari Asia-Europe Science and Technology Diplomacy Initiative for Young Professionals yang diinisiasi ASEF,” ungkapnya.
Arif menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan masa depan diplomasi sains. Kemampuan memahami perkembangan ilmu pengetahuan perlu diimbangi keterampilan diplomasi, komunikasi lintas budaya, dan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kita membutuhkan generasi baru yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mampu membangun kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin,” ujarnya.
Dia berharap semakin banyak ilmuwan yang memahami kebijakan, diplomat yang mengerti sains, serta inovator yang mampu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri. (nas)

















