INDOPOSCO.ID — Jaringan klinik estetika medis asal Malaysia, MyClinic, resmi memperluas jangkauannya ke Indonesia dengan membuka klinik pertamanya di Jakarta. Ekspansi ini menjadi langkah perusahaan untuk memperkenalkan layanan estetika medis yang mengedepankan pendekatan berbasis dokter, konsultasi personal, dan hasil perawatan yang natural.
Didirikan pada 2014, MyClinic telah berkembang dengan lebih dari 28 cabang di Malaysia. Perusahaan mengklaim telah melayani lebih dari satu juta tindakan perawatan dengan tingkat kepuasan pasien mencapai 95 persen.
Founder sekaligus Medical Director MyClinic, Dr. Hoe Yut Hung, mengatakan kehadiran di Indonesia merupakan bagian dari pengembangan bisnis setelah lebih dari satu dekade membangun pengalaman dan standar pelayanan di Malaysia.
“Selama 12 tahun, kami membangun pengalaman, standar medis, dan filosofi pelayanan MyClinic. Kini, kami ingin membawa pengalaman tersebut ke Jakarta,” ujarnya.
Jakarta dipilih sebagai lokasi pertama ekspansi MyClinic di Indonesia. Operasional klinik di Tanah Air dijalankan melalui PT Kliniku Sukses Sinergy, dengan Dr. dr. Taufik Jamaan, SpOG, sebagai komisaris.
Dalam menjalankan layanannya, MyClinic mengusung pendekatan yang disebut The MyClinic Method. Metode ini menempatkan konsultasi dan pemeriksaan dokter sebagai tahap awal sebelum pasien mendapatkan rekomendasi tindakan. Dengan demikian, jenis perawatan disesuaikan dengan kondisi kulit, kebutuhan, serta tujuan masing-masing pasien.
Dokter MyClinic, Dr. Clarissa Nathasia, mengatakan pendekatan tersebut penting untuk memastikan tindakan estetika tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar sesuai dengan kondisi pasien.
Dokter yang memiliki pengalaman lebih dari delapan tahun di bidang estetika medis itu juga menekankan prinsip enhance, not alter, yakni memperbaiki penampilan tanpa menghilangkan karakter asli wajah.
“Kami ingin hasil yang natural, segar, dan tetap sesuai karakter wajah pasien,” ujarnya.
Menurut Clarissa, minat terhadap perawatan estetika kini tidak hanya datang dari perempuan, tetapi juga semakin meningkat di kalangan laki-laki. Meski demikian, kebutuhan perawatan setiap pasien dapat berbeda karena karakteristik kulit dan kondisi masing-masing individu tidak sama.
Ia menjelaskan, perawatan kulit sejak dini dapat dimulai dari langkah dasar, seperti penggunaan produk perawatan kulit dan facial. Tindakan lanjutan tidak selalu diperlukan, terutama bagi pasien usia muda. Penentuan perawatan tetap harus didasarkan pada pemeriksaan dokter.
Dalam proses konsultasi, dokter akan menggali keluhan dan riwayat perawatan pasien sebelum memberikan rekomendasi. Pendekatan ini bertujuan agar pasien memahami kondisi kulitnya sekaligus memperoleh gambaran mengenai tindakan yang sesuai.
Dari sisi biaya, MyClinic menyebut tersedia sejumlah pilihan perawatan dengan harga di bawah Rp10 juta. Besaran biaya bergantung pada jenis tindakan dan kebutuhan masing-masing pasien.
Layanan yang ditawarkan mencakup facial, laser, peeling, microneedling, Platelet-Rich Plasma (PRP), perawatan pelangsingan, injeksi estetika, skin booster, hingga perawatan rambut.
Sejumlah layanan yang menjadi perhatian MyClinic antara lain Sculptra, Ultherapy PRIME, dan Density. Klinik ini juga menyediakan Botox serta dermal filler.
Ultherapy PRIME menggunakan teknologi micro-focused ultrasound untuk membantu pengencangan kulit. Sementara itu, Density merupakan teknologi berbasis radiofrekuensi yang ditujukan untuk membantu stimulasi kolagen dan pengencangan kulit.
Adapun Sculptra menggunakan bahan poly-L-lactic acid (PLLA) yang bekerja dengan merangsang pembentukan kolagen secara bertahap. Hasil perawatan dapat berkembang seiring waktu dan berbeda pada setiap pasien.
Clarissa mengingatkan bahwa setiap prosedur estetika memiliki indikasi, manfaat, serta keterbatasan. Karena itu, konsultasi dengan dokter diperlukan sebelum pasien memutuskan menjalani tindakan. Pasien juga perlu memahami bahwa hasil perawatan nonbedah tidak dapat disamakan dengan operasi dan dalam kondisi tertentu dapat membutuhkan beberapa sesi.
Terkait keamanan layanan, MyClinic menyatakan menerapkan standar operasional prosedur, melibatkan dokter dan tenaga profesional terlatih, serta melakukan pemantauan terhadap pasien. Klinik tersebut juga menjalin kemitraan dengan Klinik Utama MedicaPro.
Sementara itu, terkait sertifikasi halal, Clarissa menyampaikan bahwa produk skincare MyClinic saat ini belum memiliki sertifikat halal. Perusahaan, kata dia, tengah mengupayakan proses pengurusannya.
Di Malaysia, MyClinic telah memperoleh sejumlah penghargaan dan pengakuan di bidang estetika medis. Salah satunya adalah pengakuan Malaysia Book of Records atas penyelenggaraan 888 sesi Hydrafacial dalam satu hari. Perusahaan juga menyebut menerima berbagai apresiasi dari mitra teknologi dan produk estetika, termasuk Ultherapy, Galderma, dan Density.
Selain layanan estetika medis, MyClinic memiliki pengalaman dalam pengembangan layanan wellness dan perawatan rambut di Malaysia. Layanan perawatan rambut juga menjadi bagian dari fasilitas yang dikembangkan di Jakarta.
Ke depan, MyClinic berencana memperluas jaringan kliniknya di Indonesia. Perusahaan menargetkan pengembangan layanan estetika medis terpadu dengan tetap mengutamakan standar medis, edukasi pasien, konsultasi yang transparan, serta perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. (ibs)

















