INDOPOSCO.ID – Koperasi didorong tidak lagi sekadar menjadi tempat simpan pinjam, tetapi berkembang sebagai wadah bisnis bersama yang mampu membuka lapangan kerja dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada pinjaman online (pinjol). Potensi ini dinilai penting, terutama bagi Generasi Z dan milenial yang membutuhkan lebih banyak peluang ekonomi produktif.
Direktur Umum dan Hukum Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, Deva Rachman, mengatakan keterlibatan anak muda menjadi salah satu kunci untuk memperkuat peran koperasi dalam perekonomian.
“Koperasi jadi solusi bagi Indonesia yang saat ini membutuhkan tenaga kerja. Bagaimana koperasi menjadi solusi lapangan kerja bagi anak muda Gen Z dan milenial. Kami harap koperasi yang melibatkan anak muda bisa terus berkembang,” kata Deva di Yogyakarta, Senin (12/10/2026).
Menurut Deva, koperasi membuka ruang kolaborasi bagi anggotanya untuk membangun usaha, memperluas pasar, hingga memperoleh manfaat ekonomi dari bisnis yang dijalankan bersama. Dengan pengelolaan yang sehat, koperasi juga berpeluang menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU) bagi anggota.
“Koperasi yang dikelola secara sehat dapat menghasilkan Sisa Hasil Usaha (SHU) bagi anggotanya. Karena itu, penguatan tata kelola dan pengembangan bisnis menjadi faktor penting agar koperasi mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain menciptakan peluang usaha, koperasi diharapkan menjadi alternatif akses pembiayaan untuk kegiatan produktif. Dengan begitu, masyarakat memiliki pilihan untuk mengembangkan usaha tanpa terus bergantung pada pinjol guna memenuhi kebutuhan ekonominya.
“Kita melihat koperasi bisa menjadi solusi supaya tidak terlibat pinjol. Kami harap dengan berkoperasi bisa tercipta bisnis yang menguntungkan dan makin banyak masyarakat yang terbebaskan dari pinjol,” jelas Deva.
Meski demikian, koperasi bukan pengganti seluruh kebutuhan pinjaman masyarakat. Peran utamanya adalah memperkuat ekonomi anggota melalui usaha produktif yang ditopang model bisnis jelas, tata kelola baik, dan pengelolaan keuangan yang sehat.
Untuk mendukung pengembangan usaha tersebut, LPDB menyediakan fasilitas pinjaman atau pembiayaan dana bergulir bagi koperasi yang memenuhi persyaratan. Deva menyebut tarif pembiayaan LPDB sekitar 6 persen per tahun, yang menurut perbandingan dalam kegiatan tersebut lebih rendah dibandingkan bunga perbankan.
“Skema pembiayaan itu diharapkan dapat membantu koperasi mengembangkan kegiatan usaha, termasuk yang melibatkan freelance (pekerja lepas), pelaku industri kreatif, komunitas olahraga, dan kelompok usaha lainnya,” ungkap Deva.
Melalui koperasi, kelompok pekerja lepas, pelaku industri kreatif, komunitas olahraga, dan kelompok usaha lainnya dapat menghimpun potensi ekonomi, membangun bisnis bersama, serta memperluas akses pembiayaan. Namun, dana LPDB tidak diberikan langsung kepada individu. Pengajuan harus dilakukan melalui koperasi dan mengikuti persyaratan serta proses penilaian yang berlaku.
“LPDB juga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian untuk memastikan dana bergulir digunakan secara produktif dan dapat dikembalikan sesuai dengan perjanjian pembiayaan,” tambahnya. (her)

















