INDOPOSCO.ID – Celah pasokan biomassa nasional masih membayangi target transisi energi. Di tengah ancaman titik jenuh limbah siap pakai yang tertahan di angka 2,4 juta ton, Indonesia masih membutuhkan sekitar 7,6 juta ton biomassa demi mengejar target cofiring Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Menjawab tantangan besar ini, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menawarkan gebrakan berbasis akar rumput, yakni BIODES (Biomassa dari Desa).
Inovasi terintegrasi yang menggabungkan potensi desa, pertanian terpadu, hingga rantai pasok modern ini dipaparkan dalam Knowledge Hub Enlit Asia MKI Electricity Connect 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang.
Digawangi oleh tim PLN EPI, BIODES hadir mengubah lanskap, dimana desa bukan lagi sekadar penyedia bahan baku pasif, melainkan aktor utama dalam ekosistem produksi.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan menegaskan bahwa BIODES dirancang untuk menciptakan dampak berganda yang melampaui sektor ketenagakerjaan.
“BIODES merupakan wujud komitmen PLN EPI dalam membangun ekosistem biomassa yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Mamit dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
“Dengan mengintegrasikan potensi biomassa desa, pertanian terpadu, serta rantai pasok yang terkelola, kami berupaya menghadirkan pasokan biomassa yang berkualitas dan berkelanjutan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mendukung transisi energi Indonesia,” sambungnya.
Untuk membangun pasokan yang presisi, PLN EPI mengusung enam pendekatan utama: optimalisasi potensi desa, penanaman tanaman energi tumpang sari, rantai pasok spoke-hub, peningkatan mutu produk, digitalisasi marketplace, hingga integrasi industri.
Officer Strategi dan Pengembangan Bisnis Biomassa PLN EPI sekaligus perwakilan tim BIODES, Khalda Az Zahra menjelaskan bahwa kunci keunggulan BIODES terletak pada harmonisasi antara energi dan pangan.
“Melalui BIODES, kami ingin mengoptimalkan potensi biomassa yang ada di desa sekaligus membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi. Tidak hanya mengandalkan limbah yang sudah tersedia, BIODES juga mendorong penanaman tanaman energi secara tumpang sari dengan tanaman pangan, sehingga aspek keberlanjutan pasokan biomassa dapat berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat desa,” ujar Khalda.
Uji sahih inovasi ini telah membukti tajinya di Kabupaten Cilacap sejak 2023 di atas lahan marjinal seluas 106 hektare. Mengusung skema konsolidasi SUB-HUB dan HUB, seluruh rantai kerja—mulai dari sosialisasi, budidaya, olahan BUMDes, hingga pengiriman ke PLTU Adipala—terhubung secara digital.
Dampak konkret dari model ini tidak main-main. Skema ini diproyeksikan mampu menghasilkan tambahan pasokan biomassa hingga 15.000 ton per tahun sekaligus memberikan dampak ekonomi yang signifikan melalui keterlibatan 330 petani, penciptaan 25 lapangan kerja baru, dan potensi tambahan pendapatan bagi petani kecil hingga Rp100.000 per hari. Dari sisi kelestarian lingkungan, pemanfaatan biomassa ini berkontribusi nyata terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca yang diperkirakan mencapai 6.750 ton CO2e.
Di tingkat tapak, tanaman energi seperti gamal dan kaliandra terbukti menjadi jaring pengaman ekonomi. Kepala Desa Keleng, Arsidi, mengakui peran vital program ini saat warganya dihantam cuaca ekstrem.
“Akibat musim yang tidak menentu, tahun ini kami mengalami gagal panen jagung. Alhamdulillah dengan adanya penanaman gamal dan kaliandra dapat menjadi tambahan pendapatan kami di kala musim paceklik,” ujar Arsidi.
Berangkat dari sukses Cilacap, PLN EPI siap mereplikasi pilar BIODES ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga luar Pulau Jawa. Target akhirnya jelas, 100 desa terintegrasi yang siap menyokong bisnis beyond kWh.
Langkah ini mempertegas komitmen ESG (Environmental, Social, and Governance) PLN EPI sekaligus menjawab target global SDGs (khususnya SDG 7, 8, 13, dan 15). Lewat BIODES, biomassa tak lagi sekadar substitusi batubara, melainkan mesin baru penggerak ekonomi kerakyatan Indonesia. (her)















