INDOPOSCO.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat kompetensi dan profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM) perikanan tangkap melalui percepatan sertifikasi awak kapal perikanan di atas 300 GT. Langkah strategis ini diwujudkan melalui peluncuran Simulator Penangkapan Ikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang untuk mendukung modernisasi sertifikasi sesuai Amandemen STCW-F 2024.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) I Nyoman Radiarta menegaskan, percepatan sertifikasi ini menjadi kebutuhan mendesak seiring perkembangan armada perikanan tangkap dan meningkatnya tuntutan standar keselamatan pelayaran. Awak kapal perikanan tidak hanya dituntut memiliki pengalaman lapangan, tetapi juga harus menguasai teknologi dan memenuhi standar kompetensi internasional.
“Percepatan sertifikasi harus kita lakukan dengan tetap memastikan kualitas dan standar kompetensi. Awak kapal perikanan tidak hanya dituntut memiliki pengalaman bekerja di kapal, tetapi juga harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan standar internasional,” ujar Nyoman di Karawang, Kamis (1/10/2026).
Nyoman menjelaskan, penguatan sistem sertifikasi perlu diikuti dengan transformasi metode pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi. Kehadiran simulator memberikan kesempatan bagi peserta untuk berlatih menghadapi situasi navigasi hingga kondisi darurat secara aman, terukur, dan terkendali tanpa selalu bergantung pada ketersediaan kapal latih.
Di tingkat nasional, tata kelola pengawakan dan sertifikasi ini diperkuat lewat Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 Tahun 2026. Regulasi tersebut memberi kepastian hukum agar implementasi standar kompetensi berjalan secara konsisten di seluruh unit pendidikan dan pelatihan perikanan di Indonesia.
Selain di Karawang, kegiatan percepatan pelatihan dan pengujian sertifikasi Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan (ANKAPIN) serta Ahli Teknika Kapal Penangkap Ikan (ATKAPIN) ini juga digelar serentak di Ambon, Bitung, dan Banyuwangi. Program ini sekaligus mendukung transformasi satuan pendidikan tinggi KKP menjadi Ocean Institute of Indonesia.
“Dengan simulator, peserta dapat melakukan latihan secara berulang dengan berbagai skenario. Hasil latihan juga dapat dievaluasi secara lebih terukur, sehingga proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi benar-benar membangun keterampilan dan kemampuan mengambil keputusan,” jelas Nyoman.
Ke depan, BPPSDM KP akan mendorong pemanfaatan teknologi simulator secara terintegrasi di Balai Pelatihan Kelautan dan Perikanan serta Politeknik KP di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil guna menyetarakan fasilitas praktik dan menghapus ketimpangan kualitas lulusan antarwilayah.
“Yang kita bangun bukan hanya simulator, tetapi ekosistem pelatihan dan sertifikasi yang modern, terstandar, dan mampu menjawab kebutuhan sektor perikanan tangkap. Kita ingin SDM perikanan tangkap Indonesia semakin profesional, kompeten, dan berdaya saing, dengan tetap menempatkan keselamatan sebagai prioritas,” tegas Nyoman. (ney)















