INDOPOSCO.ID – Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi minyak nasional masih menjadi pekerjaan besar bagi industri hulu migas Indonesia. Di tengah konsumsi energi yang terus meningkat, Forum Ekonomi (Forek) Hulu Migas 2026 diproyeksikan menjadi ajang strategis untuk mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan investor dalam merumuskan langkah konkret guna menggenjot produksi sekaligus memperkokoh ketahanan energi nasional.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, mengungkapkan Forek merupakan forum strategis yang telah diselenggarakan sejak 2018. Setelah sempat vakum akibat pandemi Covid-19, forum tersebut kembali hadir pada 2026 dengan fokus mendorong peningkatan produksi atau lifting minyak nasional.
Menurut Desti, meningkatnya kebutuhan minyak di dalam negeri membuat penguatan lifting tidak bisa lagi ditunda. Pencapaian target produksi membutuhkan kontribusi aktif Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), dukungan SKK Migas, serta kolaborasi erat seluruh pemangku kepentingan di sektor hulu migas.
“Untuk mendorong keseimbangan industri serta fokus mewujudkan target lifting minyak, dibutuhkan sinergi dan masukan stakeholder,” ujar Desti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Forek Hulu Migas 2026 akan berlangsung di Jakarta pada 28–29 Oktober 2026 dengan agenda membahas berbagai persoalan yang membayangi industri hulu migas. Salah satu perhatian utama ialah menjaga produktivitas lapangan-lapangan yang semakin menua, ketika penurunan alamiah produksi terus menekan kemampuan industri dalam mempertahankan pasokan minyak.
“Salah satu tantangan terbesar industri adalah mengatasi penurunan produksi alamiah atau natural decline. Kondisi tersebut membutuhkan upaya pengeboran secara masif serta langkah strategis untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi,” katanya.
Di tengah tantangan operasional tersebut, kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) di pasar internasional turut memberikan dorongan terhadap penerimaan negara. Namun, keuntungan dari kenaikan harga komoditas belum cukup untuk menjamin ketahanan energi apabila tidak disertai upaya menjaga kesinambungan produksi dalam negeri.
“Penerimaan negara telah mencapai sekitar 109 persen dari target APBN 2026. Meski demikian, peningkatan penerimaan akibat kenaikan harga komoditas perlu diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutan produksi nasional,” tutur Desti.
Chairperson Forek Hulu Migas 2026, Nyimas Fauziah Rikani, menyampaikan bahwa tingginya perhatian terhadap persoalan energi tercermin dari antusiasme peserta yang diperkirakan melampaui ekspektasi panitia. Sekitar 1.100 peserta diproyeksikan menghadiri forum tersebut, jauh di atas target awal sebanyak 750 peserta, dengan pembahasan yang melibatkan puluhan narasumber dari berbagai bidang.
“Kami menghadirkan sekitar 50 narasumber kompeten, yang dibagi dalam enam sesi diskusi,” jelas Rikani.
Forek Hulu Migas 2026 direncanakan dibuka oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, sementara Menteri Keuangan Suahasil Nazara dijadwalkan menyampaikan sambutan pembuka. Kehadiran kedua pejabat tersebut diharapkan memperkuat pembahasan mengenai keterkaitan kebijakan energi, iklim investasi, dan penerimaan negara.
Dari sisi industri, Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto, menegaskan bahwa selisih antara konsumsi dan produksi minyak domestik masih menjadi tantangan serius. Kebutuhan minyak Indonesia telah mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi nasional baru berkisar 600 ribu barel per hari. Kondisi ini memperlihatkan besarnya pekerjaan yang harus dilakukan untuk mempersempit kesenjangan pasokan.
“Industri hulu migas membutuhkan investasi yang besar. Pada tahun ini, kebutuhan investasi sektor tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$15 miliar. Oleh sebab itu, kepastian hukum, kepastian investasi, dan dukungan berbagai pihak menjadi faktor penting dalam mendorong pengembangan lapangan migas,” terang Bayu.
Bayu juga menilai peluang untuk meningkatkan produksi masih terbuka, mengingat Indonesia memiliki sekitar 100 cekungan migas dan baru sekitar 20 di antaranya yang telah digarap. Meski demikian, eksplorasi dan pengembangan wilayah potensial membutuhkan pendanaan besar serta waktu panjang, sehingga kepastian regulasi dan daya tarik investasi menjadi faktor penentu.
“Pertamina Hulu Energi berkomitmen untuk terus mencari solusi guna meningkatkan produksi dan mendukung ketahanan energi nasional,” tutupnya.
Melalui Forek Hulu Migas 2026, industri diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mampu menghasilkan strategi yang dapat ditindaklanjuti untuk menekan penurunan produksi, mempercepat investasi, dan membuka potensi cekungan migas yang belum tergarap. Langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkecil kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan minyak sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. (her)

















